Ceritaku Tertinggal di Kota Tua

Oleh : Angghie Gerardini

                Langkahku terhenti. Peluh di dahiku berjejer rapi. Aku mengusapnya perlahan, hati-hati. Menghindari luka yang masih basah ini. Aku menarik nafas dalam, menghembuskannya ringan. Seolah melepaskan segala beban.

Tuhan memberiku jalan. Jalanku pulang ke kota tempatku dilahirkan dan sempat dibesarkan. Kubenahi posisi ransel di bahuku. Kukalungkan kamera kuno pemberian ayah dulu. Mulai kuatur lagi nafas dan melangkah menyusuri jalan-jalan yang membawa memori masa kecilku lepas.

Permata Asia, ayah pernah bercerita ketika mengajakku berkeliling bersepeda. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas lima. Kata ayah, “Ini permatanya Asia, Nak,” ujar ayah sumringah ketika itu. Senyumnya lepas. Sedang aku, masih menunggu kelanjutannya bersejarah tentang tempat ini. “Dulu, hmm, kalau tidak salah abad ke-16 atau 17, para pelayar dari Eropa menamai wilayah Kota Tua ini sebagai Permata Asia. Karena Jakarta pusat perdagangan di Asia yang paling strategis letaknya, lanjutnya kemudian. Setelah itu mengalirlah dialog ringan di antara kami, tentang sejarah Jakarta, tentang apa saja. Ayah itu guru, sekaligus sahabatku. Beliaulah tempatku belajar apa saja, termasuk tentang kehidupan yang harus kutempa sebagai seutuhnya lelaki dewasa.

***

Aku mengabadikan potret beberapa lelaki tua tampak ringan mengayuh sepeda ontelnya. Entah kemana tujuan mereka. Mereka sejalan, bersisian, tapi mungkin tak satu tujuan. Seperti kehidupan sepasang cucu Hawa dan Adam yang ditakdirkan uhan, pun satu keluarga yang disatukan dalam ikatan keturunan. Bersama, bersisian, sejalan, tapi seringkali jatuh tengkar sebab perbedaan tujuan pun alur menuju tujuan. Aku seperti dibawa tenggelam lagi dalam problema keluarga yang berhasil membuatku mati rasa.

Kokohnya Museum Fatahillah tak henti membuatku terpesona. Sejak aku balita hingga kini melebihi kepala dua. Aku tak pernah alfa mengaguminya. “Ini dibangun sejak tahun seribu enam ratusan, Ma. Sampai sekarang, coba lihat. Masih kokoh kan? Kita sebagai manusia juga harus sekokoh itu. Tuhan menciptakan kita untuk menjaga semesta dan semesta tidak akan terjaga dengan manusia-manusia yang mudah putus asa,” ujar Ayah ketika aku mulai memasuki remaj. Ketika itu Ayah sengaja memintaku mengantarnya ke tempat ini – tempat kami biasa berbagi; tentang rasa, hidup, dan mimpi.

Sekali lagi, kutarik nafasku berat. Kujatuhkan pandanganku pada bebatuan bulat yang bersandar manis di atas akar pohon kelapa. Lalu kuputuskan untuk duduk sejenak. Memoriku liar berlarian. Ayah. Sejak tadi hanya ayah dan tempat ini. Dulu, kami tinggal tak jauh dari tempat ini, itu salah satu alasan kami kerap kali menghabiskan waktu luang di sini. Ibu. Ibu pergi meninggalkan kami saat usiaku baru menginjak angka kelima. Samar-samar aku ingat, Ibu yang bergegas merapikan tas dan berpamitan sopan pada Ayah. Ayah hanya mengangguk dan memelukku erat. Sangat erat. Hingga kini tak pernah kucari tahu mengapa Ibu pergi. Aku sungguh tak ingin tahu. Meski waktu membuka jendela-jendelanya dan memaparkan segalanya ketika aku mulai dewasa. Setelah Ayah tenang dalam rengkuhan Tuhan di surga.

Setelah kepergian ayah, kuputuskan melanjutkan hidup jauh dari kota ini. Di suatu kota kecil yang kuanggap mampu menenangkan gaduhnya emosi setiap kali mengingat tempat ini. Di sini, segala cerita tentang cita-cita kutabung di saku telinga ayah. Ayah selalu mengamini mimpiku dan aku yakin Ia tanam mereka dalam do’a-do’a panjangnya. Di sini, ayah memberiku pelajaran tentang dunia, semesta, dan apa saja. Di sini pula, tanpa sepengetahuanku Ibu sempat menemui Ayah – memintaku kembali. Di sini pula pertengkaran hebat dalam senyap itu terjadi. Hingga akhirnya debar jantung Ayah tak mampu mengimbangi emosi dan memaksa Ayah pergi. Pergi.

Aside | This entry was posted in @njiegerardini, Cerpen and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s