Disfungsi Hati

Oleh: Angghie Gerardini A.

“Tok… tok… tok… tok… tok…”

            Kualihkan pandanganku. Sepasang pantofel mengkilap biru menghantak-hentak lembut di kaki bangku kayu. Sejurus kemudian kularikan pandanganku pada si pemakai sepatu. Seorang wanita. Mungkin usianya sekitar dua puluh dua hingga dua puluh lima. Memakai setelan kantor berwarna senada dengan sepatunya. Rambutnya hitam legam, sedikit bergelombang, panjang. Wajahnya cukup ayu, saying sepasang matanya penuh pandangan kosong dan sayu. Seperti berat memikirkan sesuatu.

            Ia mengangkat wajahnya yang mulanya tertunduk lesu. Membalas pandangan penuh pertanyaanku. Ia gigit bibir bawahnya yang merekah. Ia bulatkan matanya ke arahku. Ia sedikit terperanjat. Kaget sesaat. Menatap lamat-lamat.

            “Hmm, maaf. Saya nggak punya maksud jahat ko, Mbak. Cuma bingung aja dari tadi ngeliat perempuan masih di pinggir jalan jam segini,” jelasku hati-hati

            “Kamu pikir saya…”

            “Eh, bukan, bukan. Justru karena Mbak terlihat seperti perempuan baik-baik dan masih di pinggir jalan jam segini, makanya saya bingung,” sengaja kupotong kalimatnya yang belum selesai. Meluruskan.

            Ia rengkuh hand bag kulit hitamnya. Kulirik sekilas. Bermerek. Merek mahal pula dan jelas sekali itu asli. Aku mungkin bukan budak fashion, tapi kakak perempuanku yang gila fashion memaksaku secara tak sadar mampu mengenali barang-barang mahal. Wanita di sampingku sepertinya tergolong orang yang cukup mampu, bahkan jika diperhatikan dari pakaian dan pembawaannya yang elegan, bias kupastikan ia tergolong sosialita. Wanita berkelas.

            Ia bergegas. Berdiri lalu melangkah menjauhiku. Aku hanya bisa diam mengamatinya dari belakang. Logikaku memang dijalari pertanyaan ketika melihatnya, tapi sungguh aku tak peduli dan tak ingin tahu apapun urusannya. Lalu kualihkan lagi pandanganku ke jalanan yang masih dirayapi kendaraan. Meski jumlahnya tak sepadat siang pun petang yang memadati jalan, tapi terlihat kota ini masih hidup padahal sudah lewat tengah malam.

            “Selesaikan urusanmu sendiri. Biarkan Ibu dengan jalan Ibu, kamu dengan jalanmu.”

            “Hidupku masih panjang, aku masih muda. Aku bebas dekat dengan Naren, Fiko, Wandi, Donny, atau siapapun. Aku punya hak untuk memilih. Jangan ikat aku. Tak ada kata serius sebelum pernikahan. Cepat putuskan kapan akan melamarku atau siapkan hatimu untuk kehilanganku.”

            Masih terngiang jelas dua mantra hebat dari dua wanita yang begitu kuagungkan. Alma, Ibuku. Alya, pacarku. Mungkin tak ada rasa yang salah, hanya terkadang jatuh pada orang yang salah. Ibu. Sedikitpun tak pernah kukira akan menjauhiku ketika seluruh kehidupannya berubah. Begitu juga Alya, setelah mengenal dunia luar yang lebih luas, ia tak henti mendewakan materi. Menuntutku itu dan ini. Bahkan memberi syarat yang sudah pasti tak mampu kupenuhi dalam waktu dekat ini. Melamarnya menjadi isteri, menikahinya dengan pesta glamor seperti pangeran yang mempersunting tuan puteri.

            “Menunggu seseorang?” pertanyaan seorang lelaki tua menyadarkanku.

            “Oh, tidak, Pak,” jawabku seadanya tanpa menghilankan kesan ramah dengan senyum yang kuberikan untuknya.

            “Hidup. Teka-teki. Misteri, Nak. Jangan buat itu menjadi rumit. Jangan biarkan Ia merayapi pikiranmu,” nasehatnya mengalir seolah mampu menjawab pikiranku.

            “Hanya terkadang banyak hal yang membuat kita jadi trauma dan akhirnya … mati rasa,” jawabku.

            “Hahahaha,” Bapak Tua itu terbahak hingga terguncang bahu rentanya. Kemudian melanjutkan kalimatnya, “Hei, Anak muda. Kita laki-laki. Kata orang, laki-laki itu tonggaknya negeri. Laki-laki itu pemimpin. Jangan sampai kita dilemahkan perempuan.”

            “Mereka tidak melemahkan, tapi…”

            “Tapi harusnya melengkapi. Mereka ada untuk menggenapkan rusuk kita. Bukan menindih rusuk yang sudah ada ataupun diinjak rusuk yang sudah ada. Menggenapkan, menemani kita dalam langkah panjang. Bersisian tanpa tuntutan. Kewajiban mereka untuk menghormati, kewajiban kita untuk melindungi. Hak mereka untuk dikasihi, hak kita untuk disayangi. Cinta itu abstrak, sulit dinilai, diukur, ditebak. Cobalah isi semua dengan kasih saying. Hadapi penuh kedewasaan dan keikhlasa. Kedewasaan itu rahim dari segala ketenangan,” paparnya panjang lebar. Aku, hikmat memperhatikan. Meresapinya dalam-dalam.

            Kuteguni aspal kasar jalanan. Menarik nafas panjang, menyimpannya sejenak dan menghembuskannya perlahan.

            “Satukan ini dan ini dengan porsi yang seimbang,” lanjut Pak Tua kemudian sambil menunjuk dada dan pelipisnya dengan telunjuk keriputnya. Ia tersenyum dalam lalu berlalu tanpa kata perpisahan. Seperti saat ia datang, menyapaku tanpa perkenalan.

            Salah. Hatiku yang salah. Banyak perubahan besar yang membuat logikaku makin rapi, sedangkan hatiku seperti makin tak berfungsi karena rasa hunjaman rasa sakit bertubi-tubi.

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s