Terlewatkan

Terlewatkan
Dian Megawati

***

8 Agustus 2010

Aku tidak begitu mencintainya, tapi dia membuatku merasa dicintai.
Tuhan, lancarkan langkahku dan Mas Arya. Semoga dia bisa menjadi suami yang baik.

***

25 Januari 2010

“Mas Rizal, kangen..”

“Cari yang lebih pantas untuk dikangenin sana”

“Mas…”

Sialan! Kamu pikir aku robot yang bisa kamu program harus kangen sama siapa?

***

10 Januari 2010

Kita cuma sepasang kesepian yang berusaha saling menghibur.
Hatinya yang patah perlu perbaikan, dan aku adalah kosong yang ingin dipedulikan.
Tuhan, aku benar-benar jatuh hati pada lelaki ini. Lelaki yang sudah kukenal 2 tahun ini.

“Aku sayang kamu” bisikku pada mas Rizal, sambil memeluknya

“….”

Tidak aja jawaban, hanya tangannya saja yang mengusap lembut kepalaku, lalu kami berpisah di stasiun kereta api ini.

Sampai jumpa..

***

12 Juli 2009

Sepertinya aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Ah, enggak! Ah, iya! Duh..

Mas Rizal sudah punya kekasih Ran!

Sadar.. Plak!

***

Halaman demi halaman buku hariannya kubaca. Calon suami Rani, Arya, yang memberikan buku hariannya kepadaku. Aku hanya bisa bersimpuh, menangis di depan kakinya yang perlahan-lahan membeku.
Sepertinya aku melewatkanmu, Ran. Maaf..


Setiap pertemuan yang disia-siakan, akan meyuburkan ladang kekecewaan. Semoga aku bukan perihal yang kamu lewatkan

This entry was posted in @me_gaa, Flash Fiction. Bookmark the permalink.

2 Responses to Terlewatkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s