Ijinkan Aku Memekik Perih Kali Ini

Tuhanku, aku yakin Kau pasti tahu bagaimana pedih ini mengerih. Aku yakin Kau pasti tahu bagaimana aku menahan selaksa duri yang memenuhi hati yang remuk nelangsa ini.

Alasan aku menulis surat ini tak lain hanya ingin melunakan arca-arca sesakku yang hampir mati. Mencairkan sesak-sesak yang berjejalan di pangon hati yang nelangsa sepi. Aku menulis surat ini bukan untuk dikasihani pun memunguti simpati. Aku menulis surat ini semata-mata untuk memekik dalam suara-suara yang nyaris mati.

Tuhanku, tiada yang paling tahu sejatinya aku kecuali Engkau. Tiada yang paling tahu alur kisahku yang hakiki kecuali Engkau. Tiada yang paling tahu apa yang terjadi kecuali Engkau. Hanya Engkau, Rabbku.

Terpekur aku dalam sepi yang bungkam. Enggan melawan beberapa dusta yang beliau umbar. Membiarkan mereka menelan kisah yang dijabarkan. Aku tak mengelak, beberapa hal adalah benar adanya. Namun banyak kisah yang cuma umbar kosong sifatnya. Hatiku mengerih tiada habisnya.

Ibuku, ampuni aku yang berjelaga dosa sebab dusta yang pernah mencipta luka. Ampuni aku yang acap kali tak mampu memerangi emosi yang berfluktuasi tak pasti. Ibuku, engkaulah pelangiku yang (dulu kurasa) tak pernah mati. Ijinkan aku menciumi surgaku dalam mimipiku. Ibuku, adakah kautahu bagaimana merindunya aku? Merindukan dekapan waktu yang memanjakan kebersamaan kita dulu.
Ibuku, maaf bila aku lancang, tanyakan pada hatimu, adakah tiap pernyataan yang kauumbar adalah benar? Aku memeluk diam karena terlalu letih membangkang, membangkang sebab mempertahankan sesuatu yang kutahu benar.
Ampuni aku yang kerap kali iri, sensitif dan mudah sakit hati. Ampuni aku tak mampu mengendalikan diri. Sungguh tak pernah ada niat menyakiti, akupun merasa sakit setengah mati. Pedih mengerih tiada henti yang selama ini kusesap sendiri.
Ibuku yang kucintai, aku menghargai keputusanmu mengayuh biduk baru dalam babak hidupmu. Aku turut menumbuhkan bibit bahagia di dadaku yang lara melihatmu merona. Adakah kautahu itu, Bunda?
Ibuku, tahukah Ibu aku menahan sesak perih ketika Ibu mengumbar cerita pada tiap orang berbeda? Cerita yang tak sepenunya benar adanya. Adakah Ibu tahu aku meringis mengiris tangis? Ketika Ibu menanam berratus keping prasangka di hatiku yang terlanjur luka.
Ibuku, mungkin aku lancang bila kubilang ini karma yang menghadang. Tapi cobalah menatap diri ke belakang sebagai cerminan. Apa yang Ibu lakukan pada Nenek dalam jejak yang tertinggal? Ketahuilah, Nenek memaparkan padaku berpuluh kisah tentangmu dalam bingkai kenang yang kusam. Ampuni aku yang tanpa sadar megikuti jejakmu dalam kenang.
Ibuku, empat belas tahun hidup bersama ayah kurasa membuatmu mengenali ayah hingga rusukmu. Kenapa masih memaksaku hidup bersama ayah dan keluarganya? Kautahu betul bagaimana luka ini menganga.
Ibuku yang kucintai, adakah kautahu perih ini memekik ketika kauagungkan pendampingmu, buah hatinya, dan buah hati kalian? Aku tahu betul, beliau malaikat perekat sayap-sayapmu yang terkulai. Aku tahu betul, beliau sosok yang paling kaucintai kini. Adakah kautahu perih ini meringis ketika kauutarakan keputusan terindah adalah hidup bersamanya dan lelah telah melewati hidupmu bersama kami anak-anakmu yang kauanggap menyiksa. Adakah penderitaan itu benar adanya? Betapa durhakanya kami, Bunda.
Tuhanku, Engkau yang paling tahu. Aku merebahkan seluruh lelahku. Mengembalikan semua padamu, Rabbku.
Tuhanku, bila memang aku muaranya seluruh dosa, ijinkan aku merengkuh selaksa ampunan yang nyata.
Rabbku, engkaulah yang paling mengenaliku. Sejatinya aku. Aku membenam diam enggan lagi mengurai argumen tak beraturan yang mengitariku.

Rabbku, dosakah bila kuberpeluh keluh? Dosakah aku bila merebah lelah?

Tertanda,

Aku yang tiada henti menangisi perih tak bertepi.

This entry was posted in @njiegerardini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s