Petikan Hati di Bawah Mentari

Assalamu’alaikum, Ma’e sayang…

Akhirnya kucuri waktuku untuk menulis surat ini, pembuluh rindu dari hati yang sepi. Sengaja kupetikan satu pagi untuk rindu yang urung menepi. Semoga saat Ma’e membacanya, tak berlinang air mata seperti saat kita bertukar sapa dan kabar lewat suara.

Ma’e, nenekku tersayang, aku sangat berharap Ma’e dalam keadaan sehat dan bugar ketika membaca surat ini. Sesehat ketika kita terakhir kali bertemu enam bulan lalu. Pun Kakung, semoga kesehatannya tak menurun. Do’a-do’aku tak ada habisnya untuk Ma’e dan Kakung di sana.

Ketika kutulis surat ini, sungguh tak mampu lagi kusembunyikan tunas-tunas rindu yang tumbuh makin rimbun di hatiku. Seperti anak-anak hujan yang menari riang di bawah telaga langit yang menggenang, menantikan pelangi datang. Seperti itulah serbuan berratus rinduku, menantikan pagi yang mengantar kita dalam suatu temu haru.

Ma’e sayang, ketika Ma’e membaca surat ini semoga tidak sedang menyeka banjiran peluh. Peluh yang mengalir dari wajah cantik yang mulai menua. Pun Kakung, semoga tidak sedang melakukan hal yang sama; menghapus lelah di wajah tegas yang mulai dirayapi kerutan senja. Ini waktunya Ma’e dan Kakung beristirahat, duduk manis menikmati hari tua. Boleh sesekali melihat keadaan toko sepeda dan kebun jati di ujung desa, tapi bukan berarti menghabiskan seluruh waktu mengurus segala sesuatu di sana. Mungkin ada baiknya memilih orang terpercaya untuk sementara menyelesaikan segala sesuatunya. Sebelum masa mengabulkan permintaan Ma’e dan Kakung untuk kepulanganku ke kampung halaman tercinta.

Maafkan cucumu yang tidak sempat pulang saat Idul Fitri lalu. Ma’e sangat tahu keadaanku, kan? Harus membagi waku dengan keluarga Ayah di kota ini. Meski pada akhirnya aku tinggal terpisah dari Ayah dan keluarganya, Ma’e pun tahu betul apa alasannya. Ketika menulis surat ini, aku sedang menikmati sisa kebersamaan bersama Ibu. Sebelum akhirnya beliau pindah ke kota kembang akhir bulan nanti dan aku akan benar-benar merasa sendiri di kota ini. Sendiri, ah, kuharap tidak🙂 Kita akan bertukar sapa dan kabar setiap malam, bukan?

Ma’e sayang, hanya ma’e yang benar-benar mengerti dan mengenali aku dengan apa adanya diriku. Mimpi terbesarku adalah menghabiskan seluruh waktuku bersamamu. Masih jelas terasa kecupan lembut di dahi dan pipiku setiap pertemuan kita. Cokelat sehangat dekapmu di setiap pagi dan senja yang merayapiku dengan damai tiada habisnya. Wejangan-wejangan yang meninabobokanku setiap malam tiba. Pun gurauan di celah kunang-kunang yang memayungi tubuh anthurium dan kenanga. Aku mencintai seluruh caramu mencurahkan cinta.

Cucumu ini sadar betul, jauh sekali dari kata ananda soleha. Emosi yang mudah berfluktuasi hingga kadang sulit bagiku mengendalikan diri menghadapi pancingan-pancingan di sekitar tempatku berdiri. Tapi sungguh, tak pernah sampai hati aku meluapkan titik-titik emosiku padamu. Karena memang engkaulah sejatinya kelembutan dan cintaku.

Ma’e tahu? Seringkali wajahku tergenang kesedihan dan penyesalan setiap usainya pertengkaran aku dengan Ibu atau Ayah. Aku ini pendosa yang diam-diam tak pernah berhenti berdo’a untuk kebahagiaan mereka. Ingin sekali memelukmu dan menumpahruahkan seluruh air mataku hingga ujung isakku. Sungguh, segala yang kulakukan terkadang kusadari sebagai bentuk pemberontakan. Kekanak-kanakan sekali, bukan? Tapi itu yang kurasakan. Ego acapkali menolak paparan hati dan logika yang jalan bersisian. Sudahlah. Aku menulis alinea ini bukan berarti sedang kunikmati tiap isakku ya🙂 Aku hanya ingin membagi sebagian rasa yang selama ini sulit sekali kukeluarkan. Mulai sekarang akan kutelan saja segala prasangka siapa pun terhadapku. Hanya Allah, Ma’e, dan diriku sendiri pastinya yang mengenali bagaimana sejatinya aku. Aku janji tak kan lagi terpancing emosi dan mulai menikmati hari-hari. Aku tak ingin lagi ada luka menganga di tubuh hati. Tak ingin lagi ada lebam baru yang mewarnai tubuh dan wajah ini. Tenanglah, aku pasti menjaga diri dan hati dari benci. Toh aku sudah memisahkan diri.🙂

Ketika menulis surat ini, sedang kurajut benang-benang sunyi untuk kupajang di dinding hatiku yang dipenuhi nafas angin ringkih. Terkadang mengerih. Menahan rindu yang mencumbui pedih. Rinduku pada Ma’e dan Kakung tak hentinya merintih.

Wah, suratku terlalu panjang ya? Hehehe.
Ma’e, tenang saja di sana. Aku selalu sehat di sini. Kuliah dan pekerjaan berjalan lancar berdampingan🙂 ya, meski terkadang kejaran waktu membuatku kewalahan. Terima kasih untuk seluruh perhatian, cinta, dan do’a yang tiada habisnya. Ma’e dan Kakung jaga kesehatan selalu ya, jangan terlalu membanjiri diri dengan peluh. Banyak-banyaklah beristirahat. Ketahuilah, do’a dan cintaku untuk Ma’e dan Kakung mengalahkan luasnya samudera atau cakrawala, tiada tepinya. Tolong sampaikan seluruh rindu dan cinta untuk Kakung juga yaa🙂

Tertanda,

Cucumu yang terlalu mencintaimu…

This entry was posted in @njiegerardini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s