Alinea-alinea untuk Lina dan Ardila

Selamat pagi, sayang-sayangku…
Sudah bangun? Ah, pastinya belum๐Ÿ˜€ Lince-Lina-, jelas kulihat masih terhanyut dalam mimpi berkabut. Sesekali menggeliat menarik selimut. Sedangkan Bocil-Dila-, kurasa masih memejamkan mata juga. Terjaga dari jingga yang sebenernya terlewatkan sia-sia.

Ketika kutulis surat ini, ada rindu yang menjalar serupa perdu di hatiku. Padahal, kemarin kita habiskan seluruh senja dan separuh malam bersama ya? Bagaimana perasaan kalian pagi ini? Apakah sesendu yang kurasakan?๐Ÿ˜ฆ

Cantik-cantikku, aku rindu saat-saat dimana kita selalu menghabiskan waktu bertiga. Berkeliling kemana saja; menonton film, berbelanja, hingga duduk-duduk menikmati tenggelamnya surya di barat cakrawala. Aku rindu rasa hampa yang nyaris selalu kita keluhkan karena tak punya pasangan. Tapi sadarkah kalian? Itu hanya keluhan peramai suasana, sebenarnya kita bahagia! Kita bahagia karena bisa melewatkan seluruh waktu bersama. Aku rindu ketika kita nyaris tak pernah mengecap sendu, pun cemburu…

Lince, meski kau masih sendiri, bukan berarti aku sama Bocil pergi. Jangan pernah sungkan bila ingin ditemani, kami selalu ada di sisi.๐Ÿ™‚
Sahabatku tersayang, kamulah tempat ternyaman untuk membagi seluruh cerita. Bukan karena kau selalu melihatku dari sisi yang benar, melainkan karena kau selalu bersikap netral. Membuatku berpikir dalam bila aku memang ada di posisi tak benar. Lince, kaulah cerminku untuk lebih bisa mendewasakan diri. Sosok kuat yang nyaris jarang mengurai airmata penuh berisi. Melihat segalanya dari semua sisi.
Bila memang kau masih sendiri sekarang, bukan karena Allah tak sayang, melainkan merentangkan seribu jalan agar nantinya kau benar-benar mendapatkan seseorang yang memang pantas kau sayang. Sosok berhati cantik sepertimu terlalu sayang untuk disakiti. Hahaha, kalimat ini memang terasa klise, tapi memang itulah kenyataannya.

Bociiiil, sahabatku paling kecil. Eh? :p
Sayaaang, kamu cantik sekali tadi malam. Aku rasa ‘dia’ pun tak bosan memandangmu semalam. Sayangnya, Ia tak memilih untuk lebih lama berdiri menemanimu. Tak tahukah dia bila kau menyimpan rindu?
Bocilkuuu, jangan terlalu lama memendam sendu. Ada baiknya bila Ia tahu apa yang menjadi maumu. Dia bukan lagi orang lain bagimu, bukan? Dia berhak tahu apa yang kau inginkan, Sayang.
Banyak hal sama yang kita rasakan. Itulah alasanku selalu membagi pengalaman. Membagi ceritaku padamu cukup membuatku nyaman. Kedewasaanmu memandang sesuatu terkadang tak pernah kubayangkan. Caramu mendengar dan memberi tanggapan begitu mengesankan. Meski terkadang kau bersikap kekanak-kanakan. Tapi justru itulah sebab rasa sayangku padamu tak pernah mengenal kata bosan.๐Ÿ˜‰

Lince, Bocil. Kalau ada apa-apa yang membuat kalian tidak nyaman, jangan pernah sungkan untuk dikeluhkan, dikeluarkan. Ketahuilah, ada bahagia yang menyusup di hatiku tanpa ragu bila kalian jauh dari kesal, apalagi sendu. Bahagia sekali melihat kalian merasa nyaman, pun melihat kalian mendapatkan apa yang kalian harapkan. Senang sekali mendapati senyum terulum di wajah kalian yang paling ranum, pun melewati gurau tanpa parau, ketika gelak tawa kita membuncah, pecah.

Ya Allah, sudah pukul delapan! Ada baiknya kututup surat ini, bukan? Aku harus bergegas. Banyak yang harus kukerjakan. :p

~ Aku yang menyayangi kalian, tanpa kata selesai dan bosan.

This entry was posted in @njiegerardini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s