Di Balik Bilik Peramal Tarot

Oleh : Angghie Gerardini

Cakrawala menelan senja. Jingga berguguran satu dua. Gemintang menabur dirinya di angkasa yang mempesona. Semempesona gadis dengan tumpukan kartu tarot di tangannya, duduk tenang di dalam biliknya. Membaca garis hidup orang-orang yang mendatanginya sejak bilik dibuka.

Keseriusan merambat perlahan di air muka. Membaca kartu-kartu tarot yang ia buka dengan sengaja. Sesekali bertukar bincang atau canda dengan orang yang diramalnya. Ah, menyenangkan sekali berada di dekatnya. Andai aku bisa.

Andrea, memikatku sejak kutangkap siluetnya senja itu, di punggung panggung sirkusku. Terpaku mengamati tiap gerakku dan kawan-kawanku. Aku tahu namanya dari penjual gulali yang selalu (tanpa sengaja) di sampingnya. Menonton permainan sirkus kami lamat-lamat. Sejak itulah, Rianti lekat di hatiku yang semula pekat.

This entry was posted in Flash Fiction and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s