Sepucuk rasa yang Meringkuk

Kepada : Pelangiku

Ibuku tersayang…
Engkaulah; amin yang setia menanti penggalan do’a-do’a di tiap ujungnya. Di sepanjang nafas yang tak pernah berjeda.
Ranum kamboja merah jambu adalah engkau, Ibu. Bunga yang dinanti jalar dahan, sebab wanginya tak pernah tuntas merebak buku-buku tiap lekukan; engkaulah segala dambaku, sejak dulu.
Engkaulah segala puja, rayapan jingga meratui pangon angkasa. Pelangi cantik peri cakrawala. Pesona seribu rupa.
Ibuku, engkaulah pesona. Meski dijamah usia hingga melebihi empat dasawarsa & kuyup gerimis peluh di hamparan masa.
Engkaulah cahaya, seperti pelita dalam gubuk tua. Hangat yang kekal merayapi lekuk-lekuk jiwa.
Ibu, sejukku yang maha luas. Lalu kucari celah singgah di tepi yang menyimpan kekuatan dalam ruas terumbu bebas; kaulah samudera lepas.
Seperti puisi, tempat diksi-diksi mengistirahatkan diri. Menyetubuhi jiwa-jiwa yang sunyi sendiri. Seperti itulah engkau.
Engkau ibarat sebuah pesanggrahan kekal. Di sana, kulucuti segala bual. Tempat dimana aku berpulang. Membiarkan berhujan ketenangan.
Ibuku, kaulah telagaku yang paling terang. Oase di padang gersang, menunggu para petualang: kami, anak-anakmu. Melipat nafas kami yang mengerang.
Adalah engkau, ibu; benih segala kasih. Membekukan suaraku yang mengerih. Menaklukan selaksa perih. Menyemat gurat damai tanpa pamrih.
Begitulah engkau, untukku, dulu.. Pelangiku, semaian sejuta cinta.. Sebelum sebuah masa dan situasi mebuatmu berbeda. Sebelum kaudera aku dengan perih yang memedih.
Pelangiku, ketahuilah aku mencintaimu dengan cinta yang paling agung. Meski ungkapan itu tak pernah berdengung. Aku mencintaimu tanpa kata-kata, pun sebuah refleksi yang dapat kau baca. Sebutlah aku durhaka, tak pernah tahu cara menunjukkan cintaku yang menggema. Ampuni aku yang berjelaga dosa…
Tapi ketahuilah, aku di sini mencintaimu, bagaimanapun keadaan kita. Meski sempat kupendam keluh, “Bila kau seterik surya; membakar jiwaku tiada batasnya. Lalu, kepada siapa lagi harus kuurai cerita? Kemana lagi harus kulabuhkan segala rasa?”

Tertanda,

Putrimu–yang tiada habisnya mencintaimu.

This entry was posted in @njiegerardini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s