Rindu di Cafe Tujuh Rasa

Rindu di Cafe Tujuh Rasa

Agung panggilan akrabku. Pukul lima sore ini aku janjian dengan Aulia, kekasihku.
“Al, aku otw ya. Jangan telat ya sayang!”
Itulah balasan sms terakhirku padanya.
Sudah tiga puluh menit aku menunggu. Baca majalah, nonton tv dengan puluhan chanel, dan twitteran sudah kulalui. Tapi tetap saja aku menantinya, rindu yang membara.
Ini isapan rokok terakhirku dan Al belum juga datang. Tak ada rasa lelah, namun tetap saja aku menunggunya.
Hempasan angin sepoi pelan, sedikit demi sedikit mengikis tubuhku. Tinggal selapis, dan akupun raib bersamanya.
Sempat kutitipkan hati, kuletakkan saja di atas meja. Tak sempat kutulis pesan untuknya, hanya sebuah kalimat pendek “aku tetap menunggumu.”

This entry was posted in @aizpangeran, Flash Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s