Yang Terlewatkan

Yang Terlewatkan
Dian Megawati

Maaf, Kenanganku terlalu kelam sayang. seperti api dalam sekam yang tak kunjung padam…

***

“Tinton..” Dia menyebutkan nama sembari mengulurkan tangan

“Ir !! itu loh” Bisik Linda sambil menginjak kakiku memberi isyarat

“Oh, Ehh, Umppp iya.. Irma, nama saya Irma” Jawabku setengah gugup, sambil membalas uluran tangan Tinton

Gugup ?

Bukan karena Tinton tentu saja, aku memperhatikannya saja tidak. Mungkin kalau wajahnya setampan Tom Cruise aku tak akan autis seperti ini dengan gadgetku. Aku gugup karena  merasa bodoh tidak memperhatikan Tinton saat mengajakku bersalaman.

Ya, Linda-lah orang yang sangat bersemangat menjodohkanku dengan Tinton. Dan entah kenapa sebenarnya aku kurang antusias. Seperti hari ini misalnya, dia memaksa mempertemukanku dengan Tinton meski berbagai macam alasan sudah kusiapkan, tetap saja Linda kekeuh.

Tinton bukannya tak tampan atau tak menyenangkan, sebenarnya masalahnya ada pada diriku yang belum siap merajut asmara lagi. Terdengar klise, tapi itu kenyataannya.

***

“Tinton tuh suka sama kamu sejak pertama kali kalian bertemu !” celoteh Linda

“T-ta-pii, kamu tau sendiri kan Lin, aku masih belum siap.. AKU TRAUMA!!” Aku coba membela diri

“ah, cinta akan datang dengan sendirinya Ir. Percaya deh, yang penting kamu buka mata dan hatimu lebar-lebar untuk menerima orang lain” Linda menasehatiku panjang lebar

“Oh iya, besok jadi kan kita mau facial bareng ?” Semacam siasatku mengalihkan pembicaraan.

“Arrggghh kebiasaan! aku paling sebel  kalau kamu mulai mengalihkan arah pembicaraan kita” Linda mulai naik darah

Fine ! senjataku  mengalihkan pembicaraan ini cukup berhasil walau membuat Linda sedikit marah. Alhasil Linda segera pamit pulang dan berjanji akan mengatur jadwal pertemuanku dengan Tinton lagi.

Setelah pertemuan pertama kami, Tinton memang mendekatiku. Dia mengejarku, dengan sabar memperhatikanku, mengisi setiap jengkal hari-hariku.

***

Sudah tiga bulan ini Tinton menghilang, mungkin dia mulai bosan denganku yang menanggapinya dengan dingin. Tapi sebenarnya, perlahan dia berhasil merebut hatiku. Kata Linda, Tinton melanjutkan study s2-nya ke Amerika. Dia sengaja tidak memberitahuku karena merasa aku tak membutuhkannya. Dan sekarang, tinggal aku disini sendiri meratapi kebodohanku. Menyia-nyiakan seseorang yang berada di dekatku, terlalu khusyu’ tenggelam dalam kenangan masa lalu. Bulan depan aku akan menyusul Tinton, kupastikan dia akan menjadi pelabuhan terakhirku.

This entry was posted in @me_gaa, Flash Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s