Lareina

Lareina
Angghie Gerardini Andria

Dianta menghisap cerutunya. Menghembuskan tanpa suara. Terasa kehangatan menjalari raga.

Matanya berhenti pada pesona sosok di sudut Orquídea.

“Dia…,” gumamnya.

Dianta melihatnya sejak pertama kali mengunjungi Orquídea. Cantik, artistik. Auranya unik. Membuat Dianta tak berkutik. Hatinya tergelitik.

Namanya Lareina. Dianta sendiri lupa darimana ia mengetahuinya.

Lareina selalu duduk di tempat sama : sudut belakang Orquídea. Berdinding kaca, berlatar belakang anggrek aneka rupa. Lareina hanyut dalam pesona guyuran warna, menikmati indah dalam kesendiriannya. Cokelat hangat di meja beberapa kali saja diseruputnya.

Dianta beranjak mendekat. Ragunya luruh lantak. Membiarkan jantungnya lebih cepat berdetak.

Tiba-tiba… Lareina menjadi fatamorgana. Desir angin melesapnya tanpa kata-kata. Dianta membuta. Beberapa jenak, ia membuka mata. Ia berada dalam dimensi berbeda.

This entry was posted in @njiegerardini, Flash Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s