Berubahnya Wajah Petang

Berubahnya Wajah Petang
Angghie Gerardini Andria

“Kira…,” suara Alden seperti tertahan beban puluhan ton.

Alden membuka matanya perlahan. Sejenak terdiam memandang langit-langit dalam ruang sempit yang masih remang. Dipandanginya jendela di sudut kamar. Ada sinar mentari mulai mencumbui nafas pagi. Alden mulai menyadarkan diri. Setelah menggeliat sekenanya lalu bergegas untuk bersiap berangkat kerja hari ini.

***
Seperti biasanya. Malam tersipu membungkus senyum Alden yang separuh biru. Mengendap diam-diam dalam ruang hati Alden yang kedap. Semacam sebenih rindu. Ah, lagi-lagi itu. Kelopak mata Alden semakin sayu.

“Al…,” rintih seorang perempuan di sela senja.
“Hei, bertahan ya,” Alden berusaha tenang. Tersenyum gamang.
“Al… De…n,” ulangnya.
“Iya, aku di sini,” Alden nampak mulai menahan genang di pelupuk mata yang mulai gersang.

***
“Kira…!” Seru Alden. Penuh euforia.
Nampak rekahan senyum dari perempuan cantik di tepi telaga. Gaun indah menjuntai anggun menambah pesonanya. Mahkotanya yang legam sempurna dibiarkan tergerai, sesekali disentuh angin yang rapuh.

“Kenapa di sini, Al?” Tanyanya pada Alden di celah senyuman, ketika mereka sudah berhadapan.
“Menemuimu, aku rindu,” jawaban tulus Alden menderu.
“Kenapa tak pernah kaukatakan dulu?”
“A…aku…, aku malu, Kira.”
“Tak tahukah kau? Aku menunggu lama untuk itu,” Kira mengalihkan tatapannya pada telaga penuh pesona.
“Maafkan aku, andai saja aku tahu kalau kita akan…,”
“Sudahlah, Al. Kata ‘andai’ tak akan mengubah apa-apa,” tegas Kira, memotong kalimat Alden yang belum tuntas.
“Aku menyayangimu, Kira. Sejak dulu,” pernyataan pilu Alden benar-benar membuat lidahnya sendiri kelu.
“Aku tahu, Al. Aku tahu. Apa kaukira aku tak merasakan hal yang sama? Aku diam bukan berarti aku tidak memiliki rasa senada. Aku diam karena aku menunggumu menyatakannya,” nada suara Kira makin mengerih.
“Maafkan aku, Kira…,” lirih Alden tak kalah perih.

***
Titik-titik embun menguliti pagi. Purnama mulai menggeser diri. Alden masih terjaga hingga lepas dini hari.

Alden seperti enggan menemui mimpi. Mimpi yang menemaninya semenjak tiga tahun Kira pergi. Pergi ke dimensi abadi. Mimpi-mimpi yang membawanya pada malam-malam bersama Kira; kenangan dan pesan terpendam Kira. Mimpi-mimpi yang menjadikan Alden petualang sunyi. Mimpi-mimpi yang menhunjam penyesalan di karang hati.

Alden bergegas. Menyambar jacket hitam dan kunci motornya. Keluar kamar sampai lupa berpamitan. Mengendarai motor seribu kali lebih cepat dari kuda di pacuan. Hingga tiba di depan sebuah nisan.

Alden membawa langkah rapuhnya mantap. Menapaki jalan setapak dengan sendu sesak. Alden terduduk beku. Menatap nisan batu dengan tulisan :

Kirana Prabu bin Soehardjo Prabu
Lahir : Jakarta, 6 Juli 1989
Wafat : Bandung, 7 Juli 2010

Secawan mata air raga meruah. Menggenang di pelupuk basah. Dentingan sendu sesal mendesah.

“Kirana, aku menyayangimu. Sungguh…, aku sangat menyayangimu. Sengaja aku mengajakmu menyambangi petang. Seharusnya, di sanalah pengakuan ini sebenarnya datang. Tapi Tuhan terlalu sayang, Ia lebih dulu menjemputmu untuk pulang saat kau menyebrang. Ah, bodoh. Semestinya saat itu aku di sisimu, Sayang,” suara Alden penuh sesal. Saling silang dengan kesedihan berkepanjangan. Lirih sekali, nyaris tak terdengar. Satu-satu air mata menjilati sisi wajahnya.

“Maaf, membuatmu menunggu lama. Aku hanya menata waktu untuk menyampaikannya. Butuh waktu untuk menepikan sungkan dan memantapkan keberanian,” lanjutnya. Masih dengan isak berselingan.

Mentari mulai merayapi dada langit. Sinarnya mengguyur Alden yang mematung di depan nisan; berusaha menyudahi penyesalan

This entry was posted in @njiegerardini, Flash Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s