Hantu Balai Sarbini

Hantu  Balai  Sarbini
Diki Umbara


Empat puluh tujuh menit lagi menuju tengah malam. Di lantai tiga Balai Sarbini kami berdesakan keluar dari pintu ruang pertunjukan. Aku, Linda dan Novi baru saja menyaksikan langsung konser musik. Ternyata untuk acara televisi yang durasinya 30 menit, membutuhkan waktu lebih dari 4 jam untuk pengambilan gambarnya. Tapi demi melihat langsung penyanyi favorit kami, tak apa lah kami pulang hampir tengah malam seperti ini.

“Gila ya Nov, ternyata Gamalku itu aslinya lebih ganteng dari di tv”

“Ah, kerenan juga Afghan. Apalagi pas pake jaket coklat itu.”

“Tapi yang paling top suaranya Giring dong! Apalagi pas nyanyi tadi seperti menatap ke aku gitu”

“Ah, dasar lo Lin! Eh, perhatiin ga waktu penari yang paling ujung kiri itu hampir kepeleset. Kalau gue yang nge-dance pasti lebih keren.”

Kami tergelak bersama sampai tak sadar mulai terpisah dari arus penonton remaja lainnya. Seharusnya kami berjalan mengarah ke mall, tapi koridor yang sebagian besar gelap tanpa petunjuk arah membuat kami kebingungan.

“Liftnya ada di sebelah mana ya?”, aku mulai gelisah tak nyaman.

“Kita salah belok tadi. Balik lagi aja yuk! Bingung gue. Siapa tau kita ketemu sama crew”

Ini bukan pertama kalinya aku datang ke Balai Sarbini, terutama mall yang tersambung dengan lorong gedungnya. Aku hapal setiap belokannya, tapi itu di siang hari ketika seluruh outlet di mall ini buka. Tapi sekarang hingar bingar musik, jajaran manekin, dan pramuniaga yang tersenyum ramah tidak nampak. Hanya ada sunyi, lorong gelap di antara jajaran ruangan berterali besi.

Aku mulai panik. Membayangkan ini adalah tengah malam dan entah seperti apa sambutan ibu dan ayahku di rumah nanti. Aku berbohong menghadiri acara ini karena paduan suara sekolah kami terpilih menjadi backing vocal penyanyi yang tampil malam ini. Toh, seandainya nanti ibu dan ayahku menunggu mukaku tampak di layar televisi, aku bisa berdalih tak semua bisa tersorot kamera. Dan sekarang aku menyesal.

“Eh, kesana! Di sana masih terang! Pasti di sana liftnya!”, Linda menggamit tanganku dan Novi. Setengah berlari kami menuju ke arah yang ditunjuk Linda. Dan bersorak lega ketika ternyata memang benar ada lift di pojok lorongnya.

Sepi. Hanya kami bertiga. Aku memandang Linda yang berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Berusaha tenang menekan tombol panah ke bawah, tapi bibirnya mulai memucat. Sementara Novi terus menerus mengetuk-ngetukan sepatunya sambil memilin-milin rambut lurus panjangnya.

Akhirnya pintu lift terbuka. Kami bergegas masuk, dan hampir serempak menghela napas.

“Kita ke lantai 1 atau LG?” ragu-ragu Linda menekan tombol.

“Mmm…LG”, kataku dengan nada yang tak kalah ragu, “Tapi kok liftnya ke atas ya?!”

Kami saling berpandangan. Novi merapatkan tubuhnya mendekatiku. Kami saling berpegangan sekarang.

“Mungkin masih ada orang di lantai atas” Linda, yang seperti biasa bersikap lebih dewasa dari aku dan Novi kembali menenangkan.

Lift ini pasti sudah tua. Lantainya terasa bergetar saat mulai bergerak ke atas. Rasanya lambat sekali. Aku dan Novi menutup hidung dan mulut kami dengan sebelah tangan kami masing-masing. Lift ini dindingnya kotor dan berdebu. Aku merasa sesak dengan bau apeknya. Ditambah rasa gelisah kami menanti lift ini bergerak turun ke lantai yang kami tuju.

Lampu petunjuk lantai di atas pintu lift menunjukan angka enam. Tiba-tiba lift berhenti dan pintunya berderit terbuka. Kami menahan napas. Kosong, tak ada satu orang pun. Yang tampak hanya lorong yang sangat gelap.

“Ah, ngaco nih Lift! Pencet tombol close-nya, Lin!”, Novi mulai panik.

Linda menekan tombol close. Sekali, pintu tak juga bergerak menutup. Linda menekan berkali-kali lebih kuat lagi. Kami mulai panik. Sementara mataku menatap ke arah lorong gelap di hadapan kami. Linda akhirnya menekan tombol dengan kedua jari jempol tangannya, lebih kuat.

Akhirnya pintu lift bergerak perlahan. Kami menghela napas lega bersamaan. Tapi, tiba-tiba saja pintu lift kembali macet, menyisakan sepertiga lebarnya terbuka.

“Ah, kenapa ini?! Pencet tombolnya, Lin!”, Novi yang biasanya memang pengambil inisiatif di antara kami, mulai kembali panik.

Linda kembali menekan tombol kuat-kuat, sampai akhirnya tak sabar menggeser pintu lift dengan tangannya. Novi mengenggam tanganku kuat, sementara aku hanya bisa kaku menatap lorong gelap di depan.

Akhirnya pintu lift berhasil bergeser menutup. Ruang lift terasa terhentak lalu bergerak ke atas. Aku merasa ruang lift ini terasa lebih dingin. Sepertinya Novi pun merasakan hal yang sama. Tangannya mulai terasa berkeringat di genggamanku. Spontan, kami bergerak mendekat ke arah kanan pintu, merapatkan badan bersama Linda.

Lampu di atas pintu lift menunjukan angka tujuh. Terhentak, lift berhenti bergerak. Kami saling berpandangan. Tiba-tiba saja lampu padam. Kami berteriak histeris bersamaan. Tapi beberapa detik kemudian lampu berpendar dan kembali menyala. Novi menangis sesegukan di lenganku. Aku memeluknya erat, mencoba menahan kepanikanku sendiri.

“Liftnya macet ya, Lin?”, aku menatap pintu yang tak kunjung terbuka. Sementara lift pun tak juga bergerak. Novi menangis lebih keras. Aku sendiri merasa jantung berdetak lebih cepat dan keras.

“Bagaimana ini, Lin?”

Linda bergerak menekan tombol emergency. “Jangan panik! Pasti masih ada orang di gedung ini. Tak mungkin kan crew TV pulang lebih cepat dari kita.” Setengah berteriak, mungkin Linda pun menenangkan dirinya sendiri.

Satu menit, dua menit berlalu. Entahlah, rasanya waktu lama berjalan. Kami pun akhirnya terduduk di lantai. Lemas. Sementara Novi masih saja terisak sambil meracaukan entah apa. Tak terdengar jelas lagi di sela isakannya.

Berkali-kali aku spontan menolehkan pandangan ke pojok belakang lift. Ada yang aneh. Aku merasa ada sosok yang berdiri memperhatikan kami di situ. Tapi tentu saja tak tampak apa pun.

Tiba-tiba lift terhentak kembali. Kami berteriak histeris untuk ke sekian kalinya. Perlahan pintu lift mulai bergeser, berderit-derit perlahan.

“Pertolongan datang”, teriak Linda. Aku tegang menahan napas. Pintu itu pelan sekali bergerak. Linda kembali berusaha menggeser pintu dengan tangannya. Sementara aku merasa tubuhku mulai terasa kaku. Tangan kananku mulai kesemutan. Novi mencengkramku terlalu erat.

Pintu lift akhirnya terbuka lebar. Kami terpaku menatap lorong yang sangat gelap di depan. Lalu sekelebat cahaya yang sangat menyilaukan mata menyorot kami. Memaksa kami untuk terpejam.

*****

Novi tergeletak tak sadarkan diri. Tubuhnya basah bermandikan keringat. Atau mungkin sebenarnya bukan karena keringat. Suara-suara gaduh mulai masuk ke pendengarannya samar-samar. Matanya terasa berat untuk membuka. Perlahan, dengan sekuat tenaga pikirannya memerintahkan tangan untuk bergerak. Dirabanya lantai. Bukan, ini bukan lantai licin lift. Tangannya mengenalinya sebagai permukaan tanah berumput yang dingin. Bagaimana bisa? Kata tanya itulah yang memaksa matanya spontan membuka.

“Lin…”, rasanya Novi sudah berteriak memanggil sahabat karibnya. Tapi suara yang keluar lirih saja.

Novi sekarang berada di antara pepohonan dan semak. Hutan? Novi mengedarkan pandangan, sampai akhirnya matanya tertumbuk pada kaki-kaki bersepatu lars tepat di ujung kakinya terbaring. Tersentak, Novi bangkit terbangun. Di hadapannya berdiri tiga orang laki-laki berkulit hitam tinggi besar, berseragam dengan turban di kepala. Sama terkejutnya dengan Novi, mereka berteriak dengan bahasa yang tak dimengerti.

Novi gemetar ketakutan menyadari dirinya tiba-tiba berada di tempat asing seorang diri. Kemana Linda dan Santi? Pikiran Novi kusut menyusun kejadian yang baru saja dilewatinya. Sementara ketiga laki-laki berseragam berturban itu terus berbicara dengan bahasanya. Seorang di antaranya membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Novi yang terduduk tak tahu harus berbuat apa. Dagu Novi disentuh dengan kasar. Napas laki-laki itu bau. Novi melengos, berusaha menggerakkan badannya mundur. Membuat badan lemahnya oleng.

Seorang laki-laki yang sama berturban, datang tergopoh-gopoh. Berbicara dengan bahasa yang Novi tak mengerti. Lalu dua orang yang bersamanya berlalu mengikuti laki-laki yang keempat. Meninggalkan Novi berdua dengan laki-laki yang tadi menyentuh dagunya.

Novi semakin ketakutan. Sekuat tenaga berusaha melawan badannya yang terasa berat. Laki-laki itu sekarang menyeringai menatapnya. Kilatan matanya nakal. Novi mengenalinya sebagai pertanda buruk. Sekarang laki-laki itu bergerak mendekati Novi, mendorongnya hingga Novi jatuh terjengkang. Novi berusaha berteriak sekuat tenaga dan melawan. Tapi entah apa yang membuat suara tinggi melengkingnya bahkan tak terdengar oleh telinganya sendiri. Novi mencium napas bau yang mendengus dan tangan kasar yang mulai meraba tungkai kakinya.

Tiba-tiba saja tubuh tinggi besar itu menghantam tubuh Novi. Napasnya tersekat. Tapi laki-laki itu tak bergerak menggerayangi tubuh Novi, seperti yang ditakutkannya. Tubuhnya yang berat tak bergerak menindihnya.

Sepasang tangan mengangkat tubuh itu memisahkan dengan tubuhnya.

“Nona baik saja?”, Novi semakin bertambah bingung. Di hadapannya lelaki lain dengan postur tinggi ramping. Menjulurkan tangan membantu Novi bangkit berdiri. Seragam coklatnya tampak lusuh.

“Kita harus bergegas pergi. Tentara NICA akan kembali datang  ke sini.” Tanpa menunggu Novi tersadar dengan apa yang terjadi, laki-laki itu menggamit tangan Novi. Seorang laki-laki dengan seragam yang sama di belakangnya berdiri berjaga-jaga dengan pistol di tangan.

“Ayo, cepat Komandan Sarbini menunggu kita”, teriaknya. Novi diseret untuk berlari meninggalkan laki-laki berturban yang terkapar dengan kepala berlumuran darah.

Semak-semak terasa perih menggores kaki Novi. Tapi sekuat tenaga Novi terus berlari. Setidaknya kedua laki-laki yang sekarang bersamanya  berbahasa yang bisa dimengertinya.

Terdengar teriakan di kejauhan. Menyusul suara tembakan-tembakan. Novi terus berlari tanpa bisa memahami apa yang terjadi. Sesekali laki-laki berpistol yang bersama Novi membalas tembakan itu. Tiba-tiba saja genggaman laki-laki yang menyeret Novi terlepas. Tubuhnya tersentak, darah memuncrat. Sekali, dua kali, lalu rentetan tembakan, dan laki-laki itu terjatuh. Novi menjerit. Suaranya kini terdengar lantang.

“Terus lari!”, sekarang laki-laki berpistol yang menyeretnya. Novi mulai menangis. Pandangan matanya gelap.

*****

Dengan tubuh masih bergetar, aku dan Linda memapah tubuh Novi yang lumayan besar itu hingga akhirnya sampai juga di pintu depan mall. “Aku gak kuat, aku bersender dulu di situ ya Nov.” pintanya.

Lalu kami menuju arah yang ditunjukkan Novi, “Tidakkkkkk!!!!!!

Novi tiba-tiba menjerit, aku dan Linda panik. Teriakan Linda juga terdengar oleh sekuriti yang bertugas malam itu. Dua orang berseragam hitam itu menghampiri kami. Mata Novi melotot ke arah sebuah patung yang dipajang di depan mall itu. Patung setengah badan warna hitam dengan seragam tentara. Aku tak melihat keganjilan di patung tersebut. Sementara Novi  meronta ingin menghindarinya. Sontak kami tak jadi mendekati patung itu dan berusaha mundur. Kedua sekuriti berusaha menenangkan. Dengan mata masih melotot, kulihat bibir Novi ­­­­ bergetar. Dia seperti mau mengatakan sesuatu tapi mulutnya terkunci.

*****

Di dalam taksi kami bertiga berdiam. “Selamat malam, tujuan kita kemana mbak?” sapa sopir. “Iya malam…kita mau ke…..” Baru saja aku mau menjelaskan tujuannya kemana, kulihat muka sopir itu mirip sekali dengan patung yang terpampang di depan Balai Sarbini.  Hampir berbarengan kami berteriak. Dan sopir taksi itu menancap gas sangat kencang. Entah dibawa kemana kami olehnya.

This entry was posted in @dikiumbara, Cerpen. Bookmark the permalink.

One Response to Hantu Balai Sarbini

  1. dewi ketujuh says:

    waah.. serem euy.
    mantep, kang!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s