Monolog Senja

Monolog Senja
Angghie Gerardini Andria
Suatu senja, di sudut ruang kerja.

“Hei, sudahkah kau menemuinya?”

“Belum. Ia sama sibuknya denganmu.”

“Ah, bahkan di sana pun ia tak berubah.”

“Ia tak pernah berubah. Bahkan masih merindukanmu.”

“Sungguh?”

“Ia selalu memintaku mengajaknya setiap senja.”

“Untuk menemuiku?”

“Ia rindu menghabiskan potongan-potongan senja denganmu, seperti dulu.”

“Sebelum ia meninggalkanku.”

“Itu bukan maunya.”

“Tapi Tuhan terlalu menyayanginya.”

Ku akhiri percakapanku dengan pantulan wajahku. Ku tutup bingkai cerminku. Rutinitas baru. Setiap senja, ketika jatuh menjadi perindu yang gila. Pada kekasih di atas sana, Andria.

Cermin jingga ini miliknya. Tertinggal dalam tasku sore itu, sebelum ia (tak) sengaja meninggalkanku. Ternyata, ini semacam cinderamata selamanya.

“Angga sayang, simpan ini untukku ya,” pintanya sore itu.

This entry was posted in @njiegerardini, Flash Fiction. Bookmark the permalink.

One Response to Monolog Senja

  1. ika says:

    (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) sad.. Sad.. *speechless

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s