Mimpi Audria ke Negeri Seribu Bunga

Mimpi Audria ke Negeri Seribu Bunga
Angghie Gerardini Andria

Alkisah, ada sebuah negeri di langit kedua. Negeri putra putri para dewa. Di sana semua tersedia, mulai dari makanan lezat hingga rupa-rupa permata. Semua yang diinginkan keturunan dewa selalu ada di depan mata. Tanpa kata menunda atau penantian lama. Semua tersaji cepat dengan atau tanpa dipinta.

Konon, itu semua adalah hadiah untuk mereka. Hadiah karena telah rela terpisah dari orang tua semenjak balita. Di negeri langit kedua mereka dilatih sejak dini, agar nantinya mampu menggantikan tugas orang tua mereka, para dewa dewi. Tugas melayani dan melindungi para makhluk bumi.

Tersebutlah kakak beradik, bernama Reksa dan Audria. Pangeran Hujan dan Putri Pelangi, putra putri dari pasangan Dewa Hujan dan Dewi Pelangi.

Reksa, terlihat cerdas sejak awal berada di negeri langit ke dua. Semua guru mengakuinya, kecerdasan memperkirakan cuaca dan mengatur jatuhnya bulir hujan. Sungguh di luar dugaan. Di usia sebelas tahun sudah dipercaya ayahnya untuk menurunkan hujan di suatu kota. Tugas yang sebenarnya belum pantas diberikan oleh anak seusianya.

Empat tahun setelah Reksa menuntut ilmu di negeri langit kedua, datanglah adik perempuannya di negeri yang sama. Audria. Sejak awal belajar terlihat gemulai dan teliti meniti tujuh warna setelah hujan pergi. Sungguh tak jauh berbeda dengan ketelitian ibundanya, Dewi Pelangi. Pandai mengatur paduan merah, jingga, kuning, hijau, nila, dan ungu. Cermat mencari tempat untuk meletakkan jembatan tujuh warnanya di tempat terjangkau. Mengubah wajah awan agar tak lagi sendu. Makhluk bumi pun dibuat terpaku.

Prestasi yang membanggakan bagi mereka. Guru para dewa dewi pun dibuat kagum melihatnya. Kepandaian yang serupa dengan orang tua mereka. Kekhawatiran Dewa Hujan dan Dewi Pelangi terbang seketika dan berganti rasa bangga tiada tara. Ini semua memang bukan hanya bakat kepandaian yang diturunkan orang tuanya, tapi karena ketekunan belajar Reksa dan Audria.

Hingga suatu hari, empat tahun kemudian. Ketika Reksa dan Audria bertugas di suatu negeri. Kali pertama Audria dipercaya meletakan pelangi di satu kota. Audria benar-benar dibuat terpana oleh pesona seribu kincir dan seribu bunga di sana. Dari atas langit, ia nikmati keindahan negeri penuh pesona yang ada di salah satu belahan benua. Manusia-manusia terlihat pandai dengan setumpuk kertas yang entah itu apa.

“Audria, tugasku selesai. Cepat letakkan jembatan pelangi di atas negeri itu. Kau sudah memilih tempat terbaik, bukan?” Perkataan Reksa membuyarkan lamunan adiknya.

“Ah, i… iya. Eh, belum, Kak,” jawab Audria tak beraturan. Kebingungan karena memang sajak tadi ia hanya menikmati keindahan negeri di bawahnya. Sampai lupa memilih tempat terbaik untuk meletakan pelanginya.

Reksa mengerutkan keningnya. “Ada apa denganmu?” Tanyanya kemudian. “Baiklah, sepertinya di sana tempat yang paling baik, penduduk negeri Belanda pasti menikmatinya,” lanjut Reksa sambil mengarahkan jari telunjuknya pada salah satu belahan awan di atas bukit hijau di balik taman penuh bunga warna-warni.

“Belanda?” Tanya Audria penasaran. Berharap kakaknya yang lebih mengetahui kehidupan di bumi memberinya penjelasan tentang negeri di bawah mereka.

“Sudahlah, nanti Kakak jelaskan. Sekarang selesaikan tugasmu dulu. Ini tugas pertamamu, jangan kecewakan ibu.”

Lalu Audria yang penurut segera melaksanakan tugas sesuai arahan kakaknya.

“Negeri itu bernama Belanda. Taman di bawah kita ini adalah taman bunga terbesar di dunia. Bunga-bunga cantik itu, tulip namanya,” Reksa membuka penjelasan tentang Belanda, sambil menemani adiknya menunggu jembatan tujuh warna.
“Nah, alat pemutar angin raksasa itu biasa disebut kincir angin oleh manusia bumi. Alat itu digunakan untuk mencegah air naik ke permukaan daratan sekaligus untuk pembangkit tenaga listrik di negeri itu,” Reksa melanjutkan penjelasannya sambil menunjuk salah satu kincir angin di dekat pantai. Audria mengangguk-angguk pelan menyimak penjelasan kakaknya.

“Manusia di sana terlihat pandai ya, Kak?” Pertanyaan Audria terdengar seperti keinginan besar untuk turun ke bawah dan menuntut ilmu di sana dengan para manusia.

“Kau ingin ke sana?” Tanya Reksa pada adiknya. Audria tersenyum, mengangguk mantap.

“Manusia di sana memang pandai-pandai, negeri mereka dapat dikatakan salah satu negeri yang berkuasa. Tapi, bagaimanapun kita berbeda dengan mereka. Kita punya tugas untuk melayani dan melindungi mereka. Seperti kakak, bertugas menurunkan hujan agar mereka tidak kekeringan. Sedangkan kau sendiri, memiliki tugas memberi keindahan pada mereka dengan pelangi yang kau letakkan. Kita harus belajar bertanggung jawab, Audria,” Reksa mencoba memberi pengertian pada adiknya.
“Simpanlah mimpimu untuk turun ke sana, kita bisa melihat dan mempelajari dunia dari atas sini,” lanjut Reksa kemudian. Mengakhiri pembicaraan sore itu.

“Baiklah,” jawab Audria tersenyum. Mantap penuh pengertian tentang tugas yang tak mungkin ia tinggalkan.
“Dewa Matahari sepertinya sudah akan beristirahat, akan segera ku rapikan pelangiku dan kita pulang ke khayangan,” Audria bergegas merapikan pelanginya dengan teliti dan menyimpan cita-citanya untuk turun ke bumi.

Aside | This entry was posted in @njiegerardini, Flash Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s