Kenangan Jejak Tangan

Kenangan Jejak Tangan
Angghie Gerardini Andria


Wlingi. Desa kecil di kota kelahiranku. Ah, lima belas tahun sudah aku tidak menginjakan kaki di desa ini. Sejak ayah dan ibu memutuskan membawaku dan kakak pindah ke ibu kota.

Ku hirup udara yang menyambut, dalam-dalam. Sejuk. Mendamaikan ramai dan sempitnya pikiran-pikiran yang membuatku tertekan.

Hamparan hijau yang luas. Pesona padi-padi yang menunduk. Kebun kacang, jagung, dan tebu yang bergandengan. Rayapan tenang anak-anak sungai di kaki bayangan Semeru. Aku benar-benar merasa dimanjakan lukisan Tuhan.

Tetap seindah dulu, pesona yang tak pernah tamat. Meski pemukiman semakin padat.

“Lina, mau Mbah antar jalan-jalan keliling desa?” Tanya nenek, lembut sekali. Nenek memang selalu lembut, tak pernah berubah sejak dulu.

“Hmm, boleh, Mbah, aku mau bangeeet,” jawabku penuh semangat. Tak sabar ingin menemui sahabat.

“Ya sudah, nanti kalau sudah pulang kelilingnya gantian Kakung anter kamu ke Makam Bung Karno di kota. Jadi toh ziarah dan cari oleh-olehnya?” Sahut kakek dari belakang sambil mengutak-atik koleksi sepeda ontelnya.

“Ya nanti toh, besok kan juga bisa. Kamu masih lama di sini kan, Ndok?” Sela Nenek.

“Aku ikut baiknya Mbah dan Kakung aja gimana,” jawabku tersenyum.

“Ya sudah kalau begitu,” jawab kakek pada akhirnya.

Aku dan nenek berdampingan melewati halaman rumah yang dipenuhi berbagai macam tanaman dan bunga-bunga. Di ujung pagar, kami berbelok ke kiri. Melewati deret pemukiman yang agak renggang. Nenek selalu bertukar sapa dengan setiap penghuni rumah yang kami lewati, begitu juga sebaliknya. Di desa, suasana kekeluargaannya masih kental. Keramahan penduduk satu sama lain masih terjaga. Terasa sekali kebersamaannya. Berbeda dengan kehidupan di kota.

“Lina toh ini? Wah, sudah jadi perawan manis. Dulu waktu ke Jakarta masih kecil sekali. Masih pecicilan dan ceriwis,” Sapa Bu Warti, tetangga samping rumah nenek.

Aku hanya bersalaman dan tersenyum. Lalu aku dan nenek melanjutkan perjalanan. Seperti ada sesuatu yang ku cari di sini, itu yang ku rasakan sejak menginjakan kaki kembali di Wlingi.

Pandangan dan langkahku terhenti pada pendopo kecil di tepi anak sungai, di depannya, hijau kebun tebu terhampar. Pendopo yang hampir reot, seperti bertahun-tahun tak terurus. Di dekat pendopo ada tembok batu menjulang, entah berdiri di sana sejak kapan. Tempat ini, aku dan sahabat kecilku sering menghabiskan waktu bermain di sini.

Tiba-tiba ingatan tentang Maya datang. Maya, teman sepermainanku sejak kami masih balita. Kami sebaya, kemana-mana berdua. Tak jarang kami memiliki barang-barang yang sama. Maya, gadis kecil Tionghoa yang selalu berkepang dua. Dulu, rumah kami berseberangan. Tak heran bila kami sering menghabiskan waktu bersamaan. Mulai jalan-jalan pagi, bermain, hingga sore pergi mengaji di langgar.

“Mbah, ingat Maya?” Tanyaku tiba-tiba.
Ekspresi wajah nenek tiba-tiba berubah. Sendu. Seperti sedang mengingat sesuatu.

“Maya sahabat kecilmu itu kan?”

Aku mengangguk mantap. Ku putar tubuh sembilan puluh derajat. Sekarang posisiku berhadapan dengan nenek. Nenek menarik nafas panjang lalu melanjutkan ucapannya. Seperti siap bercerita.

“Maya menghilang. Sejak kamu ke Jakarta, ia kesepian. Seperti kehilangan teman sepermainan,” nenek membuka ceritanya. Aku terkejut tak karuan. Air mataku mulai menggenang.

“Kenapa Mbah nggak kabarin aku?” Suaraku mulai bergetar.

“Mbah nggak tega menyampaikannya, Ndok.”

“Loh? Sebentar Mbah, tapi kan banyak yang seusia kami, Mbah. Ada Dina, Lintang, dan beberapa anak lain yang seusia kami,” potongku.

“Ya, tapi mungkin karena ia sudah terbiasa dan dekat sama kamu. Lagi pula kita tahu, Maya itu pendiam dan agak susah membaur dengan orang yang tidak begitu ia kenal. Dia keluar rumah hanya untuk pergi sekolah dan ke tempat ini. Selalu di rumah dan di sini, betah. Kata ibunya, Maya merasa kau temani tiap ia di sini dan di rumah. Karena dulu kalian sering menghabiskan waktu di dua tempat ini. Hingga suatu hari,” Nenek menarik nafas panjang.

Aku ikut menarik nafas panjang. Jantungku berdebar kencang.

“Lima tahun lalu. Sepulang sekolah, di hari ulang tahunmu. Kata ibunya, Maya telah menyiapkan kue yang ia buat sendiri, untukmu. Itu alasan Maya mengendarai sepedanya melewati batas kecepatan. Karena ia ingin sampai di sini, menemui bayanganmu. Di pertigaan samping sungai besar di jalan raya depan, ia kurang memperhatikan jalan. Hingga tak sadar berpapasan dengan mobil boks besar. Maya kehilangan keseimbangan. Menurut saksi mata, Maya terpental jauh dari sepedanya. Maya melayang dan jatuh ke sungai. Hingga kini jasadnya tak ditemukan,” suara nenek bergetar. Nenek mengakhiri cerita dengan menggigit bibir bawahnya.

Lututku lemas. Pandanganku kabur. Aku terjatuh ke tanah dengan wajah basah. Ku pandangi tembok batu besar yang masih menyimpan jejak tangan kami dulu, di bawahnya tertulis nama kami dengan tulisan siswa Taman Kanak-kanak seadanya.

‘LINA MAYA TEMAN SELAMANYA’

This entry was posted in @njiegerardini, Flash Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s