Sebutlah Aku : Penguasa

Sebutlah Aku : Penguasa

Aku ini wisesa dalam rumah kaca serupa istana. Sejak lahir aku tak bersaudara. Manjaan ayah bunda tiada tara, sejak belum menyapa dunia hingga aku melepas remaja. Bahkan beranjak dewasa dan meminang Putri Negeri Maya.

Aku ini wisesa dalam rumah kaca serupa istana. Seorang putra bangsawan berparas tampan tak tertandingkan. Anggaplah biang sejuta kumbang. Mampu menghisap putik sari sejuta kembang. Tanpa penolakan. Satu pun tak akan sanggup berkata ‘tidak’ atau pun ‘jangan’.

Aku ini wisesa dalam rumah kaca serupa istana. Panglima paling berani. Jelmaan seribu panji. Karakter sekuat kersani dari negeri Yunani. Hebat tak tertandingi. Tujuh samudera pun mampu ku renangi.

Aku ini wisesa dalam rumah kaca serupa istana. Kepandaianku di luar logika. Semacam seluruh buku ku lahap tak bersisa. Dipadati ilmu di setiap rongga. Meski kadang nalarku tak berbahasa. Tapi mampu memecahkan sebongkah tanya.

Aku ini wisesa dalam rumah kaca serupa istana. Penakluk empat penjuru seni. Tak aneh bila aku digandrungi titisan para dewi. Mulai andewi hingga bidadari. Pandai ku pintal gurindam bermentari. Pun menarik mereka dalam gemulai tari. Hingga ku abadikan indahnya dalam lukisan di telaga sunyi. Atau sekedar menyatukan nada dalam harmoni.

Aku ini wisesa dalam rumah kaca serupa istana. Aku ini wisesa dalam negeri selaksa pesona. Aku ini wisesa, Sang Penguasa.

This entry was posted in @njiegerardini, Puisi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s