~ Ardila Si Peri Bukit ~

~ Ardila Si Peri Bukit ~

Ada kisah datang dari tepi desa yang tenang. Letaknya di pinggir hutan, di bawah bukit-bukit indah pemandangan.
Di sana, tinggalah seorang gadis kecil jelita. Ardila namanya. Ia tinggal bersama kakek dan neneknya.
Ardila sangat menyayangi nenek dan kakeknya. Karena hanya mereka yang ia punya, sejak keluarganya hilang pada suatu bencana alam. Begitu pula kakek dan nenek, sangat menyayangi cucu mereka satu-satunya. Cucu kesayangan, tapi hebatnya, tidak dimanjakan.
Itu sebabnya Ardila tumbuh menjadi gadis kecil yang mandiri. Sejak kecil, nenek dan kakek membiasakannya mengerjakan tugas-tugasnya sendiri.
Kakek dan nenek mendidik Ardila dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Tak heran jika ia tumbuh menjadi gadis kecil santun dan berbudi. Hingga Ardila sering dipanggil dengan sebutan Si Peri Bukit. Bukit, karena Ardila dan kakeknya sering menghabiskan waktu di sana.
Kakek tak pernah bosan mengajak Ardila mempelajari alam di bukit tepi hutan.

Memperhatikan pepohonan dan rusa-rusa mungil yang berkejaran. Atau sekedar duduk-duduk di padang rumput di atas bukit sambil memandangi domba-domba riang mencari makan.
Begitu pula nenek. Selalu punya cara lembut dan menyenangkan untuk mengajari Ardila berkebun dan berladang. Mempelajari tumbuhan dan bunga-bunga mungil, mulai bayam hingga anggrek dan mawar. Nenek tak pernah habis cara membuat Ardila betah berlama-lama di dapur memperhatikan nenek memasak dan menyiapkan makanan. Sesekali nenek mengijinkannya membantu serta.
Kakek dan nenek selalu punya waktu untuk bercerita pada Ardila. Tentang apa saja. Setiap malam, bertiga, selalu menyempatkan menghitung bintang dan kunang-kunang di halaman.
Kakek dan nenek selalu tahu bagaimana membuat cucu kesayangannya ini tersenyum riang.
Begitu pun sebaliknya. Ardila selalu bisa membuat kakek an neneknya bangga atas sikap dan kecerdasannya.
Hingga suatu hari…
“Dila, sedang apa?” Tanya Tenika, seorang temannya. Ketika menghampiri Ardila di halaman belakang rumah.
“Hei, Nika. Aku sedang membantu nenek menyiapkan bayam untuk makan malam,” jawab Ardila dengan wajah riang.
“Hmm, aku ingin ke atas bukit. Tapi, tak ada yang menemani. Maukah kau menemaniku ke sana?” Tanya Tenika.
Ardila menghentikan gerakan tangannya yang sedang memetik daun bayam.
“Kakekku belum pulang, Nika. Aku tidak berani ke sana kalau tidak bersama kakek.”
“Bukit kan dekat dengan rumah kita, Dila. Ayolah, sebentar saja. Aku ingin melihat pelangi dari atas bukit. Katanya, dari sana terlihat indah sekali.”
“Iya, benar. Aku pernah melihatnya bersama kakek,” sahut Ardila riang.
“Maka dari itu, aku ingin mengajakmu ke sana. Kita akan pulang sebelum matahari tenggelam,” bujuk Tenika.
Ardila diam. Kebingungan. Matanya melirik pada hamparan bukit tak jauh dari belakang rumahnya. Ia tergoda. Akhirnya…
“Baiklah. Tapi tunggu nenek sebentar ya, aku harus meminta ijin nenek.”
“Tak usah, sebentar saja. Kita harus cepat, nanti pelanginya hilang,” jawab Tenika seketika sambil menarik tangan Ardila.
Lalu mereka berlari menuju ke atas bukit…
Sesampainya di atas bukit. Bukan indahnya pelangi yang mereka dapatkan, tetapi segerombol domba yang berlarian mencari perlindungan. Ada seekor singa kelaparan mencari makan.
Ardila dan Tenika pucat seketika. Mereka ikut berlari dan terus berlari. Hingga Ardila terjatuh, kakinya tersandung bebatuan. Kakinya terluka. Ardila menangis sejadi-jadinya.
Sedang di rumah, kakek dan nenek khawatir setengah mati Ardila menghilang. Hingga mereka mendengar kabar dari para tetangganya yang penggembala domba, ada seekor singa kelaparan di atas bukit. Tanpa pikir panjang, kakek berlari ke atas bukit. Berharap Ardila ditemukan.
Kakek lega saat melihat dua gadis kecil bersembunyi di balik batu besar di bawah pohon. Mereka menangis ketakutan.
“Dila…,” panggil kakek lembut.
“Kakek…,” jawab Ardila, meringis menahan sakit.
“Kenapa kakimu?”
“Tadi jatuh, tersandung batu saat kami berlari menghindari domba dan singa, Kek. Maafkan Nika, ini salah Nika yang membujuk Dila ikut ke sini. Kami ingin melihat pelangi,” jawab Tenika penuh rasa bersalah.
“Sudah, tak apa. Kalian kan sekarang baik-baik saja, itu yang penting. Lain kali jika ingin kemana-mana ijin lebih dulu ya, biar kakek bisa menemani. Jadi kalian ada yang melindungi. Meskipun pergi bermainnya dekat, tapi harus ijin dulu dengan kakek ya, Dila. Begitu pun kamu, Nika. Jangan pergi tanpa sepengetahuan orang tuamu ya,” jawab kakek bijaksana dan tak lupa menghias wajahnya dengan senyum ramah.
Ardila dan Tenika tersenyum lega.
“Nah, sepertinya domba-domba sudah pulang dengan aman ke kandangnya. Singa pun sepertinya sudah kenyang dan kembali ke hutan. Sebentar lagi sore, ayo kita pulang anak-anak. Dila, mari kakek gendong. Kakimu terluka. Nanti biar diobati nenek di rumah.”

This entry was posted in @njiegerardini, Flash Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s