(SEMOGA) INDAH PELANGI (TAK SEBATAS) DALAM IMAJI

(SEMOGA) INDAH PELANGI (TAK SEBATAS) DALAM IMAJI
Angghie Gerardini Andria

Terpekur. Aku terhanyut dalam lamun. Meresapi bulir-bulir mimpi yang terlanjur. Di balik jendela, ku saksikan denting-denting embun mencumbui kamboja. Di atas rerumputan yang masih terbaring manja.
Sejurus kemudian. Aku benar-benar sadar dalam rengkuhan nyawa. Aku bangun, menggenggam pena tak bertinta. Lalu ku tulis sepucuk surat di tengah gulita.

Kepada: Aku. Kita. Tanpa dia atau mereka.

Hai๐Ÿ™‚
Ketika kau baca surat ini pastilah kau sudah menua. Pintu kepala tiga, hahaha. Bagaimana keadaanmu? Semoga berat badanmu sudah melebihi kilogram ke lima puluh, bahkan lebih.๐Ÿ˜‰
Sengaja ku tulis surat cinta ini tanpa tinta. Agar tak ada yang mampu mencium rahasia kita. Semoga…
Saat ku tulis surat ini. Di balik jendela persegi itu ada separuh purnama. Apakah kau jumpai wulan serupa sepuluh tahun lagi? Apakah ruang tidurmu masih di tempat ini? Entahlah, ku harap tidak.
Kita tahu. Mimpi-mimpi apa yang setia menggelayuti kita sejak belia. Ya, hanya kita yang tahu. Aku harap, ketika kau membaca surat ini, lebih dari separuh mimpi kita sudah dalam genggamanmu.
Bagaimana kabar puisi dan catatan-catatan iseng yang kita buat sejak dulu? Yah, dulu. Sepuluh tahun lagi kata ‘sekarang’ akan merubah dirinya menjadi ‘dulu’ bukan?
Aku harap jumlahnya sudah genap seribu. Karena kita tak pernah bosan membagi tetabur rasa yang melagu, meski sendu atau pun merdu. Jangan lupa, kumpulkan dalam sebuah buku ya๐Ÿ˜‰
Hei, hari ini kau sehat kan? Ku harap iya! Bagaimana pekerjaanmu? Pasti menyenangkan meneruskan usaha ibu sekaligus menjalani profesi impian yang kita simpan sejak dulu. Jangan pernah berhenti menulis, aku yakin kita tak akan pernah bosan.๐Ÿ˜‰
Sekat-sekat rasa pekat. Masihkah ia memadati ruang hati kita yang padat? Semoga tidak. Aku hanya ingin menangkap rona ceria di parasmu yang sederhana. Tak ingin lagi menyaksikan gundukan keluh. Ku harap sesak-sesak itu sudah berlabuh di pelabuhan terjauh.
Buktikan, kita mampu tertawa. Berdiri di atas pijak dua kaki kita, tanpa mereka. Buktikan, tak akan pernah ada lagi luruh lentera raga atau gerak emosi yang membabi buta. Aku hanya ingin kau diam, dalam senyum kita yang tak lagi malang.
Tahukah kau? Ingin sekali aku berlari melewati sepuluh tahun ini. Ketika kita bermanja di atas seutas pelangi. Sungguh, aku tak ingin di sini lagi. Tentu, kau tahu betul tentang ini. Aku hanya ingin mengurai mimpi sederhana kita sepuluh tahun lagi. Ku harap mampu menyaingi indahnya seutas pelangi dan bukan sekedar imaji.

Jakarta, 21 November 2010.

Aku mencintaimu,

This entry was posted in @njiegerardini, Puisi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s