Cinta Ke Dua, Selamanya

Cinta Ke Dua, Selamanya

Oleh Rayinda Kinanti


Dan suatu masa kita bertemu lagi. Dalam waktu yang berbeda dan situasi yang berbeda pula. Semuanya berubah, hanya perasaanku yang tidak. Perasaan untuk tak membalas seluruh rasa-rasamu.

Tapi kau terlalu keras kepala untuk mengakui perbedaan kita. Kau tetap bersikukuh dengan perasaanmu, seolah-olah aku tak kan mampu melukaimu lain waktu. Dan aku menertawai kekukuhanmu itu.

Dan lihat. Kini kau berhenti. Menyerah dan balik membenciku. Aku senang! Hidupku bebas tanpamu. Aku baik-baik saja. Namun mengapa dadaku mendadak sesak saat ku lihat punggungmu perlahan menjauh dari diriku?
Apa arti dari rasa ini?

*****

Rasya menatap pantulan wajah cantiknya yang baru saja selesai dirias pada cermin. Satu jam lagi acara pernikahannya akan dimulai, tetapi tetap saja kerangguan belum lenyap dari hatinya. Apakah ini keputusan terbaik?

“Gimana, Mbak? Ada yang kurang nggak riasannya?”

Pertanyaan Mada penata riasnya membuyarkan lamunan Rasya. “Hasil riasanmu bagus kok. Aku suka” jawab Rasya dengan mimik datar.

“Bagian rambut gimana, Mbak? Ada yang perlu saya perbaiki?”

Rasya menatap rambutnya yang disanggul modern dengan hiasan melati dibeberapa sudut, lantas tersenyum simpul dan menggeleng.

“Bajunya mau ganti sekarang, Mbak?”

Rasya lalu bangkit dari kursinya dengan lemas.

Dengan bantuan Mada, kebaya modern indah berwarna Broken White dan potongan kerah sabrina melekat sempurna di tubuh Rasya.

Rasya menatap indah bayangannya di cermin. Ia tampak cantik dan anggun, tapi terdapat burat murung di wajahnya. Kesedihannya semakin membengkak. Ia tak boleh ragu melangkah. Pilihannya sudah jatuh kepada Marvin. Harusnya Rasya bahagia. Mungkin inilah pilihan yang paling tepat.

Rasya bergegas mengenakan anting kecil dan kalung berliannya. Cepat-cepat ia meninggalkan keraguannya dalam kamar dan melesat keluar menemui banyak orang.

*****

Marvin bersiap pula di kediamannya. Ini hari yang ditunggu. Hari bahagia bersama Rasya. Jantung Marvin tak berhenti berdegup kencang. Ini mimpi yang menjadi kenyataan.

Namun di sudut pikirannya, terguncang oleh hal lain. Rico yang sejarahnya adalah mantan kekasih Rasya sejak kemarin mulai hadir kembali. Tanpa sadar Marvin merasakan ada perubahan pada Rasya.

Rasya kini lebih senang merenung. Kadang ia tak mau Marvin temui. Ada saja alasan yang dibikin Rasya.

Marvin mulai kalut! Apakan hati Rasya telah berpaling lagi pada Rico?

“Nak, kalau sudah siap bilang ibu ya”

Suara ibunda Marvin cukup menghenyak kan. Marvin terperanggah.

“Iya bu, nanti aku keluar kamar kalau sudah siap berangkat”

Jawabku seadanya.

*****

Rico adalah bagian dari masalalu Rasya. Jaman SMU dulu, mereka sempat berpacaran. Siapa yang tak mengenal Rico? Cowok tampan, pintar tapi agak sedikit playboy. Rasya sebenarnya ragu dengan Rico. Kalau-kalau dia hanya jadi objek permainan Rico. Tapi Rico selalu mampu meyakinkan hati Rasya.

Rasya menyadari begitu banyak ketidakcocokan antara dirinya dengan Rico. Namun Rico begitu memaksa. Dengan sigap ia menawarkan sebongkah hati yang tulus untuk Rasya.

Rico tetap menyayangi Rasya meski ia tak mendapat balasan dari Rasya. Sampai suatu saat, mereka terpisah. Rico meneruskan kuliah di Australia sedang Rasya tetap di Bandung. Rasya tak merasa sedih ditinggal Rico. Jelas saja, hingga kini hubungan pacaran mereka tak dianggap serius oleh Rico. Sedang Rico? Begitu kesakitan ketika harus meninggalkan kekasih yang teramat dicintainya.

“Aku pergi ya sayang. Kamu jaga diri baik-baik. Jaga hati, untukku”

Ucap Rico kala itu. Sorot matanya nanar penuh pengharapan.

“Tenang saja. Aku bakal baik-baik kok disini. Kalaupun ada yang tak baik, kamu orang pertama yang ku beritahu. Fokuslah dengan kuliahmu”

Balas Rasya dengan nada yang masih tenang.

*****

Kini keadaan berubah. 8tahun berlalu. Kondisinya sekarang Rasya akan menikah dengan Marvin, kekasihnya sejak 3tahun lalu. Lalu bagaimana dengan Rico?

Rico datang tiba-tiba ke Bandung. Studinya beres dan sekarang dia adalah Presiden Direktur di perusahaan properti Menara Belezza. Rico mencari Rasya dan mendapati kenyataan bahwa keadaan Rasya tak lagi menyenangkan hatinya.

“Rasya…”

Suara lirih dan berat itu mengagetkan Rasya yang sedaritadi sibuk bertaman di belakang rumah harus terhenyak. Berdiri kaku bak patung dihadapan Rico. “Emmhh.. Kamuuu..?” kata Rasya terbata. “Iyaaa.. Akuu, Rico.. Kekasihmu” balas Rico plus senyum indah mengembang disana.

Rasya tergugu. Rico yang bahkan mulai terlupa olehnya sekarang hadir didepan mata! Mencabik-cabik hatinya. Memaksa memutar kenangan. Dulu adalah dia yang menyia-nyiakan laki-laki sebaik Rico. 2tahun lalu Rasya baru tersadar bahwa Rico lah yang memiliki hatinya. Bukan Marvin atau siapapun.

“Sejak kapan memperhatikan ku disini?”

Kata Rasya judes.

“Sedari tadi. Aku melihatmu begitu bahagia. Kamu tak berubah. Tetap cantik”

Balas Rico dengan kerlingan mata genitnya. Ah selalu itu yang Rico jadikan senjata! Apalagi ditambah senyuman mautnya yang berlesung. Membuat Rasya mengguman dalam hati.

“Kok tiba-tiba ada disini? Bukannya kamu di Aussie?”

“Aku sudah 2hari di Bandung. Sengaja mencarimu”

Suara Rico berubah jadi tegas. Sorot matanya menyudut. Tajam. Menghanyutkan Raysa.

“Aku sedang sibuk!”

Alih-alih Rasya berbalik badan. Menghindari tatapan Rico yang sedang menyelidik.

“Kalau begitu, bisa kah kamu makan malam denganku nanti?”

Pinta Rico dengan nada yang masih tenang

“Mmmh… Aku nggak janji ya”

“Kumohon…sekali ini saja…”

Rengek Rico dengan tampang memelas.

“Okeee”

“Thankss Sya..”

*****

Senja mengintip. Rasya sedang bersolek didepan cermin. Riasan simple namun tetap cantik dia refleksikan diwajahnya. Gaun hitam dengan belahan dada rendah telah ia gunakan. Rasya tampak anggun!

“Marvin.. Ijinkan aku pergi sebentar ya. Hanya makan malam kok. Bersama Rico”

Ucap Rasya pada foto Marvin dimeja riasnya.

Ketika beranjak keluar, Rasya mendapati Rico sudah siap didepan pintu. “Ah, pria ini memang menyenangkan! Jadi menyesal..”

Umpat Rasya dalam hati.

“Yuk, tuan putri”

“Eh eh berlebihan deh”

Erangan Rasya saat Rico menggandeng tangannya.

Mereka pun sampai di Resto Itali. Tempat favorit mereka. setelah memesan makanan dan menunggunya datang mereka saling berdiam. Kaku. Beku.

Sejurus kemudian, Rico menggenggam tangan Rasya. Masih diam. Masih aneh.

“Aku ingin bersamamu, selalu”

Ucap Rico tiba-tiba. Menghentak jantung Rasya. Melumerkan dinding keangkuhannya.

Rasya tersenyum. Balas genggaman Rico.

“Bukankah kau tahu tentang aku dan Marvin?”

“Aku tahu, tapi tak peduli”

“Kami akan menikah, Co”

“Baru akan? Berarti masih ada kesempatan untukku”

Rasya kehabisan kata. Rico terlalu jago untuk berdebat soal ini. “Kumohon, Sya. Terima aku lagi. Aku tahu kamu juga menyayangiku” ucapan Rico menohok Rasya! “Siall! Ketahuan!!!” Umpat Rasya dalam hati.

“Aku sadar. Hatiku sakit saat kau pergi. Rasanya tak rela. Tapi keadaan sekarang beda, Co. Ada Marvin..”

Jelas Rasya hati-hati.

*****

Rombongan Marvin dan keluarganya sampai dikediaman Rasya. Semua menyambut gembira. Rasya mempelai wanita masih tersembunyi diruang dalam.

“Tuhan, inikah yang harus kulakukan?”

Lirih Rasya.

“Saya terima nikahnya…”

“STOP!”

Semua terdiam. Sunyi. Rasya menangis. Lalu berkata “batalkan pernikahan ini. Kumohon Marvin… Maafkan aku. Ini terlalu sulit”

“Ada apa Rasya? Kamu sakit?”

“Bukan. Aku mencintai masalaluku. Ternyata aku tak bisa menghindarinya”

Marvin terdiam. Semua terdiam. Rasya tetap menangis. Dibalik pintu ada Rico yang memang sudah menanti.

“Ijinkan aku pergi. Maafkan aku”

Ucap Rasya setengah berlari menuju Rico. Keluarga dan kerabat saling berteriak memanggil keduanya. Marvin hanya tertunduk bisu. Hatinya hancur berserakan.

Saat Rasya dan Rico berlari keluar halaman, “BRRAAAAKKKKKK!!!!!” Dentuman hebat terdengar. Dua tubuh manusia terpelanting menjauhi bus kota itu. Keluarga histeris melihat kenyataan itu.

Seisi ruangan berhamburan. Marvin menghampiri Rasya, “maafkan aku Marvin. Aku terlalu jahat menerima cintamu” isak Marvin pecah. “Kini biarkan aku abadi dengan Rico” lalu Rasya mengencangkan genggamannya pada Rico. Selamanya mereka bersama. Disana.

This entry was posted in @nankinann, Cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s