Cinta dalam Dimorfik

Cinta dalam Dimorfik

Alice Rahmawati

“ Dan sekarang, tak ada lagi yang bisa menyakitiku. Bahkan kamu.” Kulangkahkan kaki ke arah balkon. Di atas sana, bulan begitu bundar dan cantik.

***

Siang itu, aku menuju salon langgananku untuk menata rambut.

Pukul 1.15. Aku mendesah, terlambat limabelas menit. Semoga saja Mince tidak marah. Bencong cerewet dengan dandanan serba hitam dan ketat itu tidak mentolerir keterlambatan. Dia laris untuk urusan setting rambut. Seperti layaknya artis-artis di TV dengan rambut ikalnya yang begitu mempesona, aku ingin menjadi mereka, malam ini. Demi malam ini. Untuk malam ini.

“Waduh Jeunk, ye bener-bener deh keterlaluan! Jam bagindang baru muncul. Untung customer yang lain juga nit on time. Sucep nek. Kesindang. Cap cus yukkk!” rentetetan bahasa planet memberondongi aku yang terburu-buru masuk salon mewah itu. “iya iya maaf, jalanan macet cyn. Keramas dulu ya!” aku langsung menuju tempat cuci rambut.

“Wah mau kondangan ya Mbak?” Tanya gadis pencuci rambut dengan sopan.

“Nggak kondangan kok. Cuman makan malam saja”

Kututup mataku, menikmati setiap pijatan ringan di kepalaku yang penuh. Dahiku pasti sudah berkerut memikirkan rencana tiap rencana.

Tenangkan dirimu Ayana.

Tarik nafas dalam-dalam.

Semua akan baik-baik saja.

Tangan Mince memang ajaib, hanya dalam 1 jam rambutku tertata apik. Tak terlihat seperti tante girang, namun juga tidak terlalu abg. Aku tersenyum puas.

“ Cucok Nek. Ini belum dendong ya Nek sudah cekong begindang.”

“ Ah kamu bisa aja Min. Nih tip kamu. Makasih ya jeunk” aku menyelusupkan uang limapuluhan ke kantong celana Mince. Kali ini aku beri tip yang besar. Sekalian beramal. Untuk kesuksesan rencana nanti malam.

***

Kupatut-patut gaun merah sutra tanpa lengan itu di cermin. Aku suka warna merah. Semoga saja gaun ini masih muat. Gaun pemberian dari Gerry beberapa tahun yang lalu. Jarang kukenakan. Kecuali pada event penting. Dan malam ini kuanggap sangat penting.

Didalam cermin itu aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Aku begitu tenang. Suatu ketidak wajaran, menurutku. Kutatap diriku sendiri. Seorang wanita yang masih muda dan cantik. Berwajah aristocrat. Tapi siapakah dia? Masihkah Ayana yang dulu? Yang lemah lembut dan penurut? Bola mata itu meredup.

Trit trit trit. Suara BB membuyarkan pikiranku. Tanganku gemetar meraih BB diatas kasur. Segera kubaca pesan singkat itu lalu kuhapus. Cepat-cepat aku menuju kamar mandi. Waktu terus berdetik. Aku tak mau terlambat. Lebih baik aku yang menunggu saja.

Air yang kurasakan mengalir di tubuh begitu nyaman. Sekilas bayangan Gerry memenuhi benakku. Akankah ia datang tepat waktu nanti malam? Pakai baju apa dia nanti? Topik pembicaraan apa ya nanti yang akan kubicarakan? Sudah enam bulan sejak kami terakhir bertemu. Begitu rindu aku.

Kumatikan keran shower. Kulihat dari jendela kamar mandiku yang mewah, matahari mulai ramah. Warnanya jingga, cantik sekali. Pertanda bagus, pikirku. Aku tersenyum lalu bersiul-siul kecil. Alat-alat make up mahal sudah berjajar dimeja rias. Nyala lampu neon menelanjangi kulit wajahku yang polos tanpa sapuan apapun. Ada semburat biru disana.

Dengan cekatan, bak pelukis, aku menyulap wajahku menjadi wanita bermata lebar dan tegas, dibingkai alis yang natural. Pipiku kemerahjambuan. Dan bibirku merah menantang, basah. Sempurna. Ya ampun Tuhan. Siapa dia? Aku hampir tak mengenalinya. Semoga Gerry menyukai penampilanku malam ini.

Gaun merah itu persis melekat ditubuhku. Lekukan tubuhku jadi begitu anggun. Ternyata aku mengurus. Gaun yang sempat teronggok di lemari itu sekarang tampak begitu seksi kupakai. Merah, semerah darah.

***

Hembuskan nafas perlahan.

Jangan terlalu kuatir. Ini hanya Gerry.

Pria yang sudah kau kenal selama 5 tahun.

Ia tak pernah menyakitimu bukan? Bahkan ia selalu sopan.

Dan ia juga sudah membalas cintamu bukan?

Aku berusaha menenangkan diriku sendiri. Sembari menunggu sosok pria tegap itu muncul ditengah para tamu lainnya. Aku duduk manis ditemani segelas red wine, kesukaan kami. Kerongkonganku tercekat sejenak saat wine itu mengalir masuk kedalam. Aku hampir lupa bagaimana rasanya minuman itu. Ternyata sudah lama juga aku tak pernah nikmati wine. Aku heran sendiri dengan ketenanganku. Masih bisa menyesap wine dengan anggun dan berkelas.

Kupandang ke sekeliling, pria-pria diruangan itu mencuri pandang kepadaku sesekali. Mungkin karena aku sendiri. Dengan gaun yang menantang karena sedikit terbuka di bagian dadaku yang menyembul. Dasar mata keranjang. Padahal mereka bersama wanita cantik dengan rambut dari salon dan gaun satin mahal. Membuatku merasakan sekali lagi sakit itu. Sakit yang bersembunyi begitu dalam dan tak bisa tersembuhkan. Tapi mungkin malam ini akan lain.

Gelas kedua. Dan aku mulai gelisah. Cincin dijariku kuputar-putar. Kupandangi gelas wine dengan tatapan kosong. Sedetik. Dua detik. Lima detik. Setengah menit.

“ Maaf. Sudah lama ya? “ Suara yang jarang kudengar akhir-akhir ini tiba-tiba muncul. Gerry duduk didepanku. Aku tak menyangka bertemu dengannya akan sangat menyenangkan. Seakan-akan seluruh ruangan menjadi bercahaya.

“ Ya kira-kira 15 menit kok Sayang. Ayo pesan dulu “ aku memanggil pelayan bertuxedo ke meja kami. Senyum tersungging di wajah Gerry. Tampaknya ia sedang memperhatikan dandananku.

“ Kamu cantik sekali dengan gaun itu. Baru ya?” rupanya Gerry lupa akan pemberiannya sendiri. Semoga ia tidak lupa cincin yang kupakai ini juga.

“Ini semua adalah hadiah-hadiahmu ke aku, Sayang. Dari gaun, anting, hingga kalung berlian yang kupakai sekarang”. Kunaikkan jemariku ke atas meja.

“ Dan juga, cincin ini…” suaraku serak. Kulihat Gerry tersenyum penuh kharisma. Matanya setajam elang yang bijak. Sedikit pucat tapi ketampanannya tak terbantahkan. Wajah indo ala pemain telenovela mampu menghipnotis wanita yang memandang. Termasuk aku, selalu tertunduk malu saat doa bola matanya itu menatapku. Entah malu atau takut.

Ia menyebut suatu masakan yang asing kedengarannya di telinga. Ia juga meminta waitress itu menuangkan wine. Diputarnya lembut gelas bertangkai itu kemudian dihirupnya perlahan. Gaya minum yang sangat berkelas dan membuatku tertegun untuk kesekian kalinya. Tenang Ayana, semuanya akan segera berakhir.

“ Kalau cincin itu, aku takkan pernah lupa. Itu adalah warisan keluarga. Dan aku tidak memberikannya pada sembarang perempuan.” Suaranya hangat, melumerkan suasana kaku dihatiku. Tapi ketika tangan Gerry menyentuh tanganku, aku seperti menyentuh es. Dingin. Seperti biasa.

Kami makan dengan tenang. Jantungku sudah tak berdebar kencang seperti tadi. Aku tak ingin ia mendengar detakku yang berdegub tak karuan. Perbincangan kami menyenangkan sekali. Gerry tahu bagaimana menimpali setiap pertanyaan dan pernyataanku dengan manis. Ia tahu segala hal. Banyak tempat sudah ia singgahi. Dan ia mengenal banyak sekali orang-orang penting. Dari yang masih muda sampai yang tua sekalipun.

Aku mengaguminya sejak pertama bertemu di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta dalam perjalanan kami yang sama-sama menuju ke Bali. Dia menyapaku duluan. Mengiraku seseorang yang lain. Sorot matanya kecewa seketika waktu menyadari ada kesalahpahaman. Entah mengapa, ada keberanian untuk menanyakan namanya terlebih dahulu dan mengajak mengobrol. Aku seperti mengenalnya dimasa lalu. Entah dimana. Untungnya obrolan kami nyambung.

Selanjutnya kami sering berhubungan. Email, YM, dan BBM menjadi sarana mengobati kesendirianku. Kami juga sering menyempatkan bertemu walau sebentar kalau ia sedang pulang ke Jakarta. Pekerjaannya sebagai seorang kurator lukisan membuat Gerry bepergian dari satu negara ke negara lain untuk mengadakan pameran-pameran bergengsi, jualbeli, barter, ataupun menjadi juri  tamu suatu festival.

Sudah sebulan kami merencanakan makan malam bersama ini. Bertemu di restoran favoritnya. Dengan membawa sebuah jawaban.

Gerry hanya makan sedikit. Selalu begitu. Padahal badannya begitu tegap dan berisi. Aku tersenyum. Membayangkan keberanianku menemui Gerry disini. Seperti membaca pikiranku, Gerry menyipitkan matanya,”Ayana, aku mencintaimu. Sungguh. Kamu siap bersanding denganku?”

“ Mengapa aku disini? Kalau bukan untukmu.” Kutenggak sampai habis wine ku. Besok belum tentu aku bisa mencecap rasa ini lagi.

Aku dan Gerry berpandangan. Tanpa kata. Wajahnya menjadi serius. Kuanggukkan kepalaku. Kemudian ia menggegam tanganku erat. Mengecupnya selayak seorang pangeran kepada putri nya. Wajahku merona. Aku bahagia bersamanya.

Setelah membayar bill, Gerry dan aku pulang kerumahku. Ayana kamu bisa. Kita akhiri semua ini. Dengan cara sempurna. Sesempurna bulan purnama.

***

Kubuka jendela kamarku, membiarkan sinar rembulan mendobrak masuk dan meremangi setiap sudut ruangan. Apa yang harus kulakukan sekarang? Menunggu?

Sebaiknya aku ganti baju saja. Kupilih lingerie satin merah. Lagi-lagi merah. Dengan jubah yang menjuntai hingga ke lantai. Ku naikkan semua rambutku keatas. Leherku kelihatan jenjang dan menarik dengan anak rambut yang berjatuhan.

Gerry menelan ludahnya, aku bisa melihat jakunnya naik turun. Kemudian ia palingkan wajahnya. Menatap keluar jendela. Menikmati indahnya bulan.

“ Aku siap Gerry…….” Kupeluk dirinya dari belakang.

Gerry membalikkan badannya. Dia membelai rambutku, lalu tangannya membalikkan tubuhku. Kini gantian ia memelukku dari belakang. Diciuminya leherku. Aku bergidik. Menanti momen ini. Kupejamkan mataku. Menunggu. Dan menunggu.

Kamu bisa Ayana. Kamu bisa.

***

“ Dasar pelacur!!  Kamu memang wanita murahan!“. Sekali lagi tamparan keras mendarat di pipiku. Aku tak bergeming dari tempatku berdiri.

Bersiaplah Ayana. Akhiri semua ini. Kamu adalah wanita kuat.

“ Kamu tak pernah becus mengurusi rumah. Masakanmu tak pernah enak. Kopimu pahit. Dan kamu mandul!! Kamu itu banci tau!!! Dandananmu seperti waria pinggir kali. Mengapa kamu tidak bisa menjadi wanita yang berkelas seperti teman-temanku sih. Wajar kalau aku memilih wanita itu daripada sampah macam kamu! Dasar gembel!!!”

Silakan saja memaki diriku. Sudah 8 tahun aku mendengar tuduhanmu yang tak pernah benar. Aku yang selalu mengalah. Aku yang selalu minta maaf. Aku yang hampir mati karena tinju dan tendanganmu. Dan mulutku terkunci rapat. Kusembunyikan penderitaan sebagai istri yang teraniaya di lubuk hatiku yang beku.

Bimo membalikkan badannya. Menjatuhkan tubuh besarnya dengan kasar di pinggir ranjang besar kami, menyulut rokok. Kudekati perlahan-lahan. Tak ada sakit di pipiku. Tak ada darah yang keluar lagi dari mulut. Kupeluk Bimo dari belakang. Sejenak ia kaget, tapi aku lebih sigap dan cepat. Kusambar leher itu.

Kamu yang memaksaku menjadi seperti ini.

Sekilas aku melihat bayangan Gerry diluar jendela. Mengamati.

***

Kami berpelukan di balkon.

“ Selamat Ayana. Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami. “ Gerry berbisik di telingaku.

Sekarang aku bebas mengikut Gerry kemanapun dia pergi dan menjadi siapapun yang aku mau. Ayana yang lemah sudah mati. Hidup baruku dimulai.

Aku merasa ringan dan bersemangat. Kupandangi tubuh Bimo yang tergeletak di atas kasur. Dingin dan kaku. Dua lubang gelap dan dalam menghiasi lehernya. Kenang-kenanganku untuk Bimo. Mantan suamiku. Korban pertamaku.

Dan déjà vu ku kepada Gerry ternyata bukanlah suatu kebetulan. Wajahku mirip sekali dengan istri sahnya ratusan tahun yang lalu, yang adalah nenek moyangku sendiri.

Dibawah purnama, Gerry melantunkan sebuah puisi karya William Shakespeare, selagi kami berdansa merayakan percintaan ini.

O Mistress mine,

where are you roaming?

O, stay and hear;

your true love’s coming,
That can sing both high and low:
Trip no further, pretty sweeting;
Journeys end in lovers meeting,
Every wise man’s son doth know.
What is love? ‘Tis not hereafter;
Present mirth hath present laughter;
What’s to come is still unsure:
In delay there lies not plenty;
Then, come kiss me, sweet and twenty,
Youth’s a stuff will not endure.

This entry was posted in @socrateslover, Cerpen. Bookmark the permalink.

3 Responses to Cinta dalam Dimorfik

  1. Eristia says:

    pas baca ini aku lagi diperjalanan menuju rumah..
    dan pas baca rasanya gak mau berenti smp selesai, begitu selesai masih berdecak kagum!
    what a great story,kak!
    terus berkarya yah🙂

    @eritz7

  2. yogaDM says:

    Udah berkali2 baca cerpen ini.
    gk bosen2!!!
    dr kata “Ayana” aja udah mencerminkan bgt jalan ceritanya.
    Nulis LAGI kak🙂

  3. silencehart says:

    wow!!Mantap Kak Alice!! gk nyangka akhirnya begitu :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s