Sampai Jumpa di Sorga

Sampai Jumpa di Sorga

Diki Umbara


Ubud 9 Oktober 2010

Pagi itu di Jalan Monkey Forrest belum terlalu ramai, hanya ada beberapa turis mancanegara terlihat nongkrong di beberapa café yang berjejer rapi sepanjang jalan. Di salah satu sudut penginapan beberapa orang sedang bersenda gurau dengan logat Bali yang khas. Mereka menawarkan jasa taksi pada pejalan kaki yang kebetulan melintas jalan.

Aku, di depan netbookku dengan secangkir capuccino panas kulayari lautan luas dunia maya denga wifi splitter dari café sebelah. Kubaca email yang dikirim seseorang tadi malam. Seorang yang selalu berkomunikasi denganku lewat surat elektronik. Sudah hampir enam bulan kami saling berbalas email. Amir Mousa warga keturunan Libanon yang sudah lama menetap di negeri Kangguru. Awalnya dia hanya seorang kuli di peternakan sapi, upayanya yang gigih 6 tahun kemudian dia sudah menjadi salah satu peternak ternama di sana. Perkenalanku dengan dia dari anak buahnya yang kebetulan temen SMAku dulu di Bandung. Temanku bekerja 2 tahun yang lalu. Sebelumnya dia hanya serabutan untuk membiayai kuliahnya setelah kiriman dari orang tuanya mulai seret bahkan hingga tak ada kiriman sama sekali.

*****

Kuta, 10 Oktober 2010

Pantai Kuta sore hari semakin ramai. Dengan ransel yang sangat berat kutelusuri bibir pantai hingga aku berhenti persis di depan sebuah tempat yg luas dan megah, Shopping Mall. 3 kali aku ke sini sebelumnya. Tak ada sudut yang tak aku hapal. Semua di luar kepala tanpa peta.  Angin pantai mendesir, aku mulai ragu-ragi. Kunaiki anak tangga. Beberapa bule sedang bersenda gurau, kadang ada gelak tawa yang aku dengar.

“Jahanam kafir, tunggu saatnya. Waktumu akan segera usai. Kukirim kau ke neraka”

bathinku menggelora. Kekasih imajinerku tersenyum menyemangati. Hidungnya yang mancung, pipinya merona merah, kulitnya yang putih gabungan Eropa-Asia. Dia sodorkan secawan anggur dengan senyum yang menyungging. Lalu aku ditariknya ke pelaminan dengan alunan musik padang pasir yang syahdu. Kuteguk anggur, lalu kekasihku menari dengan gerakan-gerakan yang halus. Dia mulai menggoda dengan lirikan matanya yang sangat indah. Gerakkannya lambat laun semakin cepat.

Mataku  tertuju pada sosok yang spertinya sudah aku kenal.

“Ah bukannya dia si Aisyah puterinya Amir Mousa?”

Jantungku makin berdegup, Aisyah seperti menyapaku. Aku hampiri kerumunan bule-bule itu.

“”Kenapa Aisyah ada di antara mereka?”

“Iya liontin yang menggantung itu aku ingat betul, pasti dia Aisyah”.

Tiba-tiba hpku bergetar.

****

Bandung, 4 Februari 2007

Asep Sobirin, berperawakan sedang dengan logat sunda yang khas. Tiga bulan lagi genap dia empat tahun tinggal di negeri Kangguru sebagai mahasiswa. Dia anak seorang Kyai kaya raya di salah satu desa di Parahyangan Timur. Ayahnya memiliki pesantren dengan santri yang kini jumlahnya gak terlalu banyak. Semenjak ada isu ada pengajian NII di pesantren itu banyak orang tua santri yang menarik anaknya. Tak ada klarifikasi dari sang Kyai, lambat laun isu itu menguap juga. Asep walaupun anak Kyai pemilik pesantren itu tapi dia tak pernah menyantri di sana. SD sampai SMA dia selesaikan di kota Parahyangan.

Di SMAlah aku mengenal Asep. Dia sosok yang pandai bergaul, tak hanya sesama pria. Bahkan Asep cukup di kenal di antara wanita. Waktu kelas 2 dia pernah jadi Ketua OSIS. Tak ada yg menyangka kalau Asep anak seorang Kyai, gaya hidupnya teramat moderat. Entah untuk kesikian ribu kali Asep ditegor ayahnya atas gaya hidup dia yang gak “Islami” itu. Tapi itulah Asep, keras kepala persis seperti ayahnya. Ketika mengutarakan niatnya untuk kuliah di Australia, tak ada satupun keluargannya yang setuju.

“Emang gak ada perguruan tinggi yang bagus di Indonesia ?”

“Atau kalaupun ke luar negeri kenapa harus ke Australi? Itu negeri orang kafir !”

“Lagian apa nanti kata tetangga, tuh liat anak Kyai kuliahnya di Australia, negara orang kafir.”

Tapi, bukanlah Asep kalau tak punya keinginan yang tidak bisa dia raih. Asep berangkat ke Australia walaupun tanpa dukungan orang tua. Dan Kyai akhirnya luluh juga untuk rutin mengirim uang ke anak bontotnya itu. Tapi, transferan itu berhenti saat Kyai bisnisnya bangkrut. Pesantrennya benar-benar ditinggalkan para santri. Saat ini, tak lebih dari duapuluhan orang yang menjadi santri di sana.

*****

Aku ? dari awal memang terlahir dari keluarga miskin. Boro-boro kuliah di luar negeri,  untuk membiayai kuliah di negeri sendiri saja orang tuaku tak sanggup. Sejak lulus SMA, aku pergi Bali. Tanpa tujuan yang jelas. Karena bahasa Inggrisku yang lumayan, aku pikir bisa hidup dengan menjadi seorang tourist guide. Ah ternyata tak mudah. Dan aku, sungguh tak percaya diri berbicara dengan orang asing. Di Bali sudah cukup banyak pemandu wisata lokal. Luntang-lantung gak karuan hampir 3 bulan, hingga aku kenal dengan seorang pemuda Bali asal Ubud. Perkenalanku di Sanur ketika dia mengantarkan barang dagangannya dari Ubud. Pertama diajak ke Ubud, aku merasa tak asing dengan suasananya. Sawah yang hijau dengan terasering yang indah bagai lukisan. Alam di sini benar-benar masih alami.

“Oh ya, sekarang aku ingat. Alam Ubud ini mirip sekali dengan Garut Jawa Barat. Iya mirip sekali.”

“Berarti kamu bakal kerasan di sini ya ?”  kata Komang sahabat baruku ini.

“Sepertinya begitu Bli”

Bli Komang hanya tinggal berdua dengan adiknya. Rumahnya mungil, hanya ada dua tempat tidur. Menghadap ke arah sawah, sungguh suatu pemandangan yang indah.

“Ah semoga saja benar apa yang dikatakan bli Komang tadi, aku bisa kerasan tinggal di sini” pikirku saat itu.

*****

Kuta 10 Oktober, jam 21.45

“Inilah saatnya, jangan ada keraguan.”

Kuraih remote di sela-sela tas. Kulihat sekeliling café ini.  Jahanam-jahanam kafir .

“Wah kebetulan semua meja di dalam sini sudah penuh mas, gak apa-apa kalau mas mau nunggu. Atau di luar sana masih ada ada satu kursi”. kata seorang pelayan mengagetkanku.

“Eh…eh..gak apa-apa mbak, saya boleh liat-liat di dalam sini dulu kan?” tanyaku basa-basi.

“Iya gak apa-apa, silahkan. Nanti kalau sudah dapet kursi tinggal panggil kami untuk pesan makan atau minumnya.”

“Iya mbak.:” kataku pendek.

Kulihat jam tanganku, 21.58. Kini aku benar-benar sudah di hadapan Aisyah. Ingin rasanya aku menegur untuk meyakinkan apakah dia benar Aisyah anak Amir Mousa? Segera aku urungkan niat itu. Kini dia terlihat menenggak kaleng bir. Kehadiranku yg mendekati mejanya ternyata dia sadari. Ada tatapan aneh tertuju pada diriku. Sorot matanya tajam bak gadis Timur Tengah pada umumnya. Dia benar-benar menatapku dengan tatapan sinis penuh kebencian. Hapeku bergetar kembali, kulirik jam tanganku perlahan. 21:59:30

“Ini benar-benar saatnya!”

Aisyah tersenyum, matanya yg sangat indah itu memberikan kode agar aku segera bergabung di singgasana kamar pengantin yang megah. Aroma kesturi menyerbak di setiap sudut ruang. Aku berjalan perlahan. Tangan aisyah menggapai tanganku penuh kelembutan. Lalu…..

BLUUUUUUUUMMM…………………………

Hanya selang beberapa detik setelah kutekan tombol itu, café luluh lantah. Asap hitam menutupi seluruh ruang. Api berkobar. Korban bergelimpangan. Teriakan histeris dari pengunjung café yg berada di luar ruang.

“Bomb!!!…….bomb!!!….”

“Help me!!!….. help me!!!…help me!!!….”

Gelap gulita. Kepalaku putus, perutku terburai, tangan dan kakiku terpental.

Malaikat maut terperangah, tak percaya apa yang baru saja terjadi. Perdebatan sengit setan dan malaikat terdengar samar-sama. Lalu mereka saling bentak dan saling menyalahkan. Utusan iblis mengangkat kepalaku. Lalu menempelkan mulutnya ke telingaku dan berbisik dengan nada yang menjijikan.

“Selamat datang di kerajaanku. Tugasmu sudah tamat di dunia!”

*****

Cicalengka-Jawa Barat, 12 Oktober 2010

Sepasukan Densus mondar-mandir di depan rumahku. Ayah, ibu dan ke dua adikku mengurung diri di dalam. Di  luar, sudah ada puluhan warga yang hendak masuk menemui orang tuaku. Tapi mereka tertahan. Tak ada satu orangpun yang diijinkan masuk oleh 2 orang anggota densus yang berada tepat di depan pintu rumahku.

Tak ada keraguan sedikitpun dari ayah, bahkan ibu. Hanya kebingungan ke dua adikku di dalam sana.

“Kita tak perlu mengungsi. Kita tak boleh terusir dari sini!”

“Biarkan, gerombolan laknatullah Densus itu. Lagian itu bagus untuk menghindari para wartawan ke rumah kita.”

“Tapi….”

“Sudahlah umi, kita doakan anak kita. Dia sudah menemukan jalan-Nya. Dan keberanian dia itu belum tentu dimiliki oleh setiap muslim . Kita mestinya bangga.”

“ Ummi tau kan kalau tetangga kita spenuhnya mendukung perjuangan anak kita? Bahkan beberapa pemuda sudah menyiapkan penyambutan jenazah anak kita. Ummi paham kan maksudnya? Perjuangan anak kita akan dilanjutkan mereka, dan ke dua adik dia ini”.

Ummi hanya terdiam dengan air mata berlinang.

****

Bandung, 15 Oktober 2010.

Malam itu begitu mencekam, segerombolan orang sudah di depan pesantren orang tuanya Asep Sobirin. Gerombolan itu bukan dari masyarakat sekitar situ, tapi dari desa seberang.

“Bakar pesantren ini! Bakar pesantren ini! pekiknya.

“Persetan dengan mujahid!”

“Hei ustadz keluarlah! Kami tak sudi anak-anak kami kau ajarkan jihad sesat! Ayo keluar!”

Di dalam belasan santri ketakutan, mereka tak berani ke luar. Dari balik jendela seorang santri mencoba mengintip kejadian di luar.

“Eh Jamal, ke sini ! lihat itu di luar ada pamanmu !” seru santri itu sambil menoleh ke sudut dimana Jamal dan kawa-kawan berkumpul ketakutan.

“Eh…biarin saja, aku tahu dia akan marah besar. Bukannya kamu tahu pesan ustadz kemarin kalau ada yg nyari kita tidak boleh kita temui!”

“Tapi ustadz gak ada, ayo kita temui mereka.”

Di luar, suasana makin memanas. Seorang dari gerombolan melemparkan bom molotop dan terhempas persis di atas atap pesantren. Belasan santri yang dari tadi mencoba bertahan kini berhamburan ke luar.

“Allahu akbar!”

“Allahu akbar!”

Ini ironis ! penyerang sama yang diserang meneriakan kalimat yang sama. Yel yang seharusnya untuk mengagungkan nama Tuhan.

****

Australia, 17 Oktober 2010

Kepolisian unit anti teroris sudah mengepung seluruh penjuru peternakan sapi milik Amir Mousa. Tak perlu intelejen yang hebat untuk mengenali wajah Amir Mousa. Lima bulan sebelum penegpungan ini Amir Mousa sempat jadi pembicara di acara seminar yang digagas Australian Cattle Council Association, yakni satu-satunya asosiasi peternakan sapi di Australia.  Dengan berapi-api, saat itu Amir Mousa menceritakan kisah sukses peternakannya. Dia bahkan menceritakan keinginannya untuk bekerjasama dengan pihak Indonesia dalam upaya penggemukan sapi Australia.

Kini, seorang kepala polisi memberikan perintah agar semua penghuni keluar tanpa melakukan perlawanan. Tak ada jawaban dalam 3 menit. Polisi memperingatkan kembali, beberapa personil dengan senjata lengkap bergerak ke dalam. Sasarannya sebuah kantor kecil yang berada di sudut peternakan seluas 5 hektar. Amir Mousa dan dan Asep Sobirin akhirnya keluar dengan ke dua tangan diangkat. Ya, hanya mereka berdua. Seluruh karyawan peternakan sapi milik Amir Mousa sudah pulang .

Pasukan anti teror siaga penuh, penembak jitu ada di semua sudut peternakan. Senjata diarahkan persis ke dada dua orang  itu.

Entah apa yang ada dipikiran Asep Sobirin, tiba-tiba tangannya berusaha mengambil sesuatu di belakang celananya. Dan…..dorrr…dorr….dorrrr… berondongan peluru menghujam ke tubuh Asep. Amir Mousa terkejut. Berondong senjata otomatis itu kini mengarah padanya. Asep Sobirin dan Amir Mousa terjungkal. Darah segar mengalir deras.  Simbah darah melumuri sekujur badannya.

Hampir setahun polisi Australia mencurigai gerak pengusaha asal Timur Tengah yang sukses di negara penghasil sapi serta domba terkenal ini. Amir Mousa terlibat jaringan terorisme. Dan Asep Sobirin sebagai karyawannya menjadi kaki tangan dia. Tak semua karyawan dia rekrut, Amir Mousa cukup selektif dalam memilih sasarannya.

Tiga orang polisi segera menghampiri ke dua oarang yang sudah menghembuskan nafas itu. Tak banyak orang yang mengetahui kejadian itu. Peternakan sapi Amir Mousa jauh dari keramaian, dan hanya berjarak dua kilometer saja dari pantai. Tidak ada media yang standby di sana, ini tentu saja jauh berbeda dengan penyergapan pelaku terorisme di Indonesia.

*****

Ubud, 20 Oktober 2010 jam 4.30 WITA

Aku terhenyak dan bangun, ada suara yang memekakan telingaku. Entah suara darimana. Pikiranku kacau, mimpi barusan begitu nyata. Seperti sebuah rangkain gambar bergerak dengan scene yang lengkap.

Aku segera pergi ke belakang untuk ambil air wudhu. Kulewati ruang tamu, terlihat karibku Komang tertidur pulas di sofa. Ya, Komang Marthayasa nama lengkapnya, dialah pemuda sederhana yang mengajarkanku banyak makna kehidupan. Bahasa Inggrisnya pas-pasan, tapi percaya dirinya luar biasa. Belajar otodidak bercakap-cakap dengan para turis asing. Aku kadang geli mendengarnya. Aku ? pernah kursus bahasa Inggris di Bandung beberapa bulan, sungguh aku tak pede untuk berbincang dengan turis mancanegara. O’ya dari bli Komang pula aku belajar toleransi. Bahwa hidup berdampingan beda keyakinan sebetulnya tak sulit.

“Tak usah saling mencurigai, itu saja kang” katanya dalam satu kesempatan. Suatu hari, adiknya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA menghadiahiku sehelai kain cantik.

“Ini tadi aku beli dari Pasar Ubud, barangkali kakak perlu untuk ibadah kakak. Sajadah kakak aku liat sudah perlu diganti.”

Setelah kulewati bli Komang yang masih terlelap, aku pergi ke belakang. Mengambil air wudhu. Lalu aku kembali ke kamarku. Kubentangkan kain itu, lalu aku sholat shubuh. Tak pernah aku sholat sekhusyu ini. Di rumah para pemeluk Hindu yang taat aku bersimpuh :

“Tuhanku kekasihku, maafkanlah hamba-Mu yang lemah ini. Aku tak meragukanMu, sebagaimana penghuni rumah ini tak meragukan Tuhannya”.

“Tuhanku kekasihku, maafkanlah atas kelancangan hamba-Mu yang telah berimajinasi, membayangkan kehendak-Mu. Dan ternyata aku keliru”.

“Tuhanku kekasihku, ampunilah aku, keluargaku, sahabatku, yang memusuhiku, dan semua umatmu di muka bumi ini.”

Amiin.

This entry was posted in @dikiumbara, Cerpen. Bookmark the permalink.

One Response to Sampai Jumpa di Sorga

  1. trisula says:

    ten thumb up….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s