Halusinasi

HALUSINASI

Dian Megawati

Senin, 7 September 2010
Cahaya cinta perlahan menuntunku dari gelapku
Kau yang selalu menjadi lentera cintaku
Membuatku terjaga dari mati suri cintaku

-Adam-

Perlahan kubuka catatan di sela pintu kamarku, sajak indah itu terselip disana. Otakku berusaha mengingat.
“ Adam ? Nama yang asing bagiku. Lalu kenapa ia bisa tahu kostku ? “
“Ah, peduli amat. Mungkin penggemar baruku” Bisikku dalam hati
Kenalkan, aku Airin. Mahasiswa semester 3 yang merantau ke kota besar ini untuk mencari ilmu. Ya, aku Mahasiswi UI Jurusan Hukum. Merantau dari sebuah kota kecil di Kalimantan. Bontang namanya. Ibu dan Ayah seorang PNS. Dan untuk sekolah disini aku mendapat beasiswa dari UI.
Aku teringat ini hari Senin setelah membaca puisi yang entah darimana datangnya itu. Dan sialnya waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Aku terlambat bangun !!
Segera kusiapkan buku, bergegas ke kampus yang jaraknya beberapa meter dari kost, dan tentu saja tanpa mandi.
“Rin ! Lo nggak mandi lagi ?” Sapa Dira di ruang tamu
“Enggak, gue telat nih.. udah dulu ya. Eh, lo tau nggak siapa yg kirim surat buat gue ? dimasukin di bawah pintu gitu “
“Meneketehe Rin, gue semalem jam 7 udah tepar. Hehe” Jawab Dira
“Ya udah sih. Gue cabut dulu. Bye !”
Dira menatapku sedikit jijik. Ya, 3 hari ini aku selalu terlambat bangun. Dan memaksaku untuk tidak mandi saat pergi ke kampus.

****

Sesampai di kampus, aku langsung menuju ke kelasku. Dosen sudah memulai pelajaran pagi ini.
“Selamat pagi pak, maaf saya terlambat” Kalimat yang kuucapkan saat memasuki ruang kuliah
“Hmm, tidak apa apa. Silahkan duduk !” Jawab Bapak Dosen
Hari ini mata kuliah Hukum Pajak. Dosen yang berdiri tepat di depanku ini bernama Uli Sidabalok. Asli batak, dengan perawakan tinggi besar, tampan, berwajah tegas, usia yang sebenarnya 50 tahun tak terlihat dari gurat wajahnya, Pak Uli terlihat seperti berusia 35 tahun. Ya, dia dosen favoritku. Aku mengagumi beliau bukan karena ketampanannya tapi juga karena cara mengajarnya yang menyenangkan dan tidak kaku. Ah, aku memang terlalu mengagumi beliau. Lebih mengagumi beliau daripada pacarku sendiri Dimas. Dimas memang tampan, dia mahasiswa jurusan ekonomi di UI. Dia pandai, putih, tinggi, berkacamata, tapi satu yang aku tidak suka dari dia. Dia terlalu kaku !
Dia memang terkenal sebagai pria idaman di kampus kami. Terutama di fakultas ekonomi. Siapa yang tidak kenal dengan Dimas. Dia murid paling tampan dan paling pandai. Untuk mendapatkannya saja aku butuh perjuangan ekstra. Sebenarnya, dia awalnya tidak menyukaiku, tapi karena tekadku untuk mendapatkannya sangat kuat, akhirnya dia takluk juga padaku setelah beberapa bulan aku mengejarnya. Banyak yang syirik saat kami berpacaran. Mereka selalu bertanya pada kekasihku “Apa sih yang kamu liat dari Airin ? pintar enggak, cantik juga enggak !” Dan Dimas hanya membalas degan senyuman. Aku memang tidak terlalu cantik, kulit juga tak putih, Dimas juga tak paham kenapa bisa jatuh hati padaku
Aku memang beruntung mendapatkan Dimas. Tapi kekakuannya dan cara cuek dia dalam mencintaiku membuatku sedikit tak nyaman.
“Airin !” Bentak Pak Uli membuyarkan lamunanku
“eh, eh, iya pak ?” Jawabku gugup
“Jelaskan pengertian dari hukum pajak !” Tanya Pak Uli, sepertinya beliau menyadari dari tadi aku tidak memperhatikan pelajaranya
“eh, sebentar pak..” Aku sibuk mencarinya di diktat kuliahku
“Kamu dari tadi sepertinya tidak memperhatikan penjelasan saya !” Selidik Pak Uli
“Eh, ini pak.. Hukum pajak adalah keseluruhan dari peraturan-peraturan yang meliputi wewenang pemerintah untuk mengambil kekayaan seseorang dan menyerahkannya kembali kepada masyarakat melalui kas negara” Jawabku sedikit bergetar
“Baiklah, mari kita lanjutkan macam macam Hukum Pajak” Tegas Pak Uli melanjutkan
Ahh, setiap aku melihat bapak ini menerangkan jantungku berdesir. Seperti ada angin yang bertiup setiap kali dia berbicara. Imajinasiku mulai liar, ini harus kuhentikan.
Tak terasa kuliah pertama ini usai, aku bergegas ke kantin. Dimas sudah menungguku disana. Kami memang hanya bisa memadu kasih di kantin saat sedang berada di kampus. Kantin tempat yang paling strategis karena berada di tengah-tengah fakultas kami.
“Hai beb !” Sapa Dimas melambaikan tangan padaku berusaha memberitahu keberadaannya di bangku nomor 30 kantin
“Hei !” Aku berlari kecil ke arah Dimas
“Gimana kuliahmu hari ini ?” Tanya Dimas
“Umppp, lancar kok sayang. Hanya saja Pak Uli tadi tahu aku sedikit tak memperhatikannya” Jelasku pada Dimas
“Hahaha, terus beb?” Tanya Dimas sambil menikmati Jus Mangga kesukaannya
“Dia tanya ke aku arti dari hukum pajak, untungnya aku tadi bisa jawab “
“Oh.. baguslah kalau gitu. Eh, kamu mau pesen apa ?” Dimas menawariku
“Biar aku pesan langsung saja kesana aja sayang” Sambil memperhatikan pelayan yang hilir mudik
Aku bergegas meninggalkan Dimas sebentar untuk memesan makanan dan minuman. Aku memilih memesan Jus wortel mix jeruk dan siomay. Setelah pesan aku segera kembali ke bangku 30 dimana Dimas setia menungguku tadi.
“Udah beb ? Kamu pesan apa ?” Tanya Dimas
“Aku pesan Jus kesukaanku sama siomay yang “ Jawabku
“Ah, aku tau ! Wortel plus jeruk bukan ?” tebak Dimas
“hehe. Iya sayang. Tahu aja kesukaanku” Jawabku sambil mendorong lengannya perlahan
“Eh, tadi kamu terlambat ya ? pasti belum mandi deh..”Selidik Dimas
“Hehehehe” Senyumku penuh arti meng-iya-kan kalau pagi ini aku tidak mandi
“Hmmm, dasar pacarku ini jorok !” Canda Dimas
“Ah, tapi kamu suka kan ??” Godaku padanya
Tawa kami mencairkan suntuknya suasana setelah jam kuliah yang kami hadapi.
“Aku sangat mencintai pria yang duduk di depanku ini” Bisikku dalam hati
Bibir merah tipis dengan sedikit peluh diatasnya membuatku ingin mencumbunya setiap waktu, badannya yang kekar selalu menghangatkanku dengan peluknya. Tapi satu yang tak kusuka, dia tak romantis..
****

Selasa, 8 September 2010

Pesonamu mengalahkan hamparan lazuardi pagi di ufuk barat
Mengusik sanubariku, membuatku selalu bahagia menyambut pagi
Saat senja datang aku selalu menunggumu di horizon cintaku
Selalu menunggumu sampai peluh membunuhku
Yang tampak di horison senja itu hanya wajahmu
Dan aku akan tetap menunggu..
-Adam-

Kutemukan lagi puisi terselip di pintu kamarku, isinya sangat indah. Tapi aku tak mengenal siapa pengirimnya. Hanya tertulis nama “ADAM” di akhir surat sama seperti surat yang ku terima tempo hari. Dadaku bergejolak, ingin tahu siapa pengirimnya. Kutanyai beberapa teman kost-ku dan mereka tak ada satupun yang tahu. Aku pikir mungkin salah satu teman dari teman kostku yang kadang berkunjung kemari. Dan sedikit iseng menyelipkan surat berisi puisi itu. Tapi ternyata tak ada yang tahu.
Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, aku bergegas mandi. Dimas janji akan menjemputku. Hanya untuk memastikan aku tak terlambat untuk masuk kuliah. Setelah mandi aku menyiapkan buku bukuku, dandan cantik karena Dimas menjemputku.
“Tumben Rin keliatan cantik !” Goda Dira yang melihatku beda pagi ini
“Iya dong, mas pacar kan mau jemput. Hehe” Jawabku
“Idihh, padahal biasanya kagak mandi” Ejek Dira
“Biarin wekkk, sirik aja lo ! Suruh Toni jemput dong, biar nggak iri sama gue” Kubalas ejekan Dira
“Awas ye lo, besok Toni bakal gue paksa buat jemput kesini” Kelakar Dira
“hehehe, kita liat aja. Eh, lo tau nggak yang nyelipin surat di pintu kamar gue ?” Tanyaku pada Dira
“Perasaan bukannya elo sendiri yang nyelipin kesitu ye ?” Jawab Dira
“Hah ? Gue ? Nggak mungkinlah.. emang lo liat ?” Tanyaku tak percaya
“Semalem gue liat lo nyelipin surat ke pintu lo, cuma waktu gue panggil lo nggak jawab. Gue pikir lo sedang nglindur” Jelas Dira padaku
“Umppp, ehhhhh.. “ Aku masih tak percaya
“Beneran Rin.. Gue semalem liat elo. Mira saksinya tuh !” Jawab Dira meyakinkan
Lalu Dira meninggalkanku dalam keadaan bengong, karena dia harus bersiap ke kampus juga.
~Tinnnn..tiiiinnnnnnnnnnn !!
Suara klakson mobil Dimas membuatku tersentak. Segera aku bergegas menuju halaman rumah kost, Dimas sudah menungguku dengan manis di mobilnya.
“Pagi sayang..” Sapa kekasihku
“Pagi sayaaangggg… “ Jawabku
“Kok wajahmu pucat gitu ?” Tanya Dimas
“Eh, nggak apa apa kok. Ntar aku cerita deh” Jawabku sedikit gugup
D 1177AS melaju mencumbui jalanan Ibukota, sedikit macet. Tapi untungnya kampus kami dekat dengan kostku. Jadi kami tak terlalu lama stress menghadapi jalanan ibukota. Akhirnya kami sampai kampus. Dan kami berpisah di persimpangan kampus. Ya, kami harus masuk ke kelas kami masing-masing.
Tak terasa jam kuliah habis, dan seperti biasa aku san Dimas bertemu di kantin.
“Kamu kok tampak murung sayang ? Katanya tadi mau cerita ? ” selidik Dimas
“Eh, iya.. Aku cerita tapi kamu jangan marah ya sayang” Jawabku
“Iya.. ada apa sih ?” Tanya Dimas
“Beberapa hari ini aku terima puisi dari seseorang. Namanya Adam” Ceritaku pada Dimas
“Apa??!!” Dimas sedikit menaikkan nada bicaranya
“Bentar yang, jangan marah dulu.. Tapi tadi aku tanya Dira, katanya si pengirim itu aku sendiri” Jelasku pada Dimas | “Tapi aku masih nggak percaya” Jelasku sekali lagi
“Hmmhh, bagaimana mungkin itu kamu sendiri yang kirim surat ?” Tanya Dimas tak percaya
“Aku juga nggak tau.. Tapi Dira liat waktu aku selipin surat itu. Ada Mira juga saksinya” Jawabku | “Sepertinya aku harus ke pskiater deh yang..”
“Sepertinya begitu.. atau ntar aku anter buat konsultasi ?” Tawar Dimas
“He’em” Aku mengangguk pasti
*****

Sepulang kuliah akhirnya kami menuju ke sebuah klinik pskiater. Dokter menjelaskan padaku dan Dimas. Aku terlalu sering berhalusinasi, salah satunya mempunyai keinginan untuk punya kekasih yang romantis yang tak bisa kudapatkan dari seorang Dimas.

Dimas sangat mengerti aku, dia berjanji akan lebih memperhatikanku. Walau mungkin sedikit sulit mengubah sifatnya yang sedikit kaku. Ah, aku beruntung punya kekasih seperti dia. Aku tak membutuhkan kekasih yang ada dalam imajinasiku seperti Adam ataupun Pak Uli Sidabalok dosen favoritku.

This entry was posted in @me_gaa, Cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s