Berdamai dengan Kenyataan

Berdamai dengan Kenyataan

Rayinda Kinanti

Aku adalah Yaneda, seorang wanita matang berusia 26tahun. Diluaran, kebanyakan wanita seusiaku sudah menikah bahkan memiliki anak. Sedang aku? Aku memang tidak single, aku punya kekasih sejak 5tahun belakangan ini. Kekasihku Roy, duda 41 tahun dengan seorang anak gadis 6 tahun, Zahra. Tapi hingga kini, kekasihku tak kunjung melamarku. aku merasa seorang diri.

“Abi, aku capek”

“Kenapa mis? Kerjaan yah?”

“Bukaaan! Ini tentang hubungan kita. Sampai kapan begini terus?”

“Aduh mis, kamu mau bahas pernikahan yah? Aku masih muak soal itu”

“Muak?! Apa nggak cukup waktu 5tahun untuk pulihin hatimu?”

“Gak segampang itu mis… Mengertilah”

Ah, lagi-lagi hanya itu tanggapan Roy Tak ada alasan lain. Hanya muak, muak dan muak! Apa harus aku menunggunya sampai aku keriput? Aku sudah merasa lelah…

***

Ku ambil sebatang lagi, ku sulut zippo lalu ku hisap perlahan nikotinku ini. Sore yang sepi.. Hanya berteman rokok, secangkir kopi dan setumpuk tugas kantor. Penat! Aku benar-benar bosan!

“Ned, kamu kapan nikah?” Tanya bunda ku malam itu

“Aduh bunda, belum terpikirkan olehku”

“Mau nunggu berapa lama lagi Ned? Keburu Bunda pergi lho”

“Bunda kok ngomong gitu?”

“Bunda ngebet nimang cucu Ned, suruh Roy lamar kamu dong”

“Kami belum bicara soal itu Bun, aku juga nggak pengen dikira ngoyo”

“Ya sudahlah Ned, cepat istirahat ya. Bunda kekamar dulu”

Aku mengangguk. Bangkit dari kasur lalu bercermin. Ah, ternyata aku sangat cantik. Meski garis halus mulai menghiasi lekuk wajahku. Lalu mengapa Roy tak kunjung menikahiku? Apa yang salah dariku? Berondongan pertanyaan besar hinggap dipikiranku. Membuatku putar otak hilang kendali.

***

“Nedaaaaaa”

“Aih, Morin! Ngagetin aja deh kamu”

“Yee, makanya jangan bengong dong!”

“Suntuk banget nih Rin. Bete”

“Kenapa? Roy?”

“Huffh, siapa lagi emang?”

“Tinggalin dong Ned, cari yang pasti”

“Masalahnya, mana ada yang mau ama wanita matang sepertiku?”

“Ada dong Ned!”

Sekali lagi, Morin sahabatku datang diwaktu yang tepat. Menaikan mood-ku yang mulai drop. Laki-laki mapan dan tampan ini memang sahabat terbaik. Selalu bisa ku andalkan.

“Iyah Rin, thankss yah masukannya”

“Apapun itu, asal aku bisa melihat lesung pipimu merekah”
Ucap Morin sembari menggenggam tanganku dan mengelus pipiku.

Oh Tuhan, ada yang bergetar dalam dadaku. Sepertinya pertahananku runtuh. Kalah oleh seorang sahabat terbaikku. Lalu bagaimana dengan Roy? Sepertinya memang aku mati rasa dengan kekasihku itu.

***

“Pranngg!!!”
Suara gaduh diruang tengah rumah Roy

“Kalau aku bilang jangan ya jangan! Nurut dong mis!”

“Aku pengen liburan sama Morin aja kok Bi, kenapa nggak boleh?”

“Aku gak suka kamu terlalu dekat sama sahabatmu itu”

“Dia sahabatku Bi! Nggak mungkin kita macem-macem”

“Ah apapun itu! Aku nggak percaya!”

“Pokoknya aku tetap pergi!”

“Aku nggak ngijinin!”

“Terserah!!!”
Ucapku sambil berlalu keluar beranda rumahnya.

Sepertinya kami tak pernah akur. Setiap hari selalu saja ada masalah. Rumit tak beraturan.

***

“Morin, temenin aku ngopi yuk!”

“Siap nona! Kemana aja aku siap buat kamu”

“Jemput aku setelah pulang kerja yah, aku tunggu dikantor”

“Siaapp cantik.. Jam5 sore aku sampai kantormu”

“Okayyy”
Klik. Tut tut tutttt.

Aha. Hatiku bahagia. Akan ada Morin yang menemaniku melewati senja nanti. Dikala galau merundungku, hanya dia penyemangatku. Bukan Roy…

“Frappucino satu, spicy wings satu mbak. Kamu apa Rin?”

“Emm, aku hot coffee aja mbak”

Pelayan itu menjauh. Kami diminta menunggunya beberapa menit kedepan. Kusulut rokokku lagi. Morin juga merokok. Memang tampan lelaki dihadapanku ini. Hidungnya yang mancung, matanya yang coklat dan kulitnya yang putih, mampu menghipnotis semua wanita yang melihatnya. Termasuk aku. Sahabatnya.

“Gimana soal kamu sama Roy, Ned?”

“Apanya yang gimana, Rin?”

“Ya itu, sudah membaik?”

“Belum.. Semakin hancur”

“Kok bisa? Bukannya kamu sangat menyayangi Roy kan?”

“Memang, tapi sepertinya rasa penatku menutupinya”

“Hmm…”
Morin menghela nafas panjang. Berat dan dalam. Sepertinya dia dapat merasakan kesakitanku.

“Tenangkan hatimu, Ned. Mending kita mikir rencana liburan kita!”

“aih, kamu benar, Rin! Ayo kita siapin perkakas liburan.”

“Ahahaha, bisa aja kamu, Ned. Emg kita mau ngapain pake perkakas segala”

Morin mencolek hidungku. Sepertinya dia gemes sama aku. Lalu kami tenggelam dalam tawa bahagia.

***

“Mis, kerumah dong! Zahra kangen kamu katanya”

“Aduh bi, aku lembur malam ini. Gimana? Besok aja yah?”

“Zahra gak mau tidur kalo gak ama kamu nih”

“Bi, beneran aku gak bisa… Kerjaan udah numpuk banget nih”

“Ah kamu gak bisa diandelin! Katanya sayang sama anakku?! Mana?!!!”

Lihat, lagi-lagi kami bertengkar. Aku jengah mendapati saat-saat begini. Semakin ingin lari dari Roy.

“Helooo sweety.. Lagi apa?”

Sstt Morin telvon. Heheeee

“Lagi bete.. Roy ngajak ribut terus”

“Udah, jangan cemberut! Kan ada aku nih”

“Walaupun lewat telvon, cukup menenangkanlah kau”

“Hahaaaa, kamu bisa saja menaikan ku!”

Suara renyah tawa Morin membius hatiku. Aku tersipu dibalik gagang telvon. Membayangkan bagaimana burat wajahnya saat ini.

Andai saja Morin yang menjadi kekasihku. Andai saja 5 tahun lalu aku menerima pernyataan cinta Morin. Andai saja aku tak gengsi dan menampiknya atas nama persahabatan kita. Mungkin sekarang ceritanya lebih indah.

Akhirnya kelar juga lemburanku. Aku rindu Morin. Ku ambil handphone dan mulai mengetik smsnya untuknya: sahabatku sayang, kebo gembulku. Lagi apa malem ini? Udah makan?

Sent

*bip bip bip*
New message from Morin Gembul: menantimu tak sibuk sayang. Aku uda makan. Gimana kamu? Awas yah jangan sampe sakit!

Senyum tersungging dimukaku. Melenyapkan rasa lelah sehabis lembur. Melegakan segala penat dalam dada. Morin, aku mencintaimu diam-diam wahai sahabatku.

***

“Tante, kok gak pernah kerumah?”

Zahra, anak Roy menelvonku.

“Tante lagi sibuk nak, kamu baik-baik aja kan?”

“Baik kok tante, Zahra cuma kangen tante Neda”

“Nanti tante sempatkan waktu untuk mengunjungimu ya nak”

“Iya tante, bawa oleh-oleh ya hehee”

Anak Roy satu-satunya ini memang sudah akrab denganku. Dan itulah salah satu alasan jika hingga saat ini, aku belum bisa melepaskan Roy. Meski hatiku sudah tak ada untuknya.

***

Hari ini hari jumat, saatnya aku pergi berlibur dengan Morin. Lumayan dapat waktu 3hari untuk melepas galau. Aku dan Morin akan beranjak ke Bali. Disana kami akan bersenang-senang. Barang bawaan sudah siap. Aku tinggal menunggu Morin dating menjemput.

“Yukk, Ned”

“Ah, dateng juga kamu. Kirain lupa”

“Siall, baru telat 5menit uda protes”

“Egh! Telat mah telat aja Rin”
Ucapku sembari mencolek perut Morin.

“Yuk ah berangkat, sebelum pesawatnya kabur lho”

Kami pun berangkat menuju bandara. Tak sabar rasanya berlibur berdua sahabat sekaligus kekasih imajinerku. Sepanjang perjalanan hatiku tak berhenti berdetak cepat.

“BALIIIIIIII”
Morin berteriak saat sampai dibandara. Yaah, kami sudah di pulau dewata. Roman liburan semakin kental. Kami pun melangkah semangat ke penginapan.

***

“Senja ini indah yah”
Ucap Morin sembari mengamit tanganku

“Iyah, apalagi ku lewati bersamamu.”

“Hahaaaa, kalo itu aku sudah tahu”
balas nakal Morin sembari cekikikan

Gregetan akuuu!!!

“Aku ingin menjadi abadi bagimu Sahabatku. Kapanpun kau butuh aku, aku siap”
Mantap Morin ketika dinner.

Aku tercengang. Tampaknya dia tak merasakan detak jantungku. Tampaknya dia hanya ingin menjadi sahabatku selamanya. Tak kurang tak lebih. Kecewaku. Hancur berkeping-keping.

“Yah, selamanya kita akan bersahabat, Rin”
Balasku tanpa gairah.

Morin melanjutkan makannya lagi dan aku semakin hancur saat sayup-sayup ku dengar lagu Drive -kekasih imajiner- di cafe pinggir pantai ini….

“Taukah engkau bahwa diriku memujamu.

Apa adanya begitu dalam cinta padamu

Tak perlu waktu untuk diriku mengenalmu

Karena kutahu semua cerita tentang dirimu

Aku terdiam disaat dirimu menghilang
Entah kemana pergi jauh meninggalkan aku

Pernahkah kau melihat diriku
Kau menatap diriku

Seperti ku memandang dirimu
Apakah kita akan bertemu

Hingga kau membawaku
Tuk menjadi bagian hidupmu

Baru kusadar hanyaku yang berharap
Kau hanya hidup didalam anganku
Mimpiku”

Menangisku dalam hati. Morin tetaplah sahabatku. Dia hanya kekasih khayalanku. Dia hanya hidup dalam imajiku, tak dalam kenyataan. Sekarang hanya aku yang harus tetap berjuang bersama Roy dan Zahra. Yah, hanya itu.

This entry was posted in @nankinann, Cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s