Senyum di Atas Kanvas

Pangeran Abdul Aziz

PAGI yang sejuk, hembusan angin yang menyayat kulit, tapi sepertinya malam enggan beranjak. Sementara suara kokok ayam bersahut-sahutan menyambut datangnya fajar. Rudi, lelaki saleh yang hidup hampir sebatang kara, untung ada kakek Boni yang merawatnya, sedangkan seluruh keluarga Rudi mati disapu badai, genap dua tahun lalu. Mungkin sudah saatnya Rudi mandiri, tapi jalan yang dikehendaki tuhan tidak biasa untuknya. Kakek Boni adalah lelaki tua renta yang hidupnya hanya tinggal beberapa menit lagi, bahkan detik. Tapi ia tetap tegar, mengarungi kerasnya hidup ditengah kemiskinan. Dua lelaki ini bak pahlawan di desanya. Mereka serasi, sama baik dan solehnya.
Pagi pun mulai hidup, aktivitas Rudi menanti. Kambing dan ayam-ayam kakek Boni sasarannya. Mereka harus sering diberi makan, jika tidak, darimana kakek Boni dan Rudi bertahan hidup?

Usia Rudi kini tujuh tahun, dan kini dia duduk di bangku sekolah dasar, sekolah tempat ia menimba ilmu itu, tak jauh dari tempat tinggalnya. Tiap pagi, Rudi tak berangkat sendiri, biasanya ada empat sampai lima orang kawan yang menunggunya untuk berangkat ke sekolah bareng. Di sekolah, tepat bel tanda apel pagi dibunyikan.
“Ah,untung saja”kata Rudi.
Lalu segera ia menuju kelas, meletakkan tas, lalu kembali ke halaman sekolah.
Saat sedang apel,”aduuhh,perutku sakiit,apa salahku?”Tanya Rudi dalam hati sambil memegangi perutnya yang sakit. Beberapa teman menoleh kepadanya, ingin membantu tapi sepasang mata kepala sekolah tetap mengintai dari balik seragam.
“Maaf ya Rudi,”kata Badan, kawan Rudi.
“Iya, ok, aku nggak papa kok,”jelas Rudi.
Baiklah anak-anak, apel pagi ini kita cukupkan sampai disini…suara itu,milik pak kepala sekolah yang sedang menutup penyampaiannya pagi itu.
Untunglah apel pagi segera selesai, Rudi lalu bergegas ke kamar kecil yang letaknya dibelakang sekolah,belum terlambat.
Kutukan pagi macam apa yang kudapat ini….
Di kelas, pelajaran demi pelajaran diikuti Rudi dengan serius, tak heran jika nilai akademiknya selalu memuaskan. Pelajaran yang paling dicintai Rudi adalah kesenian, terutama melukis, bakatnya memang mulai terlihat saat salah satu lukisannya terpilih sebagai lukisan terbaik di antara siswa sebayanya. Beberapa piagam pun telah di genggamnya, walaupun masih kecil, tapi ia punya prestasi yang luar biasa.
Teng teng teng teng teng…. Bel tanda pelajaran usai telah dibunyikan, saatnya pulang ke rumah menemani kakek yang kesepian. Di rumah, Rudi kembali membantu kakek mencari kayu-kayu kering untuk kayu bakar. Agar nasi dan lauk pauk mereka matang, dan saatnya makan siang. Kakek makan dengan lahapnya siang ini, Rudi tersenyum, maklum, hanya kakek Boni harta berharganya saat ini, lebih daripada tumpukan balok emas.
Hari-harinya di jalani seperti biasa, begitu setiap hari. Sampai tiba saatnya Rudi harus menentukan untuk melanjutkan sekolahnya ke tingkat menengah, sementara kehidupan mereka tetap miskin. Dilema muncul,namun inilah sebuah tantangan yang harus dijalani Rudi dalam mengarungi kerasnya bertahan hidup dan cara untuk bangkit.
****
Sekolah yang dituju Rudi adalah sekolah menengah pertama negeri satu. Entah kenapa Rudi selalu ingin menjadi yang pertama. Di jenjang ini, bakat melukisnya sedikit lebih baik dan lagi-lagi Rudi mendapat beberapa piagam penghargaan untuk karya-karyanya itu. Karyanya yang paling terkenal adalah lukisan tentang kisah hidupnya bersama kakek Boni. Lukisan yang ia buat atas nama cintanya pada kakek Boni. Dan inilah karyanya yang sempat sangat hits waktu itu. Lukisan itu seakan hidup, lebih dari 3D.
Rudi adalah orang yang jenius, ilmu ekonomi dari kakek Boni sedikit diterapkan dalam hidupnya. Cara yang paling cepat saat ini adalah bagaimana dia menjual karyanya yang begitu favorit menjadi tumpukan emas, toh juga untuk membiayai hidupnya dan kakeknya itu. Berhasil… sedikit demi sedikit uang dari hasil penjualan lukisannya itu, bisa menghasilkan sekarung uang. Dan suatu pukulan telak dimana, saat itu pukul enam pagi, hari senin, kakek Boni akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di hadapan sujudnya,tuhannya. Kakek Boni genap berumur delapan puluh tahun. Orang yang membuat Rudi jadi berhasil telah pergi meninggalkan dunia untuk selamanya, yang mengajarkan Rudi cara bangkit dari hidup yang sulit. Dialah kakek Boni, lebih dari pahlawan nasional sekalipun, dimata Rudi. Upacara pemakamannya pun, disajikan dengan cara yang sederhana. Isak tangis Rudi tak habis-habis, halaman rumah yang dihuni Rudi pun seketika banjir oleh air mata suci itu. Dari tempat pemakaman, kakek Boni tersenyum, matanya berkaca-kaca, menangis bahagia. Rudi sangat terpukul dengan peristiwa itu.
“Aku telah berhasil mendidiknya menjadi manusia mandiri, berprestasi dan berbakti,”batin kakek Boni dari bawah tanah pemakaman.
Minggu itu benar-benar hari yang sangat sulit bagi Rudi. Jika kangen kakek Boni, Rudi mengeluarkan suatu benda dari saku celananya, yang dibawanya kemana-mana, seperti boneka sulaman kecil, yang ia buat disekolah, persis menyerupai kakek Boni. Mungkin itu adalah cara yang selalu dilakukan tiap kali Rudi kangen kakeknya, praktis.
Sebulan setelah kakek Boni meninggal, Rudi kembali bangkit dari kesedihan. Satu demi satu rencana dipersiapkan kembali. Ia harus tetap melanjutkan goresan cerita diatas lembaran harinya tanpa kakek Boni., berat sebenarnya.
“Ini demi masa depanku, aku tak boleh terus bersedih, kakek Boni bisa ikut sedih”batin Rudi.
Sebagai seorang muslim,shalat lima waktu tetap dijalani. Bertemu tuhan tiap waktu sangat menyenangkan, katanya. Seperti bercakap dengan kakek Boni. Rudi tak canggung menceritakan semua deritanya kepada tuhannya. Rudi kembali bersemangat, beban berat didadanya plong. Ada beberapa berita bahagia untuknya, mungkin ini sebagai trik untuk menutupi kesedihannya beberapa bulan lalu.

****
Kini, beberapa ekor kambing ternaknya telah beranak pinak, makin banyak. Hingga terpikir olehnya untuk menjual sebagian kambing-kambing itu atau mungkin menyumbangkannya untuk fakir miskin dan orang tidak mampu. Begitu pula dengan ayam-ayamnya, sebagian disedekahkan,sebagian dijual dan sisanya tetap dipelihara. Karena sisa ayam yang tidak dijual masih banyak, terpaksa Rudi membuat kandang baru yang sedikit lebih luas dari kandang yang lama. Hitung-hitung sambil belajar berternak.
Hingga,dalam beberapa bulan saja Rudi sudah menjadi salah seorang peternak kambing dan ayam yang sukses di desanya. Cukup sukses untuk seorang pemuda yang baru mengecap sebagai siswa sekolah menengah pertama.

Di sekolah pun tetap sama, prestasi demi prestasi diukirnya. Kesusksesan itu lantas tak membuat dirinya sombong. Terdengar kabar, Rudi adalah salah seorang dermawan, yang gemar membantu kaum yang tidak mampu. Sempurna, ia pemuda hebat. Betapa takjubnya orang-orang disekitarnya.

Tiga tahun bukan waktu yang singkat, sekolah menengah pertama pun ia tuntaskan tanpa hambatan. Namun Rudi tetap pemuda sederhana yang bersahaja. Disukai banyak orang.  Beberapa orang tua telah menjodohkan rudi dengan anak gadisnya,namun Rudi menolak. Menyenangkan memang menjadi pribadi seorang Rudi. Anda pun ingin, bukan?

Be the number one..
Sekolah menengah atas negeri satu, lagi-lagi menjadi tujuan Rudi menimba ilmu. Ia memang selalu ingin menjadi yang pertama, prinsip itu takkan akan pernah ia abaikan. Di sekolah ini, gaya belajar Rudi agak sedikit berbeda, ia terlalu banyak mengkhayal. Entah apa yang dipikrkannya? layaknya pikiran pemuda sebaya. Umurnya sekarang kan memang enam belas tahun, dimana sudah mulai mengenal cinta. Cinta yang ia tuangkan dalam setiap waktunya. Rudi pun lebih sering melukis. Apapun yang ia lihat, ia tumpahkan kedalam selembar kanvas putih miliknya.
****

Suatu malam, malam minggu tepatnya, tanggal 10 Januari 2009, ia memimpikan seorang gadis. Entah darimana gadis itu muncul. Namanya Rani, rambutnya yang terurai panjang, wangi dan lembut, kulitnya sawo matang, mulus, matanya yang coklat, dan pandangannya yang lembut dari sepasang bola mata sayup. Ia mulai berpikir, pasti gadis ini datang dari akhirat, yang sengaja tuhan perkenalkan dengan dirinya, atau dialah hadiah terindah tuhan untuknya, atas pengabdian kepaNYA.Gadis yang sempurna,batinnya. Rudi takjub, tak ada gadis seperti dia di desa ini, lanjutnya.
Kkrriiiiiinngggggggggg…. tiba-tiba bunyi wekernya menggulung mimpi indahnya itu. Sirna sudah, dan sinar mentari mulai menyusup masuk perlahan, diantara celah yang kosong, tak berjejak.
Ah, masih lama, setelah melihat angka di jam weker itu. Rudi pun kembali meneruskan tidurnya, ia masih penasaran dengan sosok Rani yang datangnya mendadak. Berharap bisa menemuinya,di tidurnya yang terkesan dipaksakan itu. Hasilnya, tetap tak bisa, Rani pergi untuk sementara, mungkin akan datang lagi pada malam selanjutnya.
Esoknya, di sekolah, sepanjang hari Rudi mencoba memikirkan Rani. Sosok Rani yang begitu indah, gadis yang baru saja ditemuinya tadi malam.
“Begitukah bentuk bidadari?”Tanyanya dalam hati.
Sampai-sampai seorang guru menegurnya.
“Apa yang sedang kau pikirkan,nak?”Tanya Bu Ani
“Tak ada bu, aku cuma penasaran pada seorang wanita”jawab Rudi
“Siapakah dia?adakah dia diantara murid-muridku?”Tanya Bu Ani lagi
“Ah, rasanya tak ada bu, tapi entahlah dia salah seorang murid ibu atau bukan”jawab Rudi lagi.
“Ya sudahlah kalau begitu, jangan kebanyakan melamun, nak, tak baik”kata bu Ani mengakhiri perjumapaannya dengan Rudi, di bangku pojok ruang kelas.
Rudi lalu bergegas pulang ke rumah. Di ruang tengah, di atas sehelai papan kering, ia coba menjelaskan sosok Rani diatas kain lukisnya. Sampai ia tak sadar, hari telah menjelang sore. Makan siangpun ia abaikan, tentu demi mengungkap siapa Rani.
Malamnya kembali Rudi bermimpi. Kali ini Rudi mulai berani, mengajak Rani keluar,  sekedar mencari angin segar. Rani mengiyakan ajakan Rudi. Merekapun lalu keluar, menuju kesuatu tempat, taman kota. Melihat keatas langit, dimana bintang kelap-kelip, seperti menari. Mungkin sengaja, mereka tahu kedatangan Rudi dan Rani.
Malam semakin larut, hawa semakin dingin, tapi pertunjukan bintang itu belum juga usai. Rani coba terbang ke langit, meyuruh pertunjukan itu usai, tapi lupa, ia tak membawa sayapnya, terlalu tergesa-gesa ia keluar bersama Rudi tadi. Setelah puas, Rudi pun mengembalikan Rani ke rumahnya. Pagihari, kembali Rudi dibangunkan oleh weker keramatnya. Keramat karena kakek teman Rudi, meninggal setelah mendengar bunyi weker itu, ia alergi weker.
Di sekolah Rudi masih mengkhayal, nilai akademiknya kali ini agak menurun, rata-rata delapan, tapi tetap saja, ini hal yang tak biasa buat Rudi. Rudi tetap tak perduli dengan hal itu, yang penting bagaimana ia bisa bertemu Rani, gadis yang dua malam ini selalu mengisi bunga tidurnya. Siangnya, ia mulai melukis lagi, Rani dengan ekspresi yang berbeda. Aneh, di lukisan yang kedua ini, Rani sedikit tersenyum. Perasaan Rudi semakin menjadi, denyut nadinya terdengar melebihi detak detik jam dindingnya. Waktu berlalu…
“Alamak,cantiknya,”kata Rudi.
Ia lalu duduk di beranda depan, menatap langit, tak sabar menunggu malam agar Rudi bisa bertemu kekasihnya itu lagi. Dan, malampun tiba, bisa ditebak. Kali ini Rudi mengajak Rani kencan disebuah kedai kopi ,di sudut kota. Kopinya original, pekat, namun tak seperti perasaan Rudi kepada Rani. Rudi mulai merasakan cinta dalam pertemuan ini, pertemuan ke tiga.
Tiap hari, siang melukis dan malam berkencan. Tak terasa siang ini Rudi melukis untuk ke lima puluh kalinya.
Sabtu pagi, hari libur yang tak pernah dilewatkan Rudi untuk berkeliling kota. Tapi, pagi itu ia mampir dahulu kepasar. Seperti ada yang memanggilnya untuk kesana. Dan secara tak sengaja ia bertatapan dengan gadis, mirip dengan apa yang membuatnya gelisah selama ini. Rudi pun menghampiri gadis itu. Firasatnya benar.
“Hmm.. Rani bukan?celetuk Rudi, sambil menyodorkan tangan kanannya, menghampiri gadis itu.
“Oh,maaf, anda siapa ya?”Tanya gadis itu.
“Aku Rudi, benarkah engkau Rani?”Tanya Rudi dengan rasa penasaran.
“Aku Rina, bukan Rani.”Sembari membalas sodoran tangan kanan Rudi.

Tangannya selembut kapas, dingin, ia coba menerwang pikiran gadis itu, namun gagal.
“Wajahmu seperti Rani, gadis yang selalu hadir dalam mimpiku”Ujar Rudi,melanjutkan percakapan.
“Tapi, namaku Rina mas, bukan Rani”sanggah Rina.
“Maaf, mas, hari sudah mulai siang, aku harus bergegas pulang”lanjut Rina.
“Baiklah”balas Rudi.
Sekejap, Rudi tersadar, ia lupa menanyakan dimana alamat gadis itu tinggal.
“Sial, kenapa aku tak kepikiran alamatnya”sesal Rudi.
Rudi pun bergegas meninggalkan pasar,mencoba mengikuti gadis itu,tapi gadis itu tak meninggalkan jejak satupun, seperti berjalan diatas angin.
Rupanya pagi tak memberikan waktu pada Rudi untuk berkeliling kota lebih lama, sinar mentari mulai membakar, Rudi lalu berjalan menuju rumahnya.
Beranda depan, tempat Rudi mendapat inspirasi. Ia masih termangu, benarkah gadis yang ditemuinya itu Rani?ataukah nama Rina itu hanya sebuah alibi untuk menyamarkan identitasnya?
Ia lalu memungut tumpukan gambar dari kolong meja,tempat ia biasa menggambar, diambilnya tumpukan kanvas miliknya, lalu ia cocokkan lukisan-lukisan itu dengan wajah Rina, gadis yang ia temui di pasar tadi, mirip. Lukisan Rani di kanvas itu, sedikit berkeringat, kulitnya sedikit menghitam.,Rudi menemukan seberkas sinar mentari yang tersesat di kulit Rani, Rudi terhenyak melihat lukisannya yang sedikit aneh itu.
Malam pun kembali menyapa.Rudi kembali bertemu Rani dalam bunga mimpinya. Disitu Rudi bertanya pada Rani, karena rasa penasarannya yang masih tersisa.
“Rani, apa tadi pagi kamu kepasar?”Tanya Rudi.
“Ah, nggak, tadi pagi aku masih tidur”jawab Rudi.
Tetap saja Rudi tak percaya, tapi sudahlah, yang penting malam ini bersama Rani.
Esoknya, disekolah, Rudi mendapat panggilan kepala sekolah. Nilai akademik Rudi terus merosot.
“Rudi, nilaimu terus merosot, kenapa bisa seperti ini?padahal sebelumnya nilai-nilaimu cukup memuaskan”lanjut kepala sekolah.
“Maaf, bu,akhir-akhir ini pikiranku sedang tak fokus untuk belajar”jawab Rudi.
“Kenapa?ada apa sebenarnya?”Tanya kepala sekolah lagi.
“Maaf, bu, tapi ini rahasia pribadi saya”jawab Rudi lagi.
“Jika begini terus, kamu bisa menjatuhkan citra sekolah, bukan saja kamu yang rugi, tapi sekolah ini juga”lanjut kepala sekolah.
“Baiklah bu, akan kupikirkan”jelas Rudi.
“Permisi bu”lanjut Rudi sembari meninggalkan ruang kepala sekolah.
****
Siapa Rani sebenarnya? juga Rina, tanya Rudi dalam hati. Apakah dia benar-banar nyata?
Hingga, untuk mengobati rasa penasarannya yang terus bergejolak, malam hari Rudi coba mengintip lembaran-lembaran kanvas yang selama ini dilukisnya. Ia menyuruh bayangannya untuk menguak misteri siapa Rani sebenarnya.

This entry was posted in @aizpangeran, Cerpen. Bookmark the permalink.

One Response to

  1. Meillyssa says:

    Sengaja ya ceritanya ga selsai ? Atau ada sekuelnya ?

    Ah, ingin sekali mengetahui akhirnya…

    Semangat dan teruslah berkarya ya
    ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s