Kepada: KAMU yang Tak Pernah Kutahu

Kepada: KAMU yang Tak Pernah Kutahu
oleh Angghie Gerardini

Isna mempercepat langkahnya. Sedikit berlari. Menyusuri lempeng tembaga panjang menggantung di atas aspal kota. Jembatan halte Trans Jakarta. Derap kakinya hampir tak terdengar. Beradu dengan bisingnya suara roda dua, tiga, empat, bahkan lebih. Penghuni jalanan ibu kota. Beberapa kali ia sempat melirik arlojinya. Diantara suara desah lelah.
“Ah, pasti sempat. Semoga tak terlambat,” batinnya.
Desak manusia terlihat memanjang dari jauh. Tak beraturan. Sedikit serabutan. Sekali lagi, Isna mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Pasrah pada keterlambatan yang sudah pasti ia dapatkan.
Perlahan Isna mengubah kecepatan langkah kakinya. Berjalan mulai beraturan. Kemudian pandangannya menyisir sekitar. Mencari bulat perak memanjang yang tak berisi orang menunggu bus datang atau sekedar menunggu antrian lenggang.
Dapat.
Ia arahkan langkahnya ke salah satu bangku berwarna perak di sisi-sisi antrian. Di balik beberapa kotak kaca besar halte Matraman.
Isna masih mengatur kembali nafasnya. Merapihkan sisa-sisa engah. Sesekali Isna menengok ke sisi kirinya. Sedikit mendongak, mencari bus abu-abu yang mungkin timbul di balik kaca setelah lampu lalu lintas di seberang sana. Terlambat pasti terlambat. Isna pasrah.
Drrt… Drrrrrtt… Drrrtt…
Malas-malasan Isna mencari ponselnya di dalam tas. Terselip dimana entah. Sejak tadi bergetar tak karuan.

8 messages received
Isna mengerutkan keningnya sejenak. Kemudian membuka pesan itu satu per satu yang ternyata isinya sama, meski dikirim oleh delapan orang berbeda. Beberapa teman sekelasnya.

Hari ini Bu Nurul sakit. Kuliah ditiadakan. Sebarkan!

“Hah?” Gumam Isna pongah.
Keningnya semakin berkerut. Entah harus kesal atau senang mendapat kabar itu. Seharusnya pagi ini ia presentasi. Sejak jingga masih terlelap, Isna sudah membuka mata. Mempelajari materi Bunga dan Diskonto Tunggal yang harus ia dan rekan sekelompoknya presentasikan. Hingga setelah subuh tiba, Isna masih hanyut dalam sederetan rumus dan angka-angka. Ia pun tergesa ketika langit mulai merekahkan jingga. Sampai kini, ketika akhirnya ia pasrah pada keterlambatan dan yakin dapat semprotan segar dari dosen yang konon terkenal killer itu.
Isna masih linglung. Bingung. Ia raih lagi ponselnya, berniat menyampaikan beberapa racau kesal dalam kicauan seratus empat puluh karakter. Ibu jarinya terpaku sejenak mengikuti matanya yang sumringah.
“Sajak-sajak ini lagi,” batinnya. Kemudian senyum membuyarkan kerutan lelah di wajahnya.
Satu racau sajak, dua, tiga, dan seterusnya…
Isna terpesona. Hanyut dalam pesona aksara hasil racau entah siapa.
Isna tak pernah tahu siapa dia. Meski hanya sekedar nama. Ini dunia maya, nama bisa diubah semaunya. Tapi Isna tak peduli. Sunggu tak pernah peduli siapa orang di seberang sana, yang Isna tahu, ia adalah seorang lelaki peminang diksi dalam bahasa.
Lagi. Ibu jari Isna terhenti. Habislah saja lelaki itu pagi ini.
“Hmmm,” Isna kembali bergumam sendiri. Kemudian mengubah niatnya meracau tentang kekesalannya yang serabutan. Akhirnya …

Kepada: KAMU yg tak pernah kutahu. Kerlingan aksaramu. Tarian frasemu. Aku tahu, bukan untukku. Tp telah menjatuhkan rasaku pd itu.

Tweet …
Success…

Isna kecanduan. Tambah satu lagi.

Kepada: KAMU yg tak pernah kutahu. Bila tadi kusebut rasa itu. Ah, itu. Aku pun tak tahu. Pun belum prn berjumpa rupamu. Lalu?

Tweet …
Success

Ingin lagi. Tambah satu.

Kepada: KAMU yg tak pernah kutahu. Mengikuti racau kecilmu. Aku suka itu! Kau begitu pandai mendekap kata. Menyelaraskannya dalam rasa.

Tweet …
Success

Cukup untuk pagi ini. Isna menyimpan senyumnya.

Drrrtt… Drrrtt… Drrrtt…

Sender : Maynisya
Na, dmn? Gue udah sampe kampus nih.

Reply…

To : Maynisya
Iya, May. Udah d Matraman. Bentar lg …

“Lah?” lagi-lagi. Isna bergumam sendiri.
Ia merasa tertelan dalam dunianya sendiri beberapa jenak tadi. Antrian sudah lenggang. Sepertinya tadi beberapa bus datang bersamaan, melahap ular antrian. Isna bergegas menyimpan ponselnya. Berdiri dan melangkah mengekori antrian mungil di depannya.

*****

Sejak beberapa waktu sebelum pagi itu. Isna mulai terpesona dan hanyut dalam rangkai sajaknya. Sajak-sajak padat Si lelaki tak bernama. Sajak tentang rasa, dunia, apa saja. Isna sangat menikmatinya. Seperti malam ini. Isna kembali menikmati pinangan aksara Si lelaki tak bernama. Pengantar mimpi-mimpinya.

Lagi-lagi. Isna dimakan waktu menunggu Trans Jakarta. Diusap peluh yang tersendat di balik pori-pori wajah. Berurai lelah. Untung saja ini perjalanan pulang ke rumah.
Trans Jakarta datang. Isna bersiap ambil ancang-ancang mengambil salah satu tempat diantara deret biru panjang. Antrian tak begitu sesak, tak beruntung, Isna hanya mendapat duduk di anak tangga di balik pintu depan di samping pramudi yang terlihat bersahaja.
“Kosong ya, Mbak?” Tanya seorang pria sambil menunjuk tempat senggang di samping Isna.
“Oh iya, silakan.” Isna sedikit terperanjat.
Curi-curi ia amati pria rapih di sampingnya lewat pantulan kaca jendela. Masih rapih dengan kemeja biru tua dan celana bahan panjangnya. Wajahnya segar. Aroma Pollo Sport masih kental tercium di waktu sesenja ini. Bahkan senja nyaris dilahap habis pekat awan.
Wajahnya, seperti Isna kenal. Tak salah lagi. Dia! Dia yang tak pernah Isna tahu siapa. Meski sekedar nama. Dia yang selalu ia nikmati pinangan katanya lewat sajak-sajak bernyawa. Membuat Isna tahu semua, ya sedikitnya tentang kehidupannya.
“Fakultas ekonomi ya, Mbak?” Tanya pria itu. Tersenyum ramah.
“Eeh, kok tahu, Mas?” Isna balik bertanya. Berusaha menyembunyikan gugupnya.
“Itu bukunya tebel banget. COST ACCOUNTING,” jawab pria itu sambil mebacajudul buku tebal di pangkuan Isna.
Isna hanya tersenyum. Agak linglung. Ah, tepatnya dibuat linglung.
“Hahaha, jangan takut gitu mukanya. Saya bukan orang jahat kok.”
“Eh? Hehehe, nggak gitu…” Degup jantung Isna rasanya hampir meloncat.
“Akuntansi biaya… Sekarang udah jadi kebutuhan nyata di semua organisasi.” Pria itu membuka obrolan.
“Iya. Alat bagi manajemen buat monitor dan ngerekam transaksi biaya secara sistematis, informasi biaya dalam bentuk laporan biaya juga bisa disajiin lebih mudah,” lanjut Isna bersemangat.
“Iya tapi sayangnya, ada beberapa perusahaan yang sistem akuntansi biayanya nggak baik”
“Contohnya dimana?”
“Perusahaan manufaktur.”
“Oh ya? Kok bisa?” Tanya Isna, antusias.
“Laporan Harga Pokok Produksi isinya cuma biaya bahan baku, biaya bahan pembantu dan biaya tenaga kerja aja. Biaya overheadnya nggak dimasukkin.”
“Lah? Laba perusahaannya jadi nggak akurat dong? Ketinggian dong ya?”
Pria itu mengangguk, tersenyum. Sedikit memiringkan kepala melihat gadis di sampingnya. Kagum. Hmm, mungkin.
“Semester berapa kamu?”
“Lima…,” jawab Isna singkat.
“Fahmi,” pria itu mengulurkan tangannya. Masih tersenyum ramah pada Isna.
“Isna…,” sambut Isna. Ia makin salah tingkah. Ia sembunyikan groginya susah payah.
Obrolan pun bergulir ….

Beberapa bulan setelah pertemuan itu. Fahmi dan Isna semakin akrab. Menyesap senja di antara celah tawa. Sesekali Fahmi yang seorang auditor membagi ilmunya pada Isna. Tak jarang pula meretas frase dan kata bersama dalam berpuluh sajak mereka. Semua terasa indah. Dan… Nyata…
*****

Beberapa lintas bulan berlalu…

Kepada: KAMU yg tak pernah kutahu. Sekali lagi. Kau ayunkan rindu untuk entah siapa itu. Ah, andai itu aku.

Tweet…
Success…

Kepada: KAMU yg tak pernah kutahu. Larik-larikmu, aku tahu itu tak serupa rayu. Seperti sekerumun rindu. Benarkah?

Tweet…
Success…

Kepada: KAMU yg tak pernah kutahu. Selintas terbuai larikmu. Tergenang terbawa emosimu. Masihkah engkau menunggu?

Tweet…
Success…

“Woooyy, twat tweet twat tweet muluuuu,” goda Maynisya.
“Apaan sih, Maaaayyy? Hahahaha,” sangkal Isna tersipu.
“Masih, Na?”
“Apanya?”
“Kepada: KAMU yang Tak Pernah Kutahu… Hahahaha,” tawa Maynisya meledak.
“Hmmmh… May, aneh nggak sih gue suka sama…,” mimik wajah Isna berubah serius.
“Parah. Parah parah parah. Sakit jiwa ya lo? Tau orangnya aja nggak, kenal apa lagi,” potong Maynisya sebelum Isna menyelesaikan kalimat tanyanya.
“Tau kok gue, namanya Fahmi!” Isna sumringah.
“Tau darimana?”
“Dari conversation tweets dia sama temennya,” Isna cengar-cengir.
“Niat amat lo baca-baca timeline temennya juga?”
“Cuma mau tau namanya kok”
“Terus? Apa lagi yang lo tau”
“Hmmh, tapi kayaknya dia lagi ngarep sama siapaaaa gitu, May,” air muka Isna berubah lagi. Sedikit masam.
“Terus?”
“Dia auditor, May.”
“Wow! Gileee tau aja lo,” sahut Maynisya sambil menoyor kepala Isna.
“Gue berasa kenal dia banget deh, May. Berasa udah dekeeeett banget,” mimik wajah Isna kembali serius. Ia lempar pandangannya jauh di balik jendela kaca yang terang terpantul surya yang riang. Menerawang.
“Dalam imajinasi lo aja, Naaaaa. Lo hidup di dunia nyata, bukan di dunia maya, bukan dalam mimpi, bukan dalam imajinasi yang cuma bikin lo terbang tinggi.”
“Tapi, May…,” kalimat Isna terhenti. Dosen baru memasuki kelas mereka.
“Selamat pagi semua,” sapa dosen itu sembari tersenyum ramah.
“Belum ada yang kenal saya, ya? Hehe oke kita kenalan dulu ya, saya Fahmi Adianta. Saya akan menggantikan Bu Mia mengajar Akuntansi Biaya karena Bu Mia sendiri akan menggantikan Bu Nurul mengajar hitung Keuangan,” terang dosen baru itu, masih tersenyum ramah di depan kelas.
“Ya Allah, May…,” Isna kehabisan kata-kata. Lagi-lagi dibuat linglung.
“Kenapa lo, Na?”

SELESAI

This entry was posted in @njiegerardini, Cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s