“REMEMBER ME”

“REMEMBER ME”

Alice Rahmawati


M4124 : PING!!

Kevin   : Iya.

M4124 : Lama banget sih. Kemana aja seharian? Gak tau kalo ditunggu seharian.

Kevin   : Ya maaf. Lagi banyak pekerjaan dikantor. Nasabahku tak berhenti merusuhi. Kamu tau sendiri  aku sedang kena *floating. Dollar mendadak turun, semua nasabahku tidak memberiku sedetik untuk bernafas. Mereka hendak siap-siap membeli *GBP.

Kevin menghempaskan tubuhnya ke sofa. Kemudian mengetik lagi.

Kevin   : Ada angin apa yang membuatmu ingat akan aku? :p

M4124 : Aku kangen tau! Kangen kicauanmu itu.

Kevin   : Kicauan? Perusahaan membayarku lebih untuk aku berkicau J dan untukmu aku free of charge.

M4124 : Sekarang kau pintar menggombal ya. Ga laku di aku! Huh! Oh ya aku jadi pulang ya tiga hari lagi. Siap-siaplah menjemputku J

Kevin   : Beres. Naik pesawat apa?

M4124 : Ga tau ya. Manajerku yang atur. Tar aku kabarin deh. Kayaknya siang atau sore aku sampe Manado. Aku sudah tidak sabar hendak menyandarkan kepala ini didadamu lagi. #sigh

Kevin   : Bertahanlah Mydear. Kamu itu sosok yang kuat. Aku sangat mengenalmu. Aku disini untukmu.

M4124 : Aku sudah muak dengan pemberitaan semua itu. Mama papaku sampai tidak berani keluar rumah Vin. Tetangga-tetangga mulai memandang sinis kepada mereka. Kasihan mama papa.

Kevin   : iya. Aku tahu ini sangat berat untukmu dan keluargamu untuk sekarang. Tapi infotainment akan segera melupakan gossip ini dalam hitungan hari Sayangku. Masalahmu tidak seberat kasus video itu kok :p

M4124 : Woooo ya tentu saja. Hanya saja aku nggak suka cara mereka mengekspos kisahku ini. Mereka menuduhku sebagai orang ketiga yang menggunakan ilmu hitam sebagai alat pellet! Damn!

Kevin   : Kamu kan emang ratu pellet :p terus gimana dengan syutingmu itu dan pemotretan majalah olahraganya?

M4124 : Aku akan segera selesaikan semua kontrak dan kewajibanku secepatnya. Lalu aku akan menyatukan diriku denganmu. Kali ini untuk selamanya my dear.

Kevin   : J aku tunggu kedatanganmu. Kamu tahu, tidak ada perempuan lain selama aku hidup 30 tahun ini. Kamulah yang mengisi mimpi-mimpiku akan cinta.

M4121 : Vin I gotta go. Bye. Love you.

Kevin menghela nafas panjang, memutuskan pembicaraan tiba-tiba sudah menjadi hal biasa beberapa hari ini. Pandangan Kevin beradu pada televisi plasma yang menayangkan berita tentang Damara. Penuduhan bertubi-tubi oleh seorang wanita paruh baya kepada Damara, artis yang sedang naik daun ini menjadi makanan empuk infotainment untuk segera mengangkat setiap detil kisahnya. Semua berlomba-lomba mewawancara orang-orang terdekat Damara untuk menambah bumbu  perselingkuhannya dengan seorang pejabat tinggi. Gosip makin digosok makin sip diiringi kabar burung simpang siur. Semakin buruk, semakin melambung.

Kevin bersyukur karena beberapa hari lagi Damara akan pulang ke Manado, menanggalkan atribut keartisannya untuk selamanya. Setidaknya itu janji Damara yang dipegang erat oleh Kevin sekarang.

“Aku sudah muak dengan kehidupanku disini Vin. Aku ingin pulang saja. Aku bosan persaingan, cibiran, tawa palsu, dan make up tebal ini. Capek rasanya…”, Mara menangis sesenggukan ditengah cerita tentang dirinya. Tangis Mara diujung sana menambah nelangsa hati Kevin. Ingin rasanya ia merengkuh dan memeluk erat tubuh Mara. Menghapus semua kepedihannya. Ia mengutuk dirinya karena raga yang tak berdaya.

“Cuma kamu Vin, aku bisa percaya dan harapkan. Aku aku…maafkan aku yang meninggalkanmu dulu tanpa kabar.” Kata-kata penuh penyesalan terus bergulir dari bibir Mara yang kasat mata. Bayangan gadis cantik menangis terpampang jelas di pelupuk mata Kevin. Ia mengenal setiap mili raut wajah Mara karena ia memujanya. Dan sekarang potret diri penuh keputusasaan memenuhi pikiran Kevin.

“Gak papa Mara. Aku selalu ada disini untuk kamu. Dari dulu, aku telah berjanji pada diriku, kalau aku akan menjagamu. Walau…walau…banyak pria lebih pantas, aku akan tetap ada seperti bintang, yang menunggu dan setia.”

“Kevin, aku ingin pulang. Bersamamu lagi. Maafkan aku yang egois. Yang berpura-pura tak melihat cinta yang kau tawarkan. Jelas-jelas aku bahagia, tapi aku malah berusaha menyakitimu dengan pacaran sama orang lain. Vin, masih sudikah kamu menungguku? Kali ini hanya beberapa minggu saja. Aku akan pindah ke Manado, meneruskan benang merahku bersamamu.”

“Sampai kapanpun aku akan menunggumu Mara. Dengar ini baik-baik, sampai memutih rambutku sampai nafasku terakhirku, aku hanya menatapmu. Meski ragamu tak pernah kumiliki, aku mengenalmu melebihi siapapun Mara” sebuah pengakuan terlepas dari kotak pandora. Kevin tak sudi menguncinya rapat-rapat lagi, ia ingin Mara tahu. Seketika itu juga perasaannya menjadi ringan seperti kapas yang ditiup angin. Melayang-layang tanpa takut jatuh lagi.

***

Beberapa waktu yang lalu, rongga kepalanya hanya terisi kenangan akan Damara. Masa lalu bersama Damara tidak pernah ia lelapkan barang sejenak. Ia mecintai Damara apa adanya, bahkan jauh sebelum ia melejit menjadi artis papan atas yang digilai pria manapun. Cinta yang disembunyikan dalam ruang imaji karena tak mampu diungkapkan.

Kevin yang pemalu dan pendiam. Menyayangi Damara sejak ia sendiri belum mengenal cinta. Nalarnya hanya tahu bahwa mata dan senyum Damara sanggup menyinari hari-harinya bak matahari. Semua memori itu  menjadi sebuah kekuatan dalam penantian, walau tak ada kabar beritanya setelah ia meninggalkan Manado. Beberapa tahun berlalu, angin membawa kabar bahwa Mara sukses melakoni dunia entertaint.

“ Wah kamu tahu gak? Mara, teman kita SMA, yang rumahnya dekat rumahmu? Sekarang main sinetron loh!”

“ Iklan sabun muka itu dibintangi Damara ternyata. Pantas saja aku familiar melihatnya. Heran deh dia bisa cantik gitu. Padahal dulu tomboy nya setengah mati. Bedak muka aja dia haramkan”

“ Vin, teman seperjuanganmu Mara, main film layar lebar tuh, bentar lagi tayang di xx1. Mau ikutan nonton ga? ”

Kevin tak heran bila kini Mara terkenal. Cita-cita gadis pujaannya itu sudah dibisikkan ke telinganya sejak umur mereka masih belasan tahun. Persahabatan bertahun-tahun telah  membuat Kevin tersesat dalam labirin cinta. Inderanya mencari kehadiran Mara tiap detik. Perasaan yang semakin kuat dirasa Kevin, saat memasuki bangku kuliah, saat Mara memutuskan drop out dan menjajal peruntungannya di Jakarta. Meninggalkan Kevin sendiri di Manado.

“ Kevin, besok aku akan ke Jakarta, aku ga bisa lagi tinggal serumah dengan papa tiriku yang brengsek itu. Lebamku ini bisa sembuh tapi tidak dengan hatiku. Jaga dirimu baik-baik Kevin. Aku akan sangat merindukanmu. Kamu tahu kan aku sayang kamu. Aku akan mencarimu lagi. Ingat itu.”

Klik. Telepon ditutup sebelum Kevin sadar bahwa itu adalah sebuah perpisahan. Lidahnya kelu. Beribu kata menggumpal di ujung lidah kini ditelannya bulat-bulat seperti pil pahit. Begitu pahit, sampai akhirnya Kevin hanya bisa menelan ludah dan duduk terdiam. Hatinya teriris menjadi separuh. Perih dan timpang.

Munculnya kabar tentang Damara membuat Kevin gembira sekaligus memerih. Mara-nya tidak lagi hilang ditelan rimba ibukota, tetapi kesempatannya untuk ikut masuk dunia Mara makin tak jelas bentuknya. Bagaimana mungkin seorang Kevin bisa meleburkan hidup bersama seorang bintang?

Gadis biasa berambut cepak yang dulu mengisi hatinya kini menjadi superstar, menjalani kehidupan jetset. Kini ia tak lain hanya seperti seorang fans mengagumi artis idolanya. Hanya bisa memandangi dengan kagum billboard besar di pinggir jalan raya berhiaskan wajah Mara. Sebuah gambar yang telah tersangkut di sel-sel otak jeniusnya selama bertahun-tahun. Dimana angka tak bisa menjadi rumusan atas besar rasa sayang kepada Mara.

Namun setelah Mara menyatakan keinginannya untuk kembali ke Manado, mereka telah menjadi sepasang kekasih yang dilanda asmara. Kevin tak lagi memendam perasaan terdalamnya. Walaupun mereka belum bersua lagi sejak Mara menghubunginya, cinta yang di genggam semakin nyata. Tiada hari tanpa kabar dari Mara. 24 jam yang sempurna, 7 hari yang indah telah dihabiskan untuk memikirkan masa depannya dengan Mara. Suatu sketsa baru bagi Kevin untuk bisa terus menjalani statusnya sebagai kekasih. Walau belum bertemu, walau belum menyentuh.

“ Tunggu aku besok dirumahmu saja. Ga usah jemput di bandara.“

“ Serius ga mau aku jemput?” Kevin mengerutkan dahi.

“ Dua rius tiga rius empat rius malah. Aku bukan bayi lagi Sayang. Aku bisa kok sampe kerumahmu walau tutup mata” terdengar suara cekikikan yang khas di telinga Kevin. Begitu renyah dan dekat.

“Baiklah kalau begitu, aku tunggu dirumah. Jam berapa sih tibanya?”

“Rahasia. Tapi yang pasti aku naik Eka Air ya”

“Kok gitu? Tar aku ga bisa keluar-keluar donk nunggu kamu dirumah”

“ Biarin. Lagian mau kemana sih Minggu gini? Pokoknya aku akan tiba-tiba mengetok pintu rumahmu”

Sekali lagi Kevin kalah berargumen. Mulutnya terbuka hendak protes tapi kata-kata yang keluar hanyalah persetujuan. Suara Mara mengobrak-abrik isi kepala Kevin yang sedang rindu setengah mati.

***

Detik seperti melambat. “Apakah jam ku mati ya? Dari tadi tidak bergerak” gumam Kevin pada dirinya sendiri. “Mungkin aku harus melakukan sesuatu sambil menunggu Mara datang”. Kemudian diraihnya majalah otomotif disamping ranjang, dibolak-balik halamannya tanpa membaca. Bosan, ia lempar majalah itu ke atas meja.

Tiba-tiba kantuk menyerang saraf-saraf tubuhnya, mungkin karena tubuhnya capek berbenah semalaman menyiapkan kamar terbaik untuk Mara tidur. Kevin terhuyung-huyung menuju kasurnya, menjatuhkan diri sembarangan. Dan dalam hitungan detik, mata terpejam membawa penglihatannya pada kegelapan mimpi.

Ia melihat Damara tersenyum padanya, begitu tenang dan manis menggenakan terusan putih bak malaikat. Menaiki awan putih melayang-layang dihadapan Kevin.

“Mara kemari, ayo ikut aku!” bujuk Kevin.

“Tunggu aku ya, tunggu aku.”

“Aku selalu menunggu, tak pernah lelah. Jangan kau pergi lagi”

Mara mendekati Kevin, menggapai tangan terbuka itu kemudian masuk dalam rengkuhan. Mereka berpelukan begitu lama. Rasa yang begitu nyata tapi samar. Perasaan takut menyeruak masuk ke jiwa. Ia tak ingin melepas dekapannya. Ia begitu yakin kalau ia melepaskan Mara, sekali lagi Mara akan berlari pergi meninggalkannya dalam labirin cinta. Tak akan pernah bisa ia menyelesaikan perjalanannya tanpa Mara. Sayup sayup ia mendengar suara Mara, begitu jauh kecil, kemudian lama-lama jelas di telinga.

“Sayang, bangun, aku sudah disini” Mara mengguncang-guncangkan bahu Kevin dengan sopan dan lembut.

“Ah….kamu?”

“Iya ini aku!” Mara tersenyum manis sekali. Sedikit pucat tanpa make up tebal. Wanita indah itu duduk dibibir ranjang, berbalut busana persis dalam mimpinya barusan. Kevin mengucek-ngucek mata. Berusaha menyadarkan diri bahwa mimpinya telah usai dan nyata kini mengambil posisi.

“Hahahaha kok bingung begitu? Kenapa?” Mara membelai rambut Kevin dan merebahkan diri disampingnya.

“Iya mimpi indah bertemu kamu, tapi kenapa ya hati ini begitu sedih”

“Sedih? Aku disini sekarang menemuimu. Kamu mau aku pergi lagi?”

“Bukan begitu. Aku bahagia sekali memandangmu sekarang ini, bertahun–tahun aku merindukanmu. Mara tak sadarkah kamu bahwa aku mencintaimu?” Kevin bangkit dan memandang Mara lekat-lekat. Yang ditanya tidak menjawab malah memamerkan deretan gigi rapi. Didekatkannya bibir merah itu ke wajah Kevin. Memohon dicium. Kevin dengan sangat hati-hati meraih tubuh Mara, mendekatkan bibirnya. Sebuah ciuman yang sangat manis dan syahdu. Mengalun bersama irama hujan rintik dari luar jendela.

“MIliki aku Kevin. Ajari aku mengenal cinta sesungguhnya.” Bisik Mara ke telinga Kevin.

Tak lama kemudian sebuah drama percintaan menampilkan adegan terbaiknya sore itu. Tarian dua insan manusia dimabuk cinta membuat iri para cupid yang mengintip. Tak ada selembar baju menempel lagi, dua menjadi satu.

“ Kamu rela melakukan ini bersamaku? “

“ Tentu saja Mara. Hanya kamu yang aku inginkan selama ini, kekasih sejatiku. “

Mata Mara sendu menatap Kevin. Diciuminya leher Kevin lembut. Mereka berpandangan lama, menikmati rabaan disetiap inci lekukan tubuh. Pagutan liar dan kecupan mesra di landaskan pada kulit halus Mara. Dari ujung kaki, paha, perut, puting dan leher, tak terlewatkan sedikitpun untuk dirasa. Perlahan-lahan Kevin mengisi ruang bawah sana, yang siap memberi kenyamanan penuh sayang. Mara memekik sedikit, saat mereka jadi satu. Bukan kesakitan namun kenikmatan. Perkelaminan dua insan manusia dengan cinta yang nyata.

Berisik daun bamboo diterpa angin nakal menjadi irama bersama desahan, lenguhan dan sentuhan. Mengantar mereka pada puncak kenikmatan asmara yang sempurna. Dalam dekapan basah beraromakan feromon, saling mengisi dan menjelajahi cinta, sampai akhirnya jatuh kelelahan. Nafas yang terengah dan dada yang naik turun. Mara tampak sangat cantik ketika ia mendekatkan wajahnya.

“ Terimakasih Kevin. Remember me.” Bisikan lembut memenuhi ruang dengar Kevin. Sesaat ia melihat Mara menitikkan airmatanya, sebelum meletakkan kepala di dada Kevin. Ingin ia memprotes kalimat Mara, tapi rasanya akan merusak momen. Ia putuskan untuk memeluk lebih erat, mencium mesra kemudian terlelap dalam suasana yang magis ini. Rasa capek melanda raganya, lagi. Entah mengapa.

***

Seperti sunyi yang mencekam, Kevin tiba-tiba terbangun dengan kaget. Tak ada Mara disampingnya “ Hmm mungkin ke kamar mandi” hibur Kevin dalam hati. Cling cling cling. Nada BB mengalihkan perhatiannya. Sembari menyalakan TV, ia membaca BB messenger, dari Monic, manajer Mara. Alisnya bertaut.

M0Nic             :“Pesawat Eka Air kecelakaan dan hilang. Mara naik Eka Air 574. Ya Tuhan aku tidak percaya ini Kevin. Pesawatnya belum diketemukan. Ia harusnya tiba jam 4 sore WITA. Sekarang sudah jam 8 ”

Kevin berdiri terpaku seperti tersambar petir. Tangannya berkeringat. Di televisi, tersiar puluhan orang panik menunggu di bandara. Menunggu kebenaran kabar hilangnya pesawat Eka Air. Wajah-wajah frustasi dan penuh kesedihan menambah rasa cemas didada Kevin.

“ Salah satu nama penumpang yang kami kenali adalah Damara Angelique, pemain sinetron sekaligus bintang iklan yang sedang melejit.”

Seperti sebongkah batu dijatuhkan dan menimpa tepat di kepala Kevin, berita itu membuatnya jatuh terduduk di lantai. Kata-kata berikutnya tak bisa diartikan Kevin lagi. Ia mencoba mengingat-ingat percintaannya bersama Mara tadi. Indera penciumannya masih mencium aroma parfum bunga dan bisikan Mara masih melekat di telinga Kevin, “ Remember me….”

Kevin bergidik. Tak mempercayai semua itu. Hatinya mencelos. Tiba-tiba di sudut ruangan, dari audio home theatre nya lantunan lagu Kekasih Imajiner oleh Drive memecah keheningan. Sebuah lagu favoritenya.

Pernahkah kau melihat diriku

Kau menatap diriku

Seperti ku memandang dirimu

Apakah kita akan bertemu

hingga kau membawaku tuk menjadi bagian hidupmu

Aku terdiam disaat dirimu menghilang

Entah kemana pergi jauh meninggalkan aku

Baru kusadar hanya ku yang berharap

Kau hanya hidup didalam anganku, mimpiku

Tahukah engkau bahwa diriku memujamu

***

Seminggu berlalu, tak ada satu jenazahpun ditemukan. Banyak pihak keluarga yang menuntut ke maskapai penerbangan itu, termasuk keluarga Mara. Sedang Kevin, ia sudah merelakan Mara. Kevin berdiri dipinggir pantai. Mendekap tangannya sendiri, hujan tadi menyisakan dingin yang beku. Meninggalkan jejak Mara yang tak kelihatan. Kevin memandang ke laut lepas. Angin membelai rambutnya, membisikkan penghiburan, bahwa kekasihnya telah damai dalam pelukan sang laut. Sebulir airmata menetes jatuh ke pasir, dengan setengah berteriak Kevin berucap “ I will always remember you “. Kemudian ia berbalik, pergi menjauh, menyeret kenangan bersama kekasih imajinernya kembali kealam nyata.

 

*floating           : keadaan transaksi masih dalam posisi rugi

*GBP               : Pound Sterling

This entry was posted in @socrateslover, Cerpen. Bookmark the permalink.

One Response to “REMEMBER ME”

  1. Angga says:

    remember me.. somehow it ring a bell…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s