Isi Perut Kekasihku

Isi Perut Kekasihku
Oleh Alice Rahmawati

“Sudah kukatakan aku tak mau lagi berhubungan denganmu.”

“Persetan! Aku tak peduli!”

Ku dorong wanita itu ke lantai. Aku muak melihat wajahnya. Seingatku dulu ia cantik, saat aku melihatnya malam itu di sebuah kafe. Di temaram lampu disco dan sinar laser, aku menikmati setiap liuk tubuhnya. Rambut hitam tergerai sampai pinggang, bergoyang-goyang seirama hentakan musik. Asap rokok yang keluar dari bibir mungilnya kelihatan sexy sekali. Bayangan itu terpecah oleh raungan fals ditelingaku. Mengaburkan khayalku yang sejenak berkelana ke masa lalu. Kulirik Iblis yang nongol disudut kamar, mengawasi kami. Entah sejak kapan ia disana, aku tak peduli. Aku tahu itu Iblis, karena ia mengenakan jubah hitam dan bertanduk.

“Jangan Mas. Tolong jangan Mas”

Tangisnya memenuhi ruangan. Berdenging di telingaku. Aku tak pernah tahan dengan tangisan wanita. Entah membuatku merasa bersalah, atau malah marah besar. Kali ini, darah telah sampai ke ubun-ubun kepalaku. Handphone diatas meja jadi sasaran. Hancur berkeping-keping mencium lantai dingin.  Nafasku saling memburu dengan dadaku yang naik turun. Cucuran airmatanya kembali berderai, lebih deras.  Terbersit dalam otakku, untuk mencengkeram tubuh pelacur itu, kemudian membekap mulutnya yang belepotan dengan lipstick pink.

“Aku akan bunuh kamu!”, ancamku dengan nada serius. Tatapanku nanar. Mengintimidasi.

“Mas, dengarkan aku dulu. Aku aku…!” tanpa kusadarai aku sudah melayangkan tanganku ke pipinya. PLAK!  Seperti menepuk nyamuk yang mengganggu dan sangat besar. Hanya terdengar lenguhannya saja kemudian.

Lenguhan yang tak sama ketika aku menggaulinya dulu dengan penuh nafsu, diselingi cekikikan dan tawa renyah miliknya. Iblis yang dari tadi berdiri dipojokan kamar, masih mengamatiku, menunggu sesuatu. Aku menelan ludahku sendiri, pahit. Otakku tak bisa berpikir jernih. Gambaran masalalu yang begitu indah kini meremang. Lampu disko yang berwarna-warni berubah menjadi warna kelabu, sekelabu masa depanku nanti. Karierku. Keluargaku. Nama baikku. Aku tidak sudi mengorbankan semua itu hanya demi wanita sampah macam dia. Yang nama aslinya pun aku sanksikan. Wajah nya tak lagi ayu. Tubuh sintalnya melunglai di pojokan kamar.  Aku berpikir keras. Mencari strategi terbaik dalam waktu yang sempit. Seperti permainan catur, aku ingin mengalahkan sang Ratu dengan taktik terbaik dan sesingkat mungkin.

“Kemari sayang. Kesini. Aku mau minta maaf” aku mendekat perlahan-lahan. Ia tampak gemetar, tapi matanya bercahaya. Ada secercah asa disana.

“Kita pikirkan ini sama-sama ya” aku meraih tangannya yg basah karena airmata dan ingus. Bajunya melorot sampai ke bahu. “Mas, jangan tinggalkan aku ya. Aku mau relakan kuliahku kalau Mas mau menikahi saya. Tidak perlu pesta besar.” Racauannya bergema ditelingaku seperti berita radio yang tak berjeda.  Tanpa arti.

“Iya, aku tahu. Sekarang kamu tiduran dulu, kamu pasti capek. Aku ngopi dan ngerokok sebentar ya. Mau pesan makanan?” suaraku mulai tenang.  Ia menyebutkan nama makanan dan minuman favoritnya, yang dalam 20 menit telah disajikan langsung ke kamar hotel kami. Disantap ludes dan jatuh tertidur. Mungkin karena tangisannya yang sedari tadi terdengar histeris, membuatnya capek ditambah obat tidur bercampur jus jeruk. Matanya masih sembab namun terpejam. Iblis di sudut kamar diam, meneliti dan menunggu.

Obat tidurnya sudah bekerja, batinku. Kini saatnya aku membuktikan semua kebohongannya.  Aku raih  tas kerjaku. Didalamnya tersedia peralatan bedah sederhana seorang dokter. Ya, aku seorang dokter muda yang sedang melejit.  Istriku sedang merencanakan pesta besar untuk merayakan kehamilannya yang kedua bersama keluarga besarku. Mertuaku, orang berpengaruh dari rumah sakit bergengsi di Jakarta yang menangani kesehatan para pejabat dan keluarga Presiden. Aku telah menggenggam semua itu dan aku tidak akan merelakannya demi wanita pembohong macam pelacur ini. Aku mulai aksi bedahku,meskipun aku bukan spesialis kandungan maupun bedah, tapi aku tahu sedikit-sedikit. Darah mulai berceceran. Hal biasa untuk seorang dokter dan semakin cepat aku mengobrak-abrik isi perutnya. Efek obat bius akan habis setelah 2 jam. Keringat dinginku mengucur deras. Hemku basah. Iblis di pojokan tersenyum, menyemangatiku. Aku hanya terdiam, melanjutkan operasi kecilku. Sampai akhirnya aku merasakan sesuatu. Diantara cairan kental yang lengket itu, kurogoh kemudian kuangkat seonggok daging yang posisinya melengkung. Kira-kira sejengkal tangan. Yang kukenali sebagai janin usia 16 mingguan dan masih berdenyut lemah. Tanganku bergetar. Tenggorokanku tercekat. Kutengok si iblis laknat itu dan jelas-jelas aku mendengar tawa tergelak di pojokan.

Tema Fiksimini : BERANTAKAN

“Kubongkar isi perut kekasihku. Ternyata benar ada bayi disana. Ia tidak berbohong”

This entry was posted in @socrateslover, Cerpen, Fiksimini 7 Rasa. Bookmark the permalink.

2 Responses to Isi Perut Kekasihku

  1. emro says:

    Hihihi… Very nice disturbing story. Kurang detil adegan operasi bedahnya + psikologis tokoh utama pas melakukannya.

  2. yogaDM says:

    Yah,entah brapa kali tebakanku meleset.
    kupikir hanya niatan menghilangkan si pelacur dari hidupnya.
    ternyata,ada janin diperutnya.
    nice post.!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s