Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu

Oleh Alice Rachmawati

Mencintai satu sama lain, tetapi tidak membuat ikatan cinta berdiri bersama namun tidak terlalu dekat untuk bersama-sama.

Khalil Gibran

Asap hio berhamburan ke seluruh ruangan, memberi aroma mistis yang menenangkan. Patung Budha welas asih bersila anggun, memandang seorang gadis belia yang nampak malu-malu mendatangi pria botak setengah baya berjubah kuning.

“Silakan dicicipi masakan saya, Biksu.”

“Terima kasih. Semoga Budha membalas kebaikan Saudari.”, ia membungkuk sedikit lalu pergi. Mata sayu si gadis mengekori kepergian biksu sampai menghilang diujung kuil kemudian ia pulang dengan senyum.

Si gadis mendayung perahunya sendirian ke seberang sungai menuju rumah. Seperti yang sudah dilakukannya selama beberapa bulan terakhir. Hanya saja, malam ini batinnya tidak tenteram, “Mengapa bulan besar sekali dan sungai sepertinya lebih tinggi?”

***

Ritus hari ini hanya menambah rasa nelangsa didalam dada Biksu. Nafasnya sesak oleh hawa panas didalam kuil. Ia ingin sekali keluar dari ruangan, di benaknya terbayang seseorang. Biasanya setelah ritus selesai, ia akan menemukan si gadis bersembunyi dibalik pintu gerbang. Entah kenapa Biksu tidak merasa ditatap kali ini. Akhirnya, upacara kelar saat senja menyapa. Biksu berjalan menuju pelataran tempat biasa melepas penat setelah berjam-jam duduk bersila.

“Aneh, gadis itu tidak muncul.” Ada ruang hampa hadir dalam hatinya. Ia duduk termenung menatap gerbang saat telinganya geli oleh tarian seekor kupu-kupu kuning mungil.

Ia ingat pernah melarang si gadis untuk datang tiap hari. “Tidak baik seorang biksu menemui perempuan terus menerus.” Tapi lama kelamaan hatinya meluluh. Gadis lugu itu telah jatuh cinta pada lantunan doanya, bisa bahagia dengan membawakan sedikit nasi dan menatap dari kejauhan. Tanpa kata-kata dan sentuhan, segenap hati telah mencinta dan tidak berharap apapun pada cinta itu. Dan dalam diam, biksu selalu berdoa untuk perempuan muda itu.

***

Seorang ibu sambil menangis memberi kabar, “Sungai telah merenggut nyawa anak gadisku”, biksu memejamkan matanya sejenak, kemudian pamit untuk bertapa di hutan. Entah sampai kapan.

***

Di suatu senja, di pelataran kuil muncul dua ekor kupu-kupu kuning. Mereka menari-nari saling memutari, bahagia sekali. Budha tersenyum melihat umat kesayangannya, satu doa telah dikabulkan.

This entry was posted in @socrateslover, Cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s