Lelaki Tua dan Sepeda Ontel

Lelaki Tua dan Sepeda Ontel
Oleh Pangeran Abdul Aziz

SUATU pagi,kulihat dia,lelaki tua itu sedang asyik bercengkrama dengan sepeda ontelnya. Memang,ontel saat itu kendaraan mewah,eksekutif,tapi sekarang,ontel bak barang rongsokan,tapi tetap bernilai tinggi bagi mereka. “Tel,sudah sekian tahun kamu menemaniku,membantuku,kamu setia,”pekiknya kepada ontel,sembari membersihkan rangkanya yang telah usang,dekil,di depan gubuk.”Terik mentari semakin tajam,hampir melukai kulit keriputku,”pekiknya.Hampir lupa,hari ini pasar ramai sekali.
DI PASAR lelaki tua itu sibuk mencari sesuatu yang hampir punah,rokok gulser(gulung sendiri).Setelah ada di genggamannya,dia lantas bergegas pulang.Di gubuk ia tak punya sesiapa,hanya ontel itu keluarga satu-satunya.Istrinya,mati 5 tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan sepele,tubuhnya dihinggapi lalat.Dia tak punya anak,apalagi cucu,generasinya punah.
LELAKI TUA itu tak punya pekerjaan lain,sudah pensiun,dulu dia guru,namun karena dikenal tegas,dia dikeluarkan. Memang sekolah itu aneh.Namun begitu,banyak murid yang merasa kehilangan.
KINI,dia hidup dari separuh gajinya sebagai guru. Tinggal di gubuk 3×2,all in one.Menikmati banyak waktu luang,kenapa tak banyak beribadah saja,untuk tabungannya kelak di akhirat?sayang ia belum mengerti itu,padahal umurnya sudah menginjak 70 tahun. Nabi Muhammad saja tak seawet itu.Sayang sebenarnya jika tidak memanfaatkan sisa umur dengan baik,well.
JIKA penat,diajaknya ontel kebanggaannya itu keliling alun-alun,1/2 kilo dari gubuknya,sekedar melepas penat sih sebenarnya,tapi sesekali dia memaksa dirinya untuk mencicipi warung kopi pak Udun,samping alun-alun. Kopinya maknyus,bikin melek semalam suntuk.Lelaki tua itu langganan tetap di warung pak Udun.Dan mereka pun mulai bercerita tentang kisah mereka masing-masing saat pacaran dulu,sambil sesekali menyeruput kopi hitam ala pak Udun. Tapi tak terasa senja mulai menampakan wajahnya,saatnya pulang,kata lelaki tua itu.
Setiba di rumah,dia kaget,sosok wanita,kira-kira lebih muda 5 tahun darinya,sedang duduk di beranda.
“Assalamualaikum,” salamnya.
Selamat sore mas,jawab wanita itu.
“Siapa ya?”sepertinya wajahnya tak asing,batinnya.
“Sa..say.. saya Mira mas,tamu dimasa lalu.”Jantungnya berdegup kencang.
“Ah,aku ingat,dia wanita pujaanku tempo dulu.
“Cantiknya masih kekal ya?,”celetuknya dalam hati.
Mira hanya tersenyum
“Bisa aja mas,”jawab Mira,juga dalam hati.
Mereka lalu bercerita,cerita sisa waktu dimana mereka tak bertemu lagi. Rasanya ceritaku hampir habis hari ini.Separuh sudah kubagikan ke pak Udun dan sisanya kepada Mira,kekasih masa laluku.Hari itu menjadi hari terakhirnya,bertemu orang-orang tercintanya,menghabiskan hari bersama mereka sungguh menyenangkan…
Pak Asep,itulah namanya,dia guru teladan,beberapa kali safarinya menerima penghargaan presiden. Safari itu dan ontel yang kini menjadi hartanya yang paling berharga,di dunia.

This entry was posted in @aizpangeran, Cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s