Adegan Favoritku

Adegan Favoritku

Oleh @aizpangeran

Berawal dari malam itu, ketika bapak-ibuku sedang perang urat saraf. Aku ketakutan, demam. Berkeringat dan menggigil. Ini memang tanda malaria, tapi aku tak sedang malaria. Semuanya campur aduk di kamar.

Ada yang bergerak mendekatiku, kira-kira bocah 5 tahunan, menari di depanku dengan kain setinggi pusar dan 20cm ke bawah. Dia tak sendiri. Perempuan cantik dengan selembar kain tipis ditubuhnya malah menggodaku. Kelu, kakiku terkunci. Akal sedang tak di kepala. Deru nafasku naik 100km/menit. Kencang bukan?

Tak sampai disitu, jari tangan perempuan itu mulai menggerayangiku. Jengkal demi jengkal hingga sampai di bibirku. Namanya Anna, sempat kukenal sesaat. Ada sesuatu yang dia inginkan dari isi mulutku, lidahku. Ah, perasaanku semakin tak karuan. Jantungku seakan berlari di sekelilingku. Lelah sampai di ubun-ubun. Lalu, seekor semut mulai keluar dari pori-pori tubuhku. Sakit, seperti sedang disayat benda tumpul.

Malam belum juga berlalu, padahal aku ingin sebaliknya, malam berganti pagi. Lintingan rokok di tanganku belum juga habis terbakar. Tak sanggup jika kulepaskan, tak sanggup. Masih sempat kusebut nama Tuhanku sekali.

Jam dinding menunjukan pukul 23:55. Lima menit lagi efek obat yang kupakai segera lenyap. Perasaanku mulai senang. Jantungku normal kembali, 5 km/menit.

Ini sakawku yang kelima. Anehnya, adegan ini yang selalu kuinginkan saat bapak-ibuku sedang perang. Karena sakaw lebih baik daripada mendengarkan polusi suara mereka.

This entry was posted in @aizpangeran, Cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s