LESBIAN PART 1

Berawal dari aku menegurnya karena salah satu kancing dia mau lepas. Akhirnya kita berkenalan, dia sama cantiknya denganku. Matanya tajam. Menghunus ke jantung. Ada yg lain darinya. Aku takut menatapnya. Sensasi aneh merayapi sekujur rasaku. Ah, hatiku mati kutu. Setelah hari itu, kami kerap bertemu. Ia pencerita, bibirnya tak pernah habis kata. Hanya satu cerita yang tak kusuka. Cerita dimana dia dijodohkan kedua orang tuanya dengan lelaki itu. Aku patah mendengarnya. Aku merasa salah, karena aku tak seperti apa yang ia pikir. Ia pikir mencintai laki-laki itu bisa membuatnya bahagia. Tak seperti itu. Cara kami lebih membahagiakan. Ia salah. #line1

***

“Tak takutkah lelaki itu menyakitimu? Mereka pendusta!” ujarku sedikit memaksa. Ada perih berkecamuk dalam dada setiap dia membanggakan lelakinya. Aku cemburu!  “Bunga, mengapa hatimu kau penuhi rasa benci?” tanyanya. Aku menahan airmataku supaya tak jatuh. Suara Jeanette begitu dalam, menyelami hatiku “Jean, firasatku terlalu kuat! Jangan nikahi dia. Ada sesuatu dimatanya yang aku tak suka!” Aku gelagapan menjelaskan. Entah apa yang kulakukan ini. “Entahlah Bunga, kamu tahu sendiri ini bukan kemauanku. Bukankah kamu tahu sifat orangtuaku? Tapi… aku ada ide!” kata Jeanette.

“Ide? Ide apa Jean?” aku penasaran.

“Iya, aku akan nikahi lelaki itu hanya untuk menyenangkan orang tuaku”. Lalu kami saling berangkulan. “Aku janji tidak akan meninggalkanmu,” kata Jean.

“Percayalah, pernikahan ini cuma sebentar saja,” lanjutnya.

Esoknya, pesta pernikahan Jean dan lelaki itu digelar. Dari kejauhan, aku tak kuasa membendung air matanya. Aku tak rela. Wanita terindahnya bersanding disamping laki-laki jahat itu. Dadaku bergetar menahan amarah!

“Aku sendiri yang akan menyingkirkanmu! Dan Jean menjadi milikku selamanya!” kataku pada lelaki itu dalam hati. Kutatap Jean, ia begitu cantik hari ini. Gaun broken white panjang tanpa lengan membuatnya serupa malaikat. Bram harus tahu Jean tidak pernah benar-benar menginginkannya. Ia menginginganku, selalu. Kumantapkan niatku. Aku mulai melangkah ke arah Jean dan Bram. Terlihat Jean mulai gusar, Bram kebingungan. “Berhentilah menyakitinya. Jean akan lebih bahagia bersamaku,” ujarku sembari menggenggam lembut jemari Jean. #line2

***

Bram tersentak “Ini siapa Jean?” tanya Bram pada Jean. Jean cemas, jantungnya berdetak lebih kencang. “Hmm, i-ini… ini temanku sayang” jelas Jean pada Bram. Bram menarik tangan Jean dari genggamanku. Aku tak mau melepasnya.. Bram geram melihat tingkahku. “Lepas!” sentak Bram padaku kala itu. Akhirnya dengan lemas aku melepas genggamannya. Lalu kulihat punggung Bram dan Jean menjauh.

“Ada yang kamu sembunyikan dari aku ya?” selidik Bram pada Jean.

“Sungguh tidak sayang! Bunga itu sahabatku, percayalah..” Lirih Jean menahan tangis. Mataku tergenang. Bram menarik nafas panjang, berusaha mengendalikan emosinya yang meluncur hebat bak kertus lari dari senapan.

“Tapi aku benar-benar tidak nyaman dengan sikapnya,” suara Bram melembut.

“Seperti ada..”

“Tak ada apa-apa,” segera kupotong kalimatnya. Upacara sakral itupun berakhir dengan perasaan campur aduk bagiku, Bram, dan Jean.

***

Bram dan Jean mulai menjalani hidup baru, tanpa Bunga. Mulanya hidup Bram bahagia, hingga belakangan ia merasakan sesuatu yang beda pada diri Jean. Jean gundah saat Bram minta dilayani. Persetubuhan yang tak berjiwa. Lenguhan-lenguhan kosong yang penuh kepura-puraan. Bram seperti spesies lain, memaksa kenikmatan pada dirinya. Jean membayangkan Bunga setiap melayani suaminya. Ia mengingat aroma dan kulit halus Bunga. Serta bibir mungil yang mengecup lembut. Ia selalu berharap di awal tidurnya, tentang siapa yang berada di sampingnya saat ia terbangun. Ia ingin Bunga yang di sana. Harapannya menguap setiap kali matahari mulai meraja. Hanya ada Bram dengan senyum manisnya. Ia dengan senyum getirnya. “Ah bukankah ini kepura-puraanku dalam kesementaraan? Bukankah Bunga sudah cukup kuberi penjelasan? Kenapa mesti cemas? Bram memang brengsek, tapi semua gara-gara suami ibuku!” #line3

***

Pernikahan Jean dan Bram tak lepas dari campur tangan ayah tiri Jean. Seorang milioner pemilik perusahaan ternama. Sedangkan ayah Bram adalah rekan bisnisnya. Jean sebenarnya dari dulu tak suka pada suami ibunya. Jean tak pernah bersungguh-sungguh memanggilnya ‘Papa’. Ia hanya segan terhadap kepiawaian seorang Erdian dalam mengendalikan bisnis. Tapi ia tak lebih dari orang asing yang menjual masa depan anak tirinya kepada lelaki bukan pilihannya.

Kejadian ini hanya menambah deretan rasa benci pada kaum laki-laki. Ia kecewa. Jean sendiri tak habis pikir pada Ibunya. Terlihat nyaman dijadikan ‘boneka kristal’ kesayangan wisesa di rumah oleh Erdian. Sekarang, hal serupa terulang pada dirinya dan Bram. Membuat seorang Jeanete semakin muak tak kepalang. Bukan hanya rencana S2 Jean saja yang jadi korban, tapi orang yang paling dikasihinya sekalipun, Bunga. Atas nama hormat pada ibunya, Jean merelakan diri menuruti mau Ayahnya. Ia tak mau disebut durhaka.

Di tempat lain, Bunga makin kesepian jika Jean melanjutkan studinya. Akan sedikit waktu untuk Bunga, masa bodoh dengan Bram. Cinta egois. Sempat terbesit ide nakal Bunga, mencari wanita lain, cantik sih banyak, tapi pribadi yang menyenangkan seperti Jean, sepertinya sulit.

“Ah, tapi tidak!” cegahku dalam hati. Aku harus setia menanti Jean. Perjuanganku untuknya terlampau besar. Jika aku menyerah, aku kehilangan Jean! Sudah seminggu Jean di Medan, aku kangen dia. Kuraih handphone dan mencari nama kekasihku

“Haloo sweety, i miss you so much!” lirihku padanya.

“Eh… bodoh, baru saja aku mau telpon kamu” balas Jean menggebu.

“Hahaha.. bisa saja kamu! Gimana kabar Medan?” tanyaku.

“Baik, kalo Jakarta gimana?” balas Jean.

“Baik juga kok. Oya, minggu depan aku mau ke kotamu” lanjut Bunga.

“What? Kamu mau ke Medan?” tanya Jean dengan perasaan bahagia.

“Pokoknya sehari sebelum ke situ aku kabari lagi ya, beib..” #line4

***

Semenjak menerima telepon dari Bunga, hari-hari Jeannete diliputi kegembiraan. Sedikit memicu kecurigaan pada Bram. “Tumben sayang, kau tampak gembira, ada hawa apa yang merasukimu?” selidiknya.

“Ah, tak apa sayang. Bukan seharusnya kamu senang aku gembira ?” jawab Jean asal. “Hmm…” Bram tetap curiga. Jean tak peduli tatapan sangar suaminya. Bayang-bayang Bunga memenuhi tiap rinai rindunya. Tak sabar ingin memadu kasih yang sebenarnya kepada Bunga.

Diam-diam Bram memeriksa HP istrinya. Ia menemukan nama Bunga di sana. Nalarnya beraksi, mengendus sesuatu yang tak beres. Seperti anjing pelacak,  ditemukannya pesan-pesan singkat dari Bunga. Panggilan sayang, kalimat-kalimat mesra yang tak biasa mengalir apa adanya antara Bunga dan Jean. Bram merasa ganjil.

1 message received: my flower. Degup jantung Bram makin tak keruan. Agak ragu ia buka pesan singkat pada ponsel Jean yang sedang digenggamnya. “Ah, nggak usah dibuka saja. Daripada aku kecewa dengan istriku sendiri. Lagipula, aku sangat percaya pada Jean,” lanjut Bram.

“Mungkin my flower itu adalah mamanya.” Bram berusaha menenangkan diri. “Aku tak ingin rumah tanggaku hancur gara-gara hal sepele,” lanjut Bram. Bram urungkan niat untuk cari tahu lebih dalam. Belum sekarang, pikirnya. Tiba-tiba Jean muncul.

“Sayang HP aku bunyi ya tadi?” sambil meraih HP Jean dari tangan Bram. Lalu Jean terlihat sibuk berkutat. Tersenyum geli sendiri dan berkata “Sial!” dengan wajah cerianya.

“Mas, kamu beneran nggak bisa anter aku ke salon ?” tanya Jean.

“Hmm… sorry ya sayang, sepertinya nggak bisa.“

“Jadi aku pergi sendiri lagi nih?” protes Jean. Dalam hati sebetulnya Jean mau bilang “Bram, aku… harus pergi untuk melepas rinduku dengan sekedar mendengar suara kekasihku Bunga. Aku ingin leluasa bercerita tanpa harus khawatir obrolan kita kamu kuping, dan aku mau kamu tak usah ikut. Kamu diam di sini dan aku pergi ke salon.”

Lamunan Jean terhenti karena Bram berusaha menjelaskan alasan kenapa tak bisa mengantarnya. “Nggak apa-apa kan kalau aku nggak bisa menemanimu? Aku janji deh, kalau pekerjaanku selesai akan banyak waktu buat kamu. Hmm, buat kita maksudku.”

“Oke, aku ngerti mas. Aku berangkat sekarang ya” #line5

***

Waktu berjalan lambat. Jarum jam nampak lebih malas dari biasanya. Jean tak sabar ingin segera keluar dari rumah. Terbang menemui kekasihnya. Isi hatinya membuncah. Penuh rasa rindu. Pancaran mata Jean meletikkan api asmara. Yang terpendam. Yang terlarang. Ia tak peduli lagi walau harus membohongi suaminya. Hasratnya terlalu besar. Ia mau Bunga. Sepanjang perjalanan menuju hotel tempat Bunga menginap, jantungnya berdegup keras sekali. Bahkan telinganya bisa mendengar dan memerah karena malu. Ia terkejut mendengar ponselnya berdering keras sekali. Tangannya merogoh-rogoh tas, matanya teralih beberapa detik dari jalanan. Kemudinya melenceng ke kanan dan BRAK! Tabrakan tak terhindari. Sebisa mungkin Jean membanting setir ke kiri, menghindari mobil sedan biru di depannya. Terlambat! Tiga mobil menjadi korban. Termasuk dirinya.

Asap dari dalam mesin menyeruak masuk. Jean masih tak percaya apa yang terjadi. Kepalanya berdenyut-denyut. Sepintas, ia merasa cairan lengket menetes. Lalu gelap. “Sayang, bangun. Kumohon buka matamu untukku,” suara berat itu samar terdengar oleh Jean.

Ia siuman setelah dua hari pingsan. Jean mendapati Bram berada di sampingnya ketika itu. Bram terlihat kuyu dan sembab. “Aku kenapa?” lirih Jean.

“Jangan banyak gerak dulu, sayang. Kamu masih sakit” tutur lembut Bram pada Jean. “Kamu kecelakaan dua hari lalu, syukur sekarang sudah sadar dari pingsan” ucap Bram.

Tiba-tiba Jean terperanjat. Ia teringat akan Bunga. Bukankah ia janji akan menemui Bunga kala itu? “Lalu, bagaimana Bunga sekarang?” batin Jean.

“Sayang, bisa tolong ambilkan HPku?” pinta Jean pada suaminya.

“Siapa yang akan kau telpon sayang?” cecar Bram.

“Sahabat terbaikku, Bram. Aku ingin dia tahu keadaanku sekarang.” balas Jean sembari mencari nomor Bunga di ponselnya. “Maaf, pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini, silahkan isi ulang”

“Ah, sial!” Jean lalu melempar ponselnya ke kasur. Jean gelisah. “Ayo Bunga, telpon aku,” batin Jean. Bram sedikit curiga melihat tingkah Jean. “Sayang, istirahatlah dahulu” kata Bram.

Dari 7 orang ( @dikiumbara @me_gaa @socrateslover @njiegerardini @ndigun @nankinann @aizpangeran )

This entry was posted in Cerbung. Bookmark the permalink.

9 Responses to LESBIAN PART 1

  1. Danish says:

    nice story…
    gak sabar baca lanjutannya..😀

  2. Bisakah kita memperbaiki sedikit cerbung ini? Ada bbrp kejanggalan dan kesalahan typo. Tapi saya bisa merasa, semoga kita ditakdirkan untuk saling merasa. Sehingga memperanakkan cerita2 yg bernilai sekaligus berbobot. Cerita pertama ini hanyalah ‘malam pertama’ kita.

  3. kinanti says:

    Hii thankss ya🙂
    Tunggu karya selanjutnya😀
    Hihi

  4. me_gaa says:

    @socrateslover : Mbak alice, memang sebaiknya sudut pandang orangnya mulai line ke-8 yang aku buat dirubah, seperti yang aku postkan tadi revisinya ke mas diki umbara🙂

  5. kinanti says:

    Coba buka http://penakuberbicara.wordpress.com/
    Karya sedikit banyak sudah direvisi
    Dblog ini kan karya msh bersih tanpa revisi
    Sila…

  6. Iya nan, udah aku liat🙂 Good Job..

  7. @aizpangeran says:

    Tidak gampang menyatukan 7rasa,tapi cerita ini membuktikan…
    Kesalahan tak pernah luput oleh manusia..

  8. Me_gaa says:

    Setuju pang, mari kita benahi bersama sedikit kesalahan di cerita ini🙂

  9. ndigun says:

    Ini ndak bisa rata kanan-kiri yaa?
    Biar rapi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s