Sepotong tulisan yang menetas diam-diam

Entahlah, ini malam ke berapa yang kupendam diam-diam. Ini rahasia, antara aku, sahabatku, dan tentunya Tuhan. Aku sendiri masih gagal untuk memahami, ini sebentuk rasa jenis apa dan di mana titik mulanya. Aku seringkali menyebutnya matahari yang lupa jalan pulang; masih mencari tahu dari arah mana ia diterbitkan dan ke arah mana ia akan terbenam. Mungkin ini buah dari beribu aksara yang tanpa sadar kautanam dalam-dalam, juga gambar-gambar kemolekan angkasa dan alam yang kaugantungkan dalam ruang-ruang virtual, lalu tanpa sadar pula aku menuainya dengan rindu yang tak berkesudahan.

Pada celah-celah malam, selalu kusisipkan waktu untuk sekedar menyisir ruang-ruang baru dalam rumah bagi selaksa tulisan dan meronanya alam yang kauabadikan. Rasanya, aku seperti jatuh cinta dalam setiap pesona alam dan tulisan yang kauhadirkan. Aku seperti belajar tentang hidup dengan cara paling sederhana yang telah kauciptakan tanpa sadar.

Ah, entahlah. Aku hanya ingin menuntun rasa di jalan yang semestinya dan tahu di mana ia akan berhenti nantinya.

 

Ah, entahlah! Ini rahasia Tuhan dan rencana-Nya

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ceritaku Tertinggal di Kota Tua

Oleh : Angghie Gerardini

                Langkahku terhenti. Peluh di dahiku berjejer rapi. Aku mengusapnya perlahan, hati-hati. Menghindari luka yang masih basah ini. Aku menarik nafas dalam, menghembuskannya ringan. Seolah melepaskan segala beban.

Tuhan memberiku jalan. Jalanku pulang ke kota tempatku dilahirkan dan sempat dibesarkan. Kubenahi posisi ransel di bahuku. Kukalungkan kamera kuno pemberian ayah dulu. Mulai kuatur lagi nafas dan melangkah menyusuri jalan-jalan yang membawa memori masa kecilku lepas.

Permata Asia, ayah pernah bercerita ketika mengajakku berkeliling bersepeda. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas lima. Kata ayah, “Ini permatanya Asia, Nak,” ujar ayah sumringah ketika itu. Senyumnya lepas. Sedang aku, masih menunggu kelanjutannya bersejarah tentang tempat ini. “Dulu, hmm, kalau tidak salah abad ke-16 atau 17, para pelayar dari Eropa menamai wilayah Kota Tua ini sebagai Permata Asia. Karena Jakarta pusat perdagangan di Asia yang paling strategis letaknya, lanjutnya kemudian. Setelah itu mengalirlah dialog ringan di antara kami, tentang sejarah Jakarta, tentang apa saja. Ayah itu guru, sekaligus sahabatku. Beliaulah tempatku belajar apa saja, termasuk tentang kehidupan yang harus kutempa sebagai seutuhnya lelaki dewasa.

***

Aku mengabadikan potret beberapa lelaki tua tampak ringan mengayuh sepeda ontelnya. Entah kemana tujuan mereka. Mereka sejalan, bersisian, tapi mungkin tak satu tujuan. Seperti kehidupan sepasang cucu Hawa dan Adam yang ditakdirkan uhan, pun satu keluarga yang disatukan dalam ikatan keturunan. Bersama, bersisian, sejalan, tapi seringkali jatuh tengkar sebab perbedaan tujuan pun alur menuju tujuan. Aku seperti dibawa tenggelam lagi dalam problema keluarga yang berhasil membuatku mati rasa.

Kokohnya Museum Fatahillah tak henti membuatku terpesona. Sejak aku balita hingga kini melebihi kepala dua. Aku tak pernah alfa mengaguminya. “Ini dibangun sejak tahun seribu enam ratusan, Ma. Sampai sekarang, coba lihat. Masih kokoh kan? Kita sebagai manusia juga harus sekokoh itu. Tuhan menciptakan kita untuk menjaga semesta dan semesta tidak akan terjaga dengan manusia-manusia yang mudah putus asa,” ujar Ayah ketika aku mulai memasuki remaj. Ketika itu Ayah sengaja memintaku mengantarnya ke tempat ini – tempat kami biasa berbagi; tentang rasa, hidup, dan mimpi.

Sekali lagi, kutarik nafasku berat. Kujatuhkan pandanganku pada bebatuan bulat yang bersandar manis di atas akar pohon kelapa. Lalu kuputuskan untuk duduk sejenak. Memoriku liar berlarian. Ayah. Sejak tadi hanya ayah dan tempat ini. Dulu, kami tinggal tak jauh dari tempat ini, itu salah satu alasan kami kerap kali menghabiskan waktu luang di sini. Ibu. Ibu pergi meninggalkan kami saat usiaku baru menginjak angka kelima. Samar-samar aku ingat, Ibu yang bergegas merapikan tas dan berpamitan sopan pada Ayah. Ayah hanya mengangguk dan memelukku erat. Sangat erat. Hingga kini tak pernah kucari tahu mengapa Ibu pergi. Aku sungguh tak ingin tahu. Meski waktu membuka jendela-jendelanya dan memaparkan segalanya ketika aku mulai dewasa. Setelah Ayah tenang dalam rengkuhan Tuhan di surga.

Setelah kepergian ayah, kuputuskan melanjutkan hidup jauh dari kota ini. Di suatu kota kecil yang kuanggap mampu menenangkan gaduhnya emosi setiap kali mengingat tempat ini. Di sini, segala cerita tentang cita-cita kutabung di saku telinga ayah. Ayah selalu mengamini mimpiku dan aku yakin Ia tanam mereka dalam do’a-do’a panjangnya. Di sini, ayah memberiku pelajaran tentang dunia, semesta, dan apa saja. Di sini pula, tanpa sepengetahuanku Ibu sempat menemui Ayah – memintaku kembali. Di sini pula pertengkaran hebat dalam senyap itu terjadi. Hingga akhirnya debar jantung Ayah tak mampu mengimbangi emosi dan memaksa Ayah pergi. Pergi.

Aside | Posted on by | Tagged , | Leave a comment

Disfungsi Hati

Oleh: Angghie Gerardini A.

“Tok… tok… tok… tok… tok…”

            Kualihkan pandanganku. Sepasang pantofel mengkilap biru menghantak-hentak lembut di kaki bangku kayu. Sejurus kemudian kularikan pandanganku pada si pemakai sepatu. Seorang wanita. Mungkin usianya sekitar dua puluh dua hingga dua puluh lima. Memakai setelan kantor berwarna senada dengan sepatunya. Rambutnya hitam legam, sedikit bergelombang, panjang. Wajahnya cukup ayu, saying sepasang matanya penuh pandangan kosong dan sayu. Seperti berat memikirkan sesuatu.

            Ia mengangkat wajahnya yang mulanya tertunduk lesu. Membalas pandangan penuh pertanyaanku. Ia gigit bibir bawahnya yang merekah. Ia bulatkan matanya ke arahku. Ia sedikit terperanjat. Kaget sesaat. Menatap lamat-lamat.

            “Hmm, maaf. Saya nggak punya maksud jahat ko, Mbak. Cuma bingung aja dari tadi ngeliat perempuan masih di pinggir jalan jam segini,” jelasku hati-hati

            “Kamu pikir saya…”

            “Eh, bukan, bukan. Justru karena Mbak terlihat seperti perempuan baik-baik dan masih di pinggir jalan jam segini, makanya saya bingung,” sengaja kupotong kalimatnya yang belum selesai. Meluruskan.

            Ia rengkuh hand bag kulit hitamnya. Kulirik sekilas. Bermerek. Merek mahal pula dan jelas sekali itu asli. Aku mungkin bukan budak fashion, tapi kakak perempuanku yang gila fashion memaksaku secara tak sadar mampu mengenali barang-barang mahal. Wanita di sampingku sepertinya tergolong orang yang cukup mampu, bahkan jika diperhatikan dari pakaian dan pembawaannya yang elegan, bias kupastikan ia tergolong sosialita. Wanita berkelas.

            Ia bergegas. Berdiri lalu melangkah menjauhiku. Aku hanya bisa diam mengamatinya dari belakang. Logikaku memang dijalari pertanyaan ketika melihatnya, tapi sungguh aku tak peduli dan tak ingin tahu apapun urusannya. Lalu kualihkan lagi pandanganku ke jalanan yang masih dirayapi kendaraan. Meski jumlahnya tak sepadat siang pun petang yang memadati jalan, tapi terlihat kota ini masih hidup padahal sudah lewat tengah malam.

            “Selesaikan urusanmu sendiri. Biarkan Ibu dengan jalan Ibu, kamu dengan jalanmu.”

            “Hidupku masih panjang, aku masih muda. Aku bebas dekat dengan Naren, Fiko, Wandi, Donny, atau siapapun. Aku punya hak untuk memilih. Jangan ikat aku. Tak ada kata serius sebelum pernikahan. Cepat putuskan kapan akan melamarku atau siapkan hatimu untuk kehilanganku.”

            Masih terngiang jelas dua mantra hebat dari dua wanita yang begitu kuagungkan. Alma, Ibuku. Alya, pacarku. Mungkin tak ada rasa yang salah, hanya terkadang jatuh pada orang yang salah. Ibu. Sedikitpun tak pernah kukira akan menjauhiku ketika seluruh kehidupannya berubah. Begitu juga Alya, setelah mengenal dunia luar yang lebih luas, ia tak henti mendewakan materi. Menuntutku itu dan ini. Bahkan memberi syarat yang sudah pasti tak mampu kupenuhi dalam waktu dekat ini. Melamarnya menjadi isteri, menikahinya dengan pesta glamor seperti pangeran yang mempersunting tuan puteri.

            “Menunggu seseorang?” pertanyaan seorang lelaki tua menyadarkanku.

            “Oh, tidak, Pak,” jawabku seadanya tanpa menghilankan kesan ramah dengan senyum yang kuberikan untuknya.

            “Hidup. Teka-teki. Misteri, Nak. Jangan buat itu menjadi rumit. Jangan biarkan Ia merayapi pikiranmu,” nasehatnya mengalir seolah mampu menjawab pikiranku.

            “Hanya terkadang banyak hal yang membuat kita jadi trauma dan akhirnya … mati rasa,” jawabku.

            “Hahahaha,” Bapak Tua itu terbahak hingga terguncang bahu rentanya. Kemudian melanjutkan kalimatnya, “Hei, Anak muda. Kita laki-laki. Kata orang, laki-laki itu tonggaknya negeri. Laki-laki itu pemimpin. Jangan sampai kita dilemahkan perempuan.”

            “Mereka tidak melemahkan, tapi…”

            “Tapi harusnya melengkapi. Mereka ada untuk menggenapkan rusuk kita. Bukan menindih rusuk yang sudah ada ataupun diinjak rusuk yang sudah ada. Menggenapkan, menemani kita dalam langkah panjang. Bersisian tanpa tuntutan. Kewajiban mereka untuk menghormati, kewajiban kita untuk melindungi. Hak mereka untuk dikasihi, hak kita untuk disayangi. Cinta itu abstrak, sulit dinilai, diukur, ditebak. Cobalah isi semua dengan kasih saying. Hadapi penuh kedewasaan dan keikhlasa. Kedewasaan itu rahim dari segala ketenangan,” paparnya panjang lebar. Aku, hikmat memperhatikan. Meresapinya dalam-dalam.

            Kuteguni aspal kasar jalanan. Menarik nafas panjang, menyimpannya sejenak dan menghembuskannya perlahan.

            “Satukan ini dan ini dengan porsi yang seimbang,” lanjut Pak Tua kemudian sambil menunjuk dada dan pelipisnya dengan telunjuk keriputnya. Ia tersenyum dalam lalu berlalu tanpa kata perpisahan. Seperti saat ia datang, menyapaku tanpa perkenalan.

            Salah. Hatiku yang salah. Banyak perubahan besar yang membuat logikaku makin rapi, sedangkan hatiku seperti makin tak berfungsi karena rasa hunjaman rasa sakit bertubi-tubi.

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Terlewatkan

Terlewatkan
Dian Megawati

***

8 Agustus 2010

Aku tidak begitu mencintainya, tapi dia membuatku merasa dicintai.
Tuhan, lancarkan langkahku dan Mas Arya. Semoga dia bisa menjadi suami yang baik.

***

25 Januari 2010

“Mas Rizal, kangen..”

“Cari yang lebih pantas untuk dikangenin sana”

“Mas…”

Sialan! Kamu pikir aku robot yang bisa kamu program harus kangen sama siapa?

***

10 Januari 2010

Kita cuma sepasang kesepian yang berusaha saling menghibur.
Hatinya yang patah perlu perbaikan, dan aku adalah kosong yang ingin dipedulikan.
Tuhan, aku benar-benar jatuh hati pada lelaki ini. Lelaki yang sudah kukenal 2 tahun ini.

“Aku sayang kamu” bisikku pada mas Rizal, sambil memeluknya

“….”

Tidak aja jawaban, hanya tangannya saja yang mengusap lembut kepalaku, lalu kami berpisah di stasiun kereta api ini.

Sampai jumpa..

***

12 Juli 2009

Sepertinya aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Ah, enggak! Ah, iya! Duh..

Mas Rizal sudah punya kekasih Ran!

Sadar.. Plak!

***

Halaman demi halaman buku hariannya kubaca. Calon suami Rani, Arya, yang memberikan buku hariannya kepadaku. Aku hanya bisa bersimpuh, menangis di depan kakinya yang perlahan-lahan membeku.
Sepertinya aku melewatkanmu, Ran. Maaf..


Setiap pertemuan yang disia-siakan, akan meyuburkan ladang kekecewaan. Semoga aku bukan perihal yang kamu lewatkan

Posted in @me_gaa, Flash Fiction | 2 Comments

Menyapa Ujung Rasa

Menyapa Ujung Rasa
Diki Umbara

Bait demi bait telah kususun, tapi kau kekasih; menolak kusempurnakan dengan kata, menghindar dari yang kucipta sebagai frasa.  Sebersit angin, serekah helai, meruam air.

Sungguh, sederhana saja semestinya.
Ada pesan tunggal ingin kusampaikan, dengan pikir di berlarik sajak.
O’ tapi ada yang tak sengaja, kulupa bertanya bisik pada rasa.

Ingin kujejakkan agar makna tak mengambang, demikian yang telah kau cerap seperti yang kuharap. Dan kata-kata, kini mulai meragu; mungkin ada bahasa ambigu, kau atau aku yang terjepit dalam rumpang-rumpang rindu?

Atau kekasih; mari kita coba, lerai saja pikir dan rasa itu.
Biarkan ia masing-masing dengan takdirnya.
Mengalir, menyusur, hingga relung yang tak usah kita bendung.

Aside | Posted on by | Leave a comment

Mencium Sorga

Mencium Sorga
Diki Umbara

Di bawah temaram cahaya bulan di sisa sepertiga malam.
Melabang pelan, menjamah masa; kulalui kegelisahan seperti cahaya melewati tingkap, mengecupmu tiba-tiba. Kau merona.

Akan kusalibkan hatiku dalam jantungmu. Selamanya.

Posted in @dikiumbara, Puisi | 4 Comments

Rindu Tak Berjudul

Rindu Tak Berjudul
Dian Megawati

 

Sayang…
Malam ini aku merindukanmu
Rindu kecupan sajakmu
Rindu belaian senyummu

Dan langitpun tahu aku disini menantimu
Menanti tanganmu menggenggamku
Menanti tatapan mata teduhmu

Rindumu itu candu
Setiap hari kuhisap meski di dada terasa sesak..

Rindumu itu kebahagian kecil
Setiap hari kurayakan dengan doa-doa dan tasbih rinai gerimis..

Rindumu itu senyuman
Setiap hari kusuguhkan dalam secangkir kopi suam, setiap pagi agar kau mengingatku..

Rindumu itu bayangan
Setiap hari menemani langkah kecil kakiku, tanpa lelah

Sayangku..
Aku ingin menjadi buih di lautan yang menghanyutkan pasir kenanganmu
Aku ingin menjadi matahari yang mengecup hangat keningmu setiap pagi
Aku ingin menjadi senja yang selalu kau tunggu
Aku ingin menjadi malam yang memeluk gelisah sepimu
Aku ingin menjadi rumah ternyaman yang kau singgahi, saat lelah menghampirimu

Sayang..
Tancapkan kata-kataku ini dalam ingatanmu
“Aku mencintaimu, tanpa akhir”

Posted in @me_gaa, Puisi | 3 Comments