Gejolak Cinta di Entikong

Gejolak Cinta di Entikong

Dian Megawati

Entikong April 2011..

Ini kisah cintaku yang entah sudah keberapa. Hidupku mulai membosankan. Punya suami dan seorang anak di usia 24 tahun mungkin membuat sebagian orang memandang hidupku sudah bahagia

“Dek, siapin seragam dong buat upacara mas besok” Pinta Mas Rangga suamiku

“Iya..” Jawabku yang sebenarnya bermakna “Ogah ahh !!”

Bukan karena aku istri yang tidak berbakti pada suami. Tapi Mas Rangga memang terlalu berlebihan memperlakukanku hampir seperti BABY SITTER-nya. Kehidupan pernikahan kami –pun tak sepi dari pertengkaran. Hampir tiap hari, dan aku mulai jenuh. Jika bukan karena Bella buah hati kami yang berumur 1 tahun, mungkin aku sudah meninggalkan Mas Rangga.

 

******

Kota Bandung, tempat dimana aku meneruskan mencari ilmu setelah lulus dari sebuah SMA Negeri terkenal di kota Yogyakarta. Universitas Padjajaran jurusan Manajemen menjadi pilihanku. Walau sebenarnya mama tak setuju. Mama lebih tertarik untuk menjadikanku seorang  Arsitek seperti papa.

Ah, bukan karena playgirl. Tapi mungkin pesonaku tak dapat ditampik mereka kaum Adam. Aku dengan mudah mendapatkan kekasih tak lama setelah memulai kuliahku. Icky Perdana , kakak angkatanku ! Dia tergila-gila padaku, Rizki Pratiwi, mahasiswi semester awal. YES !

Kisah kasihku bertahan lama dengan Icky. Entah angin apa yang membuatku “setia” hingga 3 tahun ini, dan pertahananku mulai goyah saat aku mengenal Randi. Mahasiswa Padjajaran jurusan Fisika, teman KKN saat di Belitong. AKU JATUH HATI PADANYA ! Entah kenapa aku tergila-gila pada lelaki itu. Tekad, semangat dan ambisinya untuk mengejar mimpinya hingga ke negeri Kincir Angin membuatku semakin memujanya. Aku mengabaikan Icky, ingin rasanya putus. Tapi dia tetap mempertahankanku. Aku malah membuatnya bak mainanku, memintanya mengerjakan tugas ini dan itu sampai skripsiku-pun Icky membantuku. Dan aku tetap tak dapat menolak pesona Randi.

Aku merasa mendua hati. Di satu sisi tak ingin kehilangan Icky yang selalu membantuku. Di sisi lain aku sangat berharap pada Randi Wiranata Kusumah , meski hanya cinta diam-diam. Sampai akhirnya aku dikenalkan temanku dengan Rangga Nugraha seorang pegawai pemerintahan lulusan STPDN, dia menjabat sebagai ajudan Walikota saat ini.

Dibelakang Icky aku sering bertemu dengan Mas Rangga. Sampai akhirnya Mas Rangga tiba-tiba melamarku pada pertemuan ketiga kami, dan tanpa pikir panjang aku meng-iya-kan menerima lamarannya, meskipun itu lamaran tak resmi.

 

*******

Aku tak sendiri di Kota Bandung. Budhe Nastiti, kakak perempuan Papa tinggal juga di kota ini. Saat kuutarakan niatku dan Mas Rangga untuk menikah pada orang tuaku, mereka langsung menuju ke kota Bandung untuk “Rembug Tua”. Itu tradisi di keluarga kami untuk mendiskusikan masalah penting dengan orang yang paling tua. Di keluarga kami, Bude Nastiti-lah orangnya. Budhe tak setuju aku menikah dengan Mas Rangga.

“Bibit Bobot Bebet Pri !!! Lagian mereka baru kenal 1 Bulan” Celoteh Budhe menasehati Papaku

“Tapi Rangga kan sudah mapan mbakyu, mereka juga saling mencintai” Jawab Papaku

“Ya Terserah, yang penting aku sudah memberi nasehat. Mau didengar monggo, mau tidak juga monggo” Budhe menutup perdebatan panjang lebar itu dengan Papa

Mas Rangga dari keluarga biasa, ayahnya hanya seorang pensiunan PNS. Mas Rangga bisa masuk STPDN juga murni, tak ada embel-embel uang pelicin untuk meloloskannya menembus dinding baja di STPDN. Sedangkan aku, anak manja dari keluarga terpandang. Papa adalah Dirut di sebuah BUMN ternama. Hidupku selalu berkecukupan dan tak pernah kekurangan materi. Biasanya, uang 50 juta yang seharusnya jatah untuk 6 bulan saja bisa-bisa habis dalam waktu 2 bulan, dan Papa mama tak pernah mempermasalahkannya. Maka menurut Budhe, status sosial kami TIMPANG.

*********

Yogyakarta, akhirnya aku dan Mas Rangga menikah setelah 3 bulan saling mengenal dan aku lulus dari Padjajaran menyandang gelar Sarjana. Aku meninggalkan Icky cintaku yang pudar dan masih menyimpan cinta yang bergejolak pada Randi, meskipun Randi tak tahu. Sebenarnya keputusan tergesa-gesaku ini tak didukung sahabat-sahabatku. Tapi aku tak peduli, toh aku juga menyanyangi Mas Rangga dan yakin kami akan hidup bahagia.

Alasan Mas Rangga segera melamarku karena dia menganggapku wanita yang tepat untuk mendampingi hidupnya. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama padaku. Terlebih dalam waktu dekat dia akan melanjutkan pendidikan S2. Jadi dia sudah ada pendamping saat mendapat gelar Master. Aneh-aneh saja alasannya.

*********

Kami kembali ke kota Bandung, menempati rumah orang tuaku yang ada disana. Oddisey pemberian papa untukku-pun dikirim ke Bandung. Kata papa agar kami mudah jalan-jalan kemana-mana.

Kehidupan awal pernikahan kami tak berjalan mulus seperti yang kubayangkan. Mas Rangga tergolong orang yang manja seperti aku. Apa-apa harus disiapkan olehku. Padahal kami punya pembantu yang dikirim mama khusus ke Bandung untuk membantu pekerjaan rumah. Keperluanku saja biasanya ditangani oleh pembantu. Apalagi masalah yang satu ini tambah membuat rumah tangga kami kusut, EKONOMI. Setelah berumah tangga secara otomatis aku bukan tanggungan orang tuaku. Mas Rangga yang membiayai semua kebutuhanku. Cuma gaji yang menurutku tak seberapa bila dibandingkan pemberian orang tuaku yang bisa dia berikan untukku. Semua yang Mas Rangga berikan tak mendukung kebutuhanku untuk ini dan itu. Mas Rangga tergolong perhitungan sekali dalam masalah “Uang”. Aku dinilai tak bisa me-manage keuangan rumah tangga kami. Maka pertengkaran soal masalah itupun sering terjadi

“Kamu gimana sih dek ?! Gaji bulan ini tanggal segini kok udah habis” Selidik Mas Rangga

“Kebutuhanku kan banyak mas ! Buat perawatan kulit, rambut, wajah, kuku. Semuanya bayar ini dan itu pula !!” Bantahku

“Kamu itu PEMBOROSAN !!!!!” Bentak Mas Rangga

“Pemborosan gimana mas ? Memang aku seperti ini, Mama Papa saja tak pernah mempermasalahkan pengeluaranku ! Kamu sayang nggak sih sama aku ??!!” Bantahku

“Aku sayang sama kamu dek ! Tapi kamu sekarang harus berubah ! sebentar lagi mas kan mau lanjut S2. Pengeluaran untuk sekolah S2 itu banyak. Kamu harus lebih berhemat demi masa depan kita.. “

“……………………………….”

Mas Rangga menasehatiku panjang lebar. Dan nasehatnya seperti biasa, masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Aku muak !

Tiga bulan berumah tangga akhirnya aku hamil, sebuah anugerah yang luar biasa untukku. Aku harap dengan kehamilanku mas Rangga berubah lebih lunak. Tapi harapanku hanya sebuah angan semata. Malah ke-egoisan mas Rangga semakin nampak dari hari kehari saat dia meneruskan pendidikan S2 ke Ibukota.

Bukannya memberi perhatian lebih, Mas Rangga malah tambah seenaknya. Aku tahu dan sangat paham resiko ditinggal suami untuk menempuh pendidikan saat pertama kali dia melamarku. Aku tak menuntut banyak. Tapi bukan seperti ini yang aku harapkan. Mas Rangga sering memintaku membantu tugas-tugas dari dosennya. Betapa sangat membuatku bertambah kesal bila aku yang sudah bersusah payah mencarikan tugas kesana kemari, mencari artikel dan lain sebagainya, tapi Mas Rangga tak pernah menghargai usahaku. Kadang malah marah dan membentakku bila tugas tugasnya salah atau tak segera kukirim. Apalagi dia sering minta kiriman ini itu, mulai dari kebutuhan makanan, alat mandi, dan lain lain. Dia benar-benar tak memikirkan aku yang sedang hamil butuh istirahat dan terutama kasih sayang darinya. Selama menempuh S2 di UI dia jarang pulang ke Bandung, kadang 2 minggu atau sebulan baru pulang ke Bandung. Dia tak sadar kalau istrinya dan anak dalam kandunganku ini merindukannya. Aku kecewa..

3 Bulan pendidikan Mas Rangga berjalan, aku memutuskan pulang ke Yogyakarta ke rumah orang tuaku. Tentunya atas persetujuan Mas Rangga. Aku lebih senang di Yogyakarta karena disana banyak sahabatku. Dan mereka dapat membuatku melupakan sedikit masalah rumah tanggaku. Kami biasa hangout untuk melepaskan penat dan berbagi kisah satu sama lain. Dan alasan lainnya aku ingin melahirkan ditemani mama.

Tiba-tiba saja dalam masa kritis rumah tanggaku dengan Mas Rangga, aku menemukan Randi di sebuah situs jejaring sosial. Dadaku mencelos !

“Add, Enggak, Add, Enggak, Add, Enggak, Add” Bisikku dalam hati

Tanpa pikir panjang aku klik “Add As Friend”

“Friend successfully request”

Aku lompat kegirangan. Rasanya seperti menemukan harta karun yang telah terkubur lama.

“Tapi, apa dia tahu aku sudah menikah ? Ah, bodo amat !”

Entah kenapa aku lupa diri. Aku ini seorang istri dan sebentar lagi akan menjadi ibu. Tapi sepertinya ada yang membangunkan macan tidur. Cinta lama itu perlahan datang lagi. Memori kenangan indah selama KKN di Belitong mulai bermunculan.

Beberapa menit kemudian ada notification dari situs jejaring sosial itu

“Randi Wiranata Kusumah confirmed you as a friend”

Jantungku berdegup tak karuan, semacam mendapat undian milyaran rupiah dari Bank.

~Ding!

“Randi Wiranata Kusumah”

Aku buka tanda merah di chat bar

————————————————————————–

Randi Wiranata Kusumah :

“Riz, apa kabar ? lama nggak ketemu ya :)

—————————————————————————

Pertahananku runtuh, hampir pingsan aku membaca chat dari Randi

———————————————————————————

 

Rizki Pratiwi :

“Eh Ran, kabarku baik.. Kamu sekarang dimana ?”

“iya, lama nggak ketemu setelah lulus ya..”

————————————————————————————-

Randi Wiranata Kusumah :

“Aku sekarang kerja di perusahaan minyak asing Riz di Jakarta”

“6 bulan kedepan mau pindah ke Holland, mutasi kesana dan aku mau sekalian melanjutkan study s2-ku”

“Seperti rencanaku, kamu masih ingat mimpi-mimpiku dulu kan ?”

“Aku sangat mendambakan Holland dan sebentar lagi jadi kenyataan !! :)

“Kamu sekarang kerja dimana ?”

—————————————————————————————————–

Rizki Pratiwi :

“Wow ! Selamat ya Ran :)

“Aku dari dulu yakin dan percaya kamu dapat meraih mimpimu”

“Aku sangat tahu semangatmu seperti apa”

“Seperti ada lautan dimatamu saat kamu menceritakan Holland”

“Aku masih seperti ini, stuck disini saja”

———————————————————————————————————

Randi Wiranata Kusumah :

“Makasih Riz.. Ah, kamu bisa aja “

“Stuck gimana ?”

“eh, kamu udah merid ya ? Selamat loohh :)

———————————————————————————————————-

Rizki Pratiwi :

“Ya gini-gini aja Ran. Belum dapat kerjaan”

“Eh, emmmhh… Iya, sudah merid. Tapi ya begitulah”

———————————————————————————————————–

 

Randi Wiranata Kusumah :

Offline

 

Perbincangan kami membuatku semakin mengharapkan Randi. Tapi Apa daya, toh dia tahu aku sudah menikah. Tak ada harapan lagi sepertinya..

***************

Hari demi hari berlalu. Tanggal 12 Agustus 2010 aku diminta Mas Rangga datang ke Jakarta untuk menjadi pendamping wisudanya. Dan otomatis SK mutasi kedinasan turun. Ini memang sudah cita-cita Mas Rangga untuk mendapat gelar master dan jabatan yang lebih baik.

Rasanya badanku lemas, saat mengetahui penempatan dinas Mas Rangga. Entikong ! Kalimantan Barat. Sebuah kecamatan di Kabupaten Sanggau, Perbatasan dengan negara tetangga. Tepatnya berbatasan dengan Serawak Malaysia. Saat mama dan papa mengetahuinya, mereka ingin Mas Rangga mengurus kepindahan ke kota yang lebih dekat, Semarang misalnya. Tapi Mas Rangga tak mau. Dia berprinsip tak mau lewat jalur belakang untuk meluluskan semua keinginannya. Mama dan Papa hanya bisa mengelus dada, merelakanku mengikuti kemana Mas Rangga Pergi. Walau sebenarnya tak rela, terlebih bella anak kami adalah cucu pertama di keluarga besarku dan dia kesayangan mama. Mama sebenarnya tak ingin melepaskan bella..

***************

Entikong, akhirnya awal Tahun 2011, aku menjejakkan kaki disana.menyusul Mas Rangga yang tugas disana. Sebenarnya kakiku berat untuk meninggalkan Pula Jawa, dimana keluarga dan sahabatku berada. Aku takut kesepian di tempat asing itu. Aku takut jarak yang memisahkanku dengan orang-orang terkasih, meskipun aku disini dengan suamiku.

Hari berganti hari di Entikong, Mas Rangga sibuk dengan pekerjaannya. Sekarang dia menempati jabatan penting di Pemda Sanggau Entikong. Aku, sibuk menjadi ibu muda. Mengurus anak dan suamiku. Untungnya ada pembantu disini. Kalau tidak pasti aku sudah kuwalahan mengurus dua orang yang aku sayangi tersebut. Anakku sedang lucu-lucunya, Bulan April nanti baru genap 1 tahun. Dia satu satunya hiburan untukku.

Karena kesibukan Mas Rangga, komunikasi kurang lancar. Dan dia tambah menyebalkan saja. Aku selalu mengalihkan perhatianku pada hal-hal lain, anakku atau.. situs jejaring sosial !

~Ding!

Chatbox dengan nama Randi Wiranata Kusumah bertanda merah..

Jantungku berdegup lagi, kenapa tiba-tiba mahkluk ini muncul lagi setelah lama kami tak saling berkirim kabar ? Terakhir kali komunikasi dengannya saat pertama kali dia confirm aku jd temannya di situs ini dulu..

Aku buka chat box dari Randi

———————————————————————————————-

Randi Wiranata Kusumah :

“Hai Riz, Apa kabar ? Aku sudah di Holland sekarang”

“I miss you so much !”

“maaf, kalau berlebihan :-s”

————————————————————————————————-

Dadaku semakin berdegup kencang saat Randi mengatakan rindu padaku. Sepertinya waktu berhenti seketika. Aku bingung harus membalas apa. Sampai 10 menit berlalu, akhirnya aku memberanikan diri membalas chatbox Randi

—————————————————————————————————

Rizki Pratiwi :

“Hei Ran, Kabarku baik-baik saja,. Sekarang aku di Entikong”

“Miss you too damn much ! :-s”

——————————————————————————————————

Akhirnya kami bertukar nomer telepon lagi, karena Randi mengganti nomer teleponnya. Diam-diam dibelakang Mas Rangga kami sering berkomunikasi via telpon, chat, sms, video call dll. Ternyata Randi sudah lama menaruh hati padaku. Aku sungguh tak percaya ternyata hatinya sama dengan hatiku. Dia tak mempermasalahkan statusku yang sudah menjadi istri orang. Aku menceritakan semua masalah rumah tanggaku padanya. Dan Randi berjanji akan menungguku..

Hubunganku semakin renggang saja dengan Mas Rangga. Aku mengeluh pada mama, aku mengutarakan niatku untuk melanjutkan study ke Negeri Kincir Angin. Mama-pun menyetujui niatku, tapi mama tak tahu tujuan utamaku adalah menemui Randi.

****************

Entikong, Juni 2011. Aku diam-diam mendaftarkan diri meneruskan s2-ku di sebuah Universitas di kota Rotterdam dimana Randi menempuh study s2-nya juga. Aku mengambil scholarship disana.

Sebulan aku menunggu kabar dari Universitas itu, akhirnya pihak Universitas mengirimkan surat kalau aku diterima disana. Aku sungguh girang. Akhir bulan Juli akhirnya aku menggugat cerai Mas Rangga dan beruntungnya proses perceraianku berjalan mulus, Bella kutitipkan pada mama saat aku nanti menempuh study-ku.

******************

Rotterdam, September 2011

Aku sampai di kota impianku dan Randi…

Sampai saat ini tak ada yang tahu hubungan kami.

Randi, Aku menujumu sayang !

Randi menjemputku di Bandar Udara Rotterdam-The Hague pagi itu. Siangnya Randi mengajakku keliling kota Rotterdam dengan Rotterdam Metro, sejenis kereta listrik.

“Ah, sayang aku sangat senang kamu ada disini” Bisik Randi

“Aku juga sayang !” Balasku

Lalu kami berciuman tanpa memperdulikan beberapa pasang mata yang memandang kami di atas Rotterdam Metro. Kami sedang dimabuk asmara.. Tiba-tiba Rotterdam Metro yang kami tumpangi korslet, ciuman Randi masih terasa di bibirku. Semua gelap, pekat, tubuhku terasa panas, aku mencium bau asap yang menyengat dan teriakan lalu seketika sunyi. Rotterdam Metro terbakar, tak ada yang selamat.

 

-Dian Megawati-

7RASA

This entry was posted in @me_gaa, Antologi CINTA TERLARANG, Cerpen. Bookmark the permalink.

One Response to Gejolak Cinta di Entikong

  1. ichi_nisa says:

    ini jadinya cintaku berujung di Rotterdam,,
    ato terbakar asmara di Rotterdam Metro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s