Menyapa Ujung Rasa
Diki Umbara

Bait demi bait telah kususun, tapi kau kekasih; menolak kusempurnakan dengan kata, menghindar dari yang kucipta sebagai frasa.  Sebersit angin, serekah helai, meruam air.

Sungguh, sederhana saja semestinya.
Ada pesan tunggal ingin kusampaikan, dengan pikir di berlarik sajak.
O’ tapi ada yang tak sengaja, kulupa bertanya bisik pada rasa.

Ingin kujejakkan agar makna tak mengambang, demikian yang telah kau cerap seperti yang kuharap. Dan kata-kata, kini mulai meragu; mungkin ada bahasa ambigu, kau atau aku yang terjepit dalam rumpang-rumpang rindu?

Atau kekasih; mari kita coba, lerai saja pikir dan rasa itu.
Biarkan ia masing-masing dengan takdirnya.
Mengalir, menyusur, hingga relung yang tak usah kita bendung.

Posted on by | Leave a comment

Mencium Sorga

Mencium Sorga
Diki Umbara

Di bawah temaram cahaya bulan di sisa sepertiga malam.
Melabang pelan, menjamah masa; kulalui kegelisahan seperti cahaya melewati tingkap, mengecupmu tiba-tiba. Kau merona.

Akan kusalibkan hatiku dalam jantungmu. Selamanya.

Posted in @dikiumbara, Puisi | 2 Comments

Rindu Tak Berjudul

Rindu Tak Berjudul
Dian Megawati

 

Sayang…
Malam ini aku merindukanmu
Rindu kecupan sajakmu
Rindu belaian senyummu

Dan langitpun tahu aku disini menantimu
Menanti tanganmu menggenggamku
Menanti tatapan mata teduhmu

Rindumu itu candu
Setiap hari kuhisap meski di dada terasa sesak..

Rindumu itu kebahagian kecil
Setiap hari kurayakan dengan doa-doa dan tasbih rinai gerimis..

Rindumu itu senyuman
Setiap hari kusuguhkan dalam secangkir kopi suam, setiap pagi agar kau mengingatku..

Rindumu itu bayangan
Setiap hari menemani langkah kecil kakiku, tanpa lelah

Sayangku..
Aku ingin menjadi buih di lautan yang menghanyutkan pasir kenanganmu
Aku ingin menjadi matahari yang mengecup hangat keningmu setiap pagi
Aku ingin menjadi senja yang selalu kau tunggu
Aku ingin menjadi malam yang memeluk gelisah sepimu
Aku ingin menjadi rumah ternyaman yang kau singgahi, saat lelah menghampirimu

Sayang..
Tancapkan kata-kataku ini dalam ingatanmu
“Aku mencintaimu, tanpa akhir”

Posted in @me_gaa, Puisi | 1 Comment

Pesan Rindu dari Hujan

Pesan Rindu dari Hujan

Sayang.. setiap pagi, siang, malam, aku merindukanmu tanpa henti

Aku menikmati rindu ini seperti menikmati hujan

Menari-nari ditengahnya, menikmati gemericik setiap tetesannya

Kau tahu sayang?

Aku bisa mendengar suaramu ditengah suara gemuruh rintiknya

Membisikkan rindu, membisikkan namaku

Tenang saja, sayang, pesan – pesan rindumu selamat sampai tujuan

Mereka jatuh dipelukanku

Luruh bersama air hujan, meresap ke pori-poriku

Membasahi jantungku, menenangkan denyut nadiku

 

Sayang, terus ku kumpulkan anak-anak rindu ini

Aku jaga dengan sepenuh hati

Aku beri mereka cinta yang luar biasa

Saat mereka dewasa nanti, di punggung mereka akan tumbuh sayap

Mereka akan membawamu kesini

Ke pelukanku

Mendekapku, meredakan hujan di mataku

Mendekapku, menghangatkanku dari gigil rindu

 

Posted in @me_gaa, Puisi | 2 Comments

Karena Senja

Karena Senja

Di bawah rindang pohon itu, kita pernah bersama, memadu cinta tepatnya, disekeliling orang yang tidak kita pedulikan.

Barangkali saat itu kita buta, dan hanya kamu yang kulihat didepan mataku, begitu pun matamu. Hingga tercipta mata-mata yang saling jatuh cinta.

Pagi itu memang sejuk, walau matahari kurang beberapa jengkal lagi tiba diatas kepala kita. Mungkin cinta yang menyamarkan perihnya hujaman sinar. Mereka yang disekeliling kita telah menggeliat karena siksa matahari. Itu salah mereka, kenapa tak saling cinta, bukan?

Kita lupa, tak jauh dibelakang kita terdapat sebuah mata air, yang ikut menyaksikan tingkah laku orang bercinta. Hingga airnya menggenangi sebuah cekungan besar, hingga tercipta kubangan besar yang didalamnya banyak kerikil cinta.

Kemarilah kekasih, daratkan padaku kecupan-kecupan yang lebih dingin dari airnya, cuaca disini hampir memanas. Bisikan sekali lagi kalimat-kalimat cinta ditelingaku. Sssttt! Jangan sampai mereka dengar, atau mereka akan seperti kita.

Ternyata benar, nikmat orang bercinta, melebihi nikmatnya berteduh dari panas matahari. Ternyata benar, kecupanmu mampu membuatku beberapa saat amnesia, tentang luka yang pernah kuterima.

Maaf, kuhentikan sejenak kecupanmu, cuma sekedar bertanya; akankah kita lakukan semuanya disini?

Sekarang tibalah giliranku, menjelajahi tiap inci tubuhmu dengan kecupku. Selamat menikmati, semoga engkau suka.

Wangimu terus membiusku, dari bangkai masa laluku. Dan kini aku lupa, apa itu duka, sayang.

Cukup sekian cerita cinta kita hari ini, senja mulai mengintip dari balik dedaunan, sungguh nakal. Sampai tetesan liurnya pun menetes di kulitku.

Dekapan kita pun mulai melepas, begitupun bibir kita, mulai berpisah. Sebenarnya berat mengakhiri semua ini. Dan semuanya mulai berdarah lagi, rindu..

Posted in @aizpangeran, Prosa | Leave a comment

Seruan Satu Nafas

Seruan Satu Nafas
Rayinda Kinanti

Aku merasakan hembusan lembut pada leher bagian belakang.
Perlahan dan lalu menghanyutkan…Aku merasakan dekapan tegap kedua lenganmu.
Membuat tubuhku merasa nyaman dipelukmu…

Aku rasa aku harus berbalik agar dapat menatap mata indahmu..
Menyentuh pipimu…
Berjingkat sedikit lalu mendekati wajahmu
Semakin dekat semakin menggebu…

Aku tak ingin memulai terlebih dulu!
Kubiarkan kau melumat penuh bibirku,
Merasakan basah-basahnya disana..
Menghapus kepedihan yang kurasa
Dan lalu kita bersatu, satu nafas..
Menyerukan cinta, satu suara..

Ah Kekasihku!

Posted in @nankinann, Puisi | 1 Comment

Kisah Kupu-kupu dan Mawar

Kisah Kupu-kupu dan Mawar
Dian Megawati

Aku menemukanmu, sebagai seekor kupu-kupu
Bermain-main di hamparan mawar pink selepas musim dingin berlalu
Menjejakkan kaki-kaki mungilmu itu di atas kelopak-kelopak bebunga itu
Dengan sabar membantu putik dan benang sari bersatu, agar mawar tak layu

Akulah mawar, yang dengan sabar menanti
Apa kau tak takut pada duri-duriku yang tajam seperti belati ?
Tapi percayalah sayang, aku tak mampu tuk menyakiti
Dan kau juga akan berhati-hati agar tak membuatku terluka nanti, bukan ?

Kau tetap kupu-kupu itu
Indah, namun aku tak sanggup untuk membuatmu terus disini
Menemaniku, menghapus semua perihku
Ku biarkan kau terbang, untuk kembali, suatu saat nanti

~ Februari 2011

Posted in @me_gaa, Puisi | Leave a comment